Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Mencari Alasan


__ADS_3

Mata Martin memburam, bersamaan dengan kepalanya yang berdenyut sakit. Namun dia ingin menyetir sendirian sore ini, meminta Seth untuk membatalkan dua jadwal, karena Martin ingin sendirian tak mau diganggu.


Dia masih terus terngiang-ngiang dengan ancaman Sophie tadi siang. Tentang rencana Sophie untuk menikahkan dirinya dengan Petrina, dan Karen harus setuju atau dia akan diusir.


Martin tidak bisa membayangkan hal-hal buruk tersebut. Dia sangat mencintai Karen, bahkan rela membeli sebuah obat terlarang yang sangat beresiko membuatnya di penjara, hanya agar bisa lebih lama dengan Karen. Dia juga rela mengancam Karen, rela menghabisi Ray, demi bisa menikah dengan Karen.


Segala pengorbanan yang telah dia lakukan, tak mau dia lepas begitu saja. Dia ingin berjuang, tapi dia tak punya pilihan.


Martin tiba-tiba membanting setir, menepi secara mendadak. Setelah mengatur emosi dan matanya yang buram, dia mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


“Bisakah kita bertemu?” tanya Martin pada seseorang di telepon.


Kemudian dia menutupnya, setelah yakin mendapatkan jawaban. Susah payah Martin berusaha mengendalikan laju mobilnya, melaju pesat melewati jalanan kota yang gemerlap, menuju apartemen mewahnya yang tak jauh di depan.


“Sudah lama?” tegur Martin, ketika melihat Petrina berdiri diam di depan pintu apartemennya.


Petrina menautkan alis, dan tersenyum hangat.


“Tidak ada yang membukakan pintu,”


Martin mengerutkan kening. “Mungkin Karen masih ada urusan di kampus,”


Kemudian pria itu mempersilahkan Petrina untuk masuk, dengan sikapnya yang lebih ramah daripada tadi pagi saat pertama mereka bertemu.


“Rumahmu sangat tenang dan rapi. Sesuai dengan kepribadian istrimu,” komentar Petrina, dengan pandangan mengelilingi seluruh isi ruangan mewah itu.


“Istriku memang yang terbaik,” balas Martin. Dia melempar tasnya sembarangan ke segala arah, dan segera duduk di sofa sambil memegangi kepalanya yang terus terasa sakit.


Petrina sedikit cemas, dan dia ikut duduk di samping Martin.


“Kenapa?” tanyanya, hendak memegang kening Martin, namun segera ditepis pelan.


“Aku belum bisa, Pet,” Martin menggeleng dengan wajah pucat pasi.


“Apa yang terjadi?” Petrina kebingungan. “Kamu juga tiba-tiba menghubungiku. Apa yang sebenarnya terjadi?” cecar Petrina, mulai ikut tegang.

__ADS_1


Martin memandang kedua mata indah Petrina, dengan wajahnya yang pucat dan depresi.


“Sophie mengancamku, dan aku tidak punya pilihan,” jawab Martin. “Kamu tahu, kita tidak bisa hidup tanpa uang, kan?”


“Aku tahu,” Petrina mengangguk, berusaha memahami situasi. “Itu sebabnya, aku mencoba melihat perjodohan ini dari sisi yang positif,”


“Aku sangat mencintai Karen. Aku tidak mungkin menduakannya,” ujar Martin. “Tapi aku juga tidak ingin melepaskan hartaku,”


Petrina tersenyum simpul penuh maksud. “Orang-orang seperti kita, ditakdirkan tidak pernah merasakan cinta, Martin,”


“Kita tidak berhak merasakan jatuh cinta. Bahkan saat kita ingin menikah, kita harus mempertimbangkan untung rugi bisnis di dalamnya,” jelas Petrina, lurus menatap ke arah Martin.


“Kita hanya perlu mengikuti permainan, tanpa ada perasaan di dalamnya. Apakah itu cukup sulit bagimu?” tanya Petrina. Dia lalu meneguk segelas anggur yang telah disiapkan Martin.


Tatapan Martin menerawang menatap keramik marmer di bawahnya.


“Bagaimana, jika di tengah jalan, aku mencintaimu?”


Pertanyaan mendadak itu membuat Petrina tersentak. Dia membeku, tetap memandang lurus ke setiap detil fisik Martin.


Pelan-pelan dia menggeleng. “Aku tidak bisa menjawabnya,”


Martin hanya diam, dengan matanya yang melebar. Dia tidak pernah mendapatkan ini sebelumnya. Martin selalu menjadi yang paling dominan dan memulai, tapi kali ini, Petrina sungguh diluar kebiasaan.


Martin tidak berusaha menjauh, tapi justru makin menikmati ******* wanita itu, yang sensasinya sungguh diluar dugaannya. Dia bahkan sampai memejamkan mata hanya untuk menikmati kehangatan ini.


Tangan Martin mulai mencoba mencari pegangan, dengan merangkul pinggang ramping Petrina yang dia tarik ke depan, bersentuhan hangat dengan tubuhnya. Petrina sedikit berseru, dan semakin mempererat jalinan bibirnya bersama Martin.


Mereka terus menjelajah. Bibir dan kedua tangan Martin tak mau berhenti bergerak. Dan tanpa disadari, kini Petrina tak memakai busana sehelai pun. Dengan nafas memburu, keduanya saling pandang untuk memberikan jeda pada tubuh masing-masing untuk mencerna kenikmatan itu.


“Kamu yakin, Martin?” tanya Petrina.


Martin masih berusaha menguasai nafasnya. “Harusnya aku yang bertanya. Apa aku boleh melakukannya?”


“Kamu harus segera punya anak,” jawab Petrina.

__ADS_1


“Kurasa, kamu bisa mewujudkannya,” Martin kembali mengulum bibir Petrina.


Dan kali ini, dia makin membiarkan tangannya menjelajah setiap inci tubuh Petrina, yang membuat Petrina mengerjapkan matanya berulang kali.


Dengan beringas Martin segera melepas pakaiannya sendiri, dan tanpa menunggu aba-aba, dia mulai masuk pada permainan inti. Petrina mendekap erat tubuh Martin, saat pria itu menyelesaikan tugasnya, masuk ke dalam tubuh Petrina yang dalam.


“Martin?!”


Martin dan Petrina spontan menoleh, ketika mereka mendapati Karen berdiri membeku tak jauh di depan mereka. Wajah Karen membiru, dengan ponsel di tangannya yang langsung terjatuh karena tak menyangka dengan pemandangan yang ada di depan.


Martin melompat turun dari tubuh Petrina, segera menyambar apapun yang ada di jangkauannya. Dia hendak menghampiri Karen, namun wanita itu makin mundur seakan jijik melihat Martin.


“Karen, ini tidak seperti dugaanmu,” Martin berusaha memberi penjelasan.


Karen terus mengacungkan kelima jari, sama sekali tak mau menatap wajah Martin. Dia bahkan menutup mata rapat-rapat.


Petrina buru-buru mengambilkan celana dan baju Martin, agar pria itu bisa segera memakai busana yang lebih baik dan menjelaskan semuanya pada Karen.


“Aku harus pergi,” Karen memutar arah, berlari secepat yang dia bisa keluar dari apartemen.


Martin tidak mau menyerah. Dia ikut berlari mengejar Karen, yang dengan gampang berhasil dia dapat di depan pintu.


“Karen, aku akan jelaskan,”


“Tidak perlu!” Karen menepis tangan Martin. “Aku sudah melihat dengan kedua mataku, jadi tidak ada yang perlu dijelaskan,”


Martin kembali menarik tangan Karen. “Kamu tahu, kita sedang berada di bawah ancaman,” ujar Martin. Rautnya kembali depresi seperti saat pertama bertemu Petrina di apartemen.


“Sophie mengancam akan membunuhmu, jika aku tidak menikah dengan Petrina,” jelas Martin.


Karen menyunggingkan senyum menyedihkan. “Dan kalian belum menikah. Apa kamu mau mencoba kesuburannya, dan memutuskan untuk menikah setelah dia terbukti hamil?”


Martin mencengkeram kedua bahu Karen. “Kita tidak punya pilihan, Karen! Aku ingin kamu selamat dan aku tidak mau berpisah denganmu!”


“Kamu hanya mau hartamu, Martin! Jangan menjadikanku tameng atas tindakan rakusmu!” bentak Karen, sangat marah.

__ADS_1


Bukannya menyesal, Martin justru makin tersulut emosi melihat reaksi marah dari Karen. Dia tekan tubuh wanita itu ke dinding, dengan satu tangan yang mencengkeram pipi Karen.


“Kamu sengaja marah begini, agar bisa mencari alasan untuk pergi, kan? Agar kamu bisa kembali ke mantan suamimu itu, kan?” hardik Martin penuh kecurigaan.


__ADS_2