
“Sialan!!” umpat Sophie, membanting apa saja yang ada di depannya. Bahkan dia melempar ponselnya sendiri sekeras mungkin, hingga ponsel itu hancur berdebam beradu dengan kerasnya dinding.
Nafas Sophie saling memburu, kembang kempis hidungnya tak kuasa menahan amarah yang kini mulai menguasai seluruh tubuhnya sendiri. Setelah mendengar kabar dari dokter yang menangani Sierra, yang ternyata adalah mata-mata Sophie, kini Sophie tahu jika Sierra tengah hamil.
Tak hanya rencananya yang sekali lagi gagal, dia juga harus dihadapkan pada kenyataan jika akan datang pewaris baru kekayaan Paul Willis. Sophie tentu tak menyukai berita ini. Maka melalui asisten pribadinya, dia menyuruh Martin segera datang ke rumahnya guna membahas rencana lebih lanjut. Sophie yang semula cukup santai menunaikan tugas-tugasnya yang licik, sekarang mulai merasa harus waspada. Sierra ternyata cukup tangguh dan tak mudah dikalahkan.
***
Paul mengecup kening Sierra berkali-kali, dengan mata berbinar penuh rasa syukur. Bagaimana tidak? Berita kehamilan Sierra yang mendadak tentu membuat Paul sangat senang karena akhirnya dia bisa memiliki keturunan dari garis darahnya sendiri. Meskipun Sierra baru saja mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawa, Paul masih bisa sedikit bersyukur karena baik Sierra maupun janinnya selamat.
“Tuan,” panggil Lukman, yang pelan-pelan masuk ke dalam kamar. Dia menunduk patuh ke arah Paul.
“Sudah dapat siapa pelakunya?”
Lukman sekali lagi menunduk. “Kami telah menginterogasi sopir truk, dan mendapatkan satu nama,”
Paul segera bangkit berdiri. Tatapannya tajam dan serius, siap untuk mendengarkan kemungkinan terburuk.
“Seorang pria, asisten pribadi Nyonya,”
“Brengsek!” Paul mengumpat keras ke udara. Kemudian dia kembali memelankan suara, takut Sierra terganggu.
Mengetahui jika Sophie secara terang-terangan mengakui sebagai dalang dibalik percobaan pembunuhan atas Sierra, membuat darah Paul mendidih hingga keubun-ubunnya. Kemudian dia meminta Lukman untuk menghubungi Martin dan Karen, tujuannya supaya ibunya, Sophie, tidak menemui Martin untuk merencanakan pembunuhan selanjutnya.
“Martin harus tahu kabar Sierra,” ucap Paul pada Lukman, yang disambut anggukan patuh.
Satu jam setelah Lukman menghubungi Martin, akhirnya Martin dan Karen sampai juga di rumah sakit. Raut wajah Martin tampak sangat khawatir saat melihat Sierra terbaring lemah tak sadarkan diri, dengan banyak perban di wajah dan anggota tubuhnya. Setelah mendengar cerita dari Lukman, Martin tentu kaget dan tak menyangka jika ibunya akan bertindak sejauh ini hanya demi menyingkirkan Sierra.
“Sierra hamil,” ujar Paul yang sedari tadi duduk diam di pojok ruangan, memandangi anaknya yang menangis sambil menggenggam erat tangan calon istrinya.
__ADS_1
Martin dan Karen menoleh bersamaan, sama-sama melotot lebar.
“Apa maksud Ayah?”
Paul bangkit dari duduknya, memasang wajah angkuh dan penuh kemenangan, meskipun ini bukanlah saat yang tepat.
“Dia hamil anakku,” jawab Paul. “Anak kandung Paul Willis,”
Bola mata Martin yang melebar mulai gemetaran, terlihat dari lirikan Karen tepat setelah Paul mengucapkan berita besar itu. Karen menyentuh pelan bahu Martin, berusaha untuk menenangkannya.
“Kuharap wajah cemasmu ini karena dia adalah calon ibumu, bukan karena yang lain,” ucap Paul, lalu pandangannya beralih pada Karen. “Kamu telah memiliki permata indah meski hasil curian,”
Dia menyunggingkan separuh senyuman, menatap Karen dan Martin bergantian seakan sengaja ingin memancing kemarahan. Namun Karen terus menerus mengelus bahu Martin, mencoba untuk meredakan amarah Martin yang tampak ingin segera dimuntahkan.
“Ibumu pikir, dia akan menang melawanku. Dia tidak sadar, jika dia telah menggali lubang kuburnya sendiri,” ucap Paul, lurus memandang Martin.
“Sebentar lagi kalian akan kehilangan segalanya, karena telah berani mengusik calon istriku,” ancam Paul.
Bahkan Paul pun enggan mengakui Karen sebagai bagian keluarganya, terbukti dari nama belakang Karen yang masih dia panggil dengan nama keluarga Ray White.
“Persiapkan dirimu untuk menjadi istri dari seorang pria bangkrut,”
Martin sudah mengepalkan tinjunya, hendak maju, sebelum Karen menahan tangannya sekuat tenaga. Dia tak ingin ada perkelahian di dalam kamar seseorang yang sedang terbaring sakit. Tampak Paul melebarkan senyumnya, berjalan cepat meninggalkan ruangan, tak peduli dengan rasa sakit yang dialami Martin akibat segala ucapannya.
Sepeninggal Paul, Martin bersimpuh duduk di kursi kecil yang terletak di samping ranjang Sierra, sambil menjambak rambutnya sendiri berulang kali. Dia pukuli kepalanya, meringis merasakan kepedihan di hati. Segala kemewahan dan gelimang harta yang dia miliki sejak bayi, nyatanya tak pernah bisa membuatnya bahagia. Kebahagiannya telah direnggut total oleh seorang ayah, yang tak pernah mau mengakuinya sebagai anak.
Sekali lagi Karen melihat Martin dalam kondisi yang sangat menyedihkan, yang membuatnya kembali menumbuhkan sedikit rasa simpati, alih-alih dendam karena Martinlah yang telah memisahkannya dari Ray. Dia dekap pria yang kini menjadi suaminya itu, ke dalam pelukannya yang hangat, demi mencoba untuk ikut merasakan segala penderitaan yang dialami Martin.
Martin melingkarkan lengannya memeluk pinggang Karen, yang berdiri di depan memeluk tubuhnya. Dia menangis dalam dekapan Karen, sekali lagi mengijinkan wanita yang telah dia nikahi itu, untuk melihat kelemahannya sendiri. Detik ini dia kembali berjanji, dia tak akan membiarkan Karen jatuh ke pelukan siapapun.
__ADS_1
***
Brak!!
Paul membanting pintu kamar Sophie, sekerasnya hingga Sophie yang tengah membersihkan riasannya di meja rias, sedikit melompat karena kaget. Dia bangkit berdiri, berjalan menghampiri Paul yang tampak marah layaknya seseorang yang kesetanan.
“Ada apa malam-malam ke sini, Sayang?” tanya Sophie polos.
Paul tak tahan lagi. Dia tarik piyama satin nan mahal milik Sophie, mendekat ke wajahnya. Mata Paul melotot ingin keluar, saat bertatapan langsung dengan Sophie.
“Aku peringatkan, jangan pernah mencoba mencelakai Sierra lagi,” ancam Paul dengan nada berbisik.
Sophie mengerjapkan mata, untuk kemudian tersenyum licik.
“Memangnya apa yang akan kamu lakukan, Sayang?” tanyanya menantang.
Sekali lagi Paul menarik piyama Sophie. “Puluhan tahun aku menahan segalanya, tapi untuk kali ini tak akan kubiarkan,”
Sophie tertawa lirih, sama sekali tak bereaksi dengan ancaman Paul.
“Hanya demi seorang anak yatim piatu, kamu rela mengancam istrimu sendiri?” tantangnya.
Paul menggeleng. “Kamu bukan istriku,”
“Tapi seluruh negeri tahu, hanya akulah wanita pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Willis,” ucap Sophie pelan, dengan senyuman yang terus saja dia tunjukkan tanpa takut di hadapan Paul.
“Itu sebelum Sierra datang ke dalam hidupku,” tanggap Paul. “Tapi kamu tentu tahu, bumi itu terus berputar. Segalanya bisa berubah,” lanjutnya.
Kemudian dia memanggil Lukman, yang ternyata sejak awal telah berdiri di balik pintu kamar Sophie, menunggu perintah Paul untuk masuk ke dalam. Asisten pribadi Paul itu membawa sebuah berkas yang kini diberikan dengan santun pada Sophie.
__ADS_1
“Tanda tangani dokumen itu,” perintah Paul. “Kita akan resmi bercerai,”