
Tekad Paul kali ini sudah bulat. Sambil menggenggam erat sebuah berkas di tangan kanan, dengan didampingi Lukman sang asisten, Paul mendatangi kediaman Sophie pagi ini. Tak ada raut santai di wajahnya. Yang ada hanya ketegangan, seakan sudah siap dimuntahkan di depan wajah Sophie di detik pertama mereka berhadapan.
Sophie sedang santai meminum teh bunga krisan miliknya, ketika Paul mendobrak masuk. Sophie tampak tenang, seperti memang sedang menunggu kedatangan Paul. Tanpa menunggu lama, Paul melempar berkas di tangannya ke meja kerja Sophie. Wajahnya menyiratkan kemenangan.
"Ayo kita bercerai. Diego anak kandungku," Paul menunjuk berkas itu, mengisyaratkan Sophie untuk membukanya.
Dengan tenang Sophie membuka berkas itu, mulai membaca satu per satu kata yang tertera, tentang hasil tes DNA pada Diego Willis, anak laki-laki Sierra. Sophie lalu membalas tatapan muak dari Paul padanya, dengan senyuman penuh maksud.
"Kamu yakin ingin menceraikanku?" tanya Sophie.
Tak lama, salah seorang pelayan Sophie masuk ke dalam ruang kerja, menyuguhkan teh bunga krisan dan dessert ke hadapan Paul. Sophie mempersilahkan Paul untuk duduk.
"Aku sudah capek bertengkar denganmu. Mari kita bicara baik-baik," ajak Sophie.
Nafas Paul masih naik turun penuh emosi. Namun sikap balasan Sophie yang tenang, membuat gemuruh di dada Paul perlahan mulai melambat. Dia pun setuju untuk duduk di sofa besar yang disediakan di ruang kerja Sophie.
"Sebaiknya kita memang berpisah. Puluhan tahun hidup bersandiwara itu melelahkan, Sophie," ucap Paul pelan.
Sophie tersenyum. "Bukankah kehidupan kelas atas seperti kita memang melelahkan? Aku menikahimu demi menjaga reputasi keluargaku. Begitu juga denganmu,"
"Tapi tindakanmu membawa Martin itu keterlaluan. Kamu ingin aku menghidupi seorang anak yang jelas-jelas bukan darah dagingku,"
"Kamu yakin?" Sophie memandang Paul dengan seringaian penuh kelicikan.
Paul mengerutkan kening bingung dengan respon Sophie. "Kita bahkan tak pernah saling menyentuh,"
Sophie menyeruput teh krisannya yang mulai habis. "Bagaimana jika Martin adalah anak kandungmu?"
Paul tertawa lepas. "Berhenti membohongiku, Sophie! Siapapun tahu, tidak mungkin dua orang yang tidak pernah berhubungan bisa menghasilkan anak," hardik Paul mulai kesal.
Diluar dugaan, Sophie ikut tertawa lepas. Dia lantas berdiri, mendekat ke arah Paul.
"Bagaimana jika dalam kondisi mabukmu, aku datang dan memaksamu untuk menanam benih di badanku? Apakah kamu yakin bisa sadar dalam keadaan mabukmu yang selalu parah itu?"
Seketika tawa di wajah Paul memudar. Sophie tentu sangat tahu kebiasaan buruk Paul saat mabuk. Pria tua itu akan benar-benar tidak sadar tentang tindakannya, bahkan keesokan hari saat dia bangun. Paul bisa melupakan kejadian apapun saat dia mabuk.
__ADS_1
Sophie tampak puas melihat perubahan ekspresi Paul. Dia merasa menang kali ini.
"Jangan menipuku lagi. Aku pernah memeriksa DNA Martin, dan dia sama sekali bukan anakku," Paul menolak untuk terhasut. Dia menyambar secangkir teh di hadapannya untuk meredam emosi.
Sophie masih tersenyum licik. "Kamu tahu, aku bisa melakukan segalanya jika ingin. Apa kamu tidak berpikir jika aku menukar hasil tesmu?"
"Berhenti bicara gila, Sophie!!" bentak Paul.
Sophie justru makin senang mendapat respon dari Paul. Dia bahkan tampak sangat bersemangat.
"Tamara?" ujarnya lantang. "Bagaimana dengan Tamara? Bukankah kekasihmu itu melahirkan anak darimu?"
Bola mata Paul melebar ketika Sophie menyebut satu nama, Tamara. Ada sentilan sakit di ulu hatinya ketika dengan gamblang Sophie berusaha mengorek luka lama yang mati-matian dikubur oleh Paul.
"Anak itu sudah mati," tandas Paul lirih.
Sophie mengangkat dagunya, masih berjalan mondar-mandir di depan Paul.
"Kamu yakin anak itu mati?" tanya Sophie.
Paul mengangguk dengan raut wajah yang berubah sedih.
Paul menggeleng, memejamkan mata. "Tidak mungkin aku tega melihatnya,"
Atmosfer yang menyelimuti mereka berdua mendadak sedih, tapi seketika buyar ketika Sophie tiba-tiba tertawa menggelegar. Seperti seorang penyihir yang baru saja berhasil merapalkan mantranya.
"Kamu memang pria bodoh, Paul. Pria bodoh yang selalu menikahi wanita miskin," olok Sophie.
Tatapan Paul menajam, hendak membalas Sophie. Namun wanita itu mengarahkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Paul untuk diam. Kemudian dia bergegas meraih berkas yang dia simpan di laci meja. Sophie segera memberikan berkas itu pada Paul yang tanpa pikir panjang membukanya.
Di sana Paul bisa membaca, hasil tes DNA atas nama Martin Willis dan dirinya, yang hasil akhirnya menunjukkan angka 99,8%, yang artinya kecocokan mereka nyaris sempurna.
Tangan Paul mendadak lemas seketika. Dia bahkan tak sadar berkas itu sudah melayang jatuh dari genggamannya. Tapi Paul berusaha berpikir positif. Dia menatap Sophie dengan enteng.
"Mudah bagimu membayar seseorang untuk memalsukan ini semua," sanggah Paul.
__ADS_1
Sophie mengangkat bahu. "Silahkan buktikan. Buktikan apapun. Apapun yang bisa meyakinkanmu, bahwa bukti ini adalah asli,"
Paul menggeleng, melotot tajam sambil menuding Sophie.
"Kamu ... " Dia bahkan tak sanggup melanjutkan ucapannya. "Lukman!!" Kemudian berteriak memanggil sang asisten.
"Ambil berkas itu, dan selidiki sekarang juga!!" bentak Paul, menunjuk berkas yang jatuh di bawah kakinya.
Lukman pun bergegas meraih berkas itu, dan segera pergi meninggalkan ketegangan antara Paul dan Sophie.
Masih dengan tatapan tajamnya, Paul mendekati Sophie. Dia tarik kerah baju Sophie penuh murka.
"Jika berkas itu terbukti benar, maka aku akan ... "
"Akan apa?" sambar Sophie, menantang. "Kamu tidak bisa menceraikanku begitu saja, Paul,"
Paul hampir saja mendaratkan tamparannya ke pipi Sophie yang seakan tak sabar menerima kekerasan itu. Tapi beruntung, akal sehat Paul masih bekerja cukup waras. Dia tidak bisa melawan Sophie dengan kekerasan.
"Apa tujuanmu? Kenapa kamu melakukan semua ini?" cecar Paul, tak mengerti dengan segala muslihat licik yang direncanakan Sophie.
"Tuan?" Lukman masuk ke dalam ruangan, berhati-hati memanggil tuannya.
"Bagaimana? Apa kamu sudah memastikan keasliannya?" tanya Paul tak sabar.
Lukman memandang Paul dan Sophie bergantian. Dia tampak sangat ragu untuk bicara, mengingat tekanan yang menimpa punggungnya. Tapi Paul tampak tidak bisa menunggu lama. Dia terus mendesak Lukman agar mau bicara.
"Maaf, Tuan,"
"Lanjutkan! Jangan membuatku menunggu!"
Lukman menggigit bibir. "Berkas ini asli, Tuan. Tuan Martin ... benar-benar anak kandung Tuan," jawab Lukman.
"Hahahaha!!" Menggelegarlah tawa Sophie, penuh kemenangan. "Mampus kamu, Paul! Kamu itu memang pria bodoh, tak akan bisa menceraikanku," tawanya girang.
Berbeda dengan Sophie yang senang nyaris bertepuk tangan, Paul justru diam membeku. Kakinya seakan lemas, tak mampu menopang tubuhnya hingga gemetaran.
__ADS_1
Sophie berjalan mendekat, berbisik di telinga Paul yang tampak masih syok.
"Tiga puluh tahun lebih, kamu memperlakukan anakmu sendiri seperti musuh. Kamu tentu tahu, betapa dia membencimu saat ini," bisik Sophie, menyeringai penuh kemenangan.