Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Membalasmu


__ADS_3

Kamala membelalak, tak percaya dengan pertanyaan Karen, yang menurutnya cukup tak pantas untuk ditanyakan. Apakah penting bagi Karen, untuk tahu seperti apa hubungannya dengan Ray? Setidaknya nada protes itu terus digaungkan Kamala di dalam batinnya. Meski begitu, dia mencoba ramah dengan mempersilahkan Karen untuk masuk dan duduk di dalam rumah.


Mendapat perlakuan Kamala layaknya tamu di dalam mantan rumahnya sendiri, membuat Karen merasa tak senang. Ini adalah rumahnya bersama Ray, yang telah mereka tinggali lebih dari tiga tahun lamanya. Tapi kini, seorang wanita muda memperlakukan rumah itu layaknya rumahnya sendiri.


“Aku akan menghubungi Om Ray, jadi Nona Karen sementara tunggu di sini,” ucap Kamala ramah, lalu mengeluarkan ponselnya.


“Tak perlu,” sahut Karen, ikut mengeluarkan ponselnya. “Aku sendiri yang akan menghubungi Ray,”


Karen mulai memencet layar ponselnya, dan menghubungi Ray. Namun, dari sayup-sayup suara samar yang dapat didengar Kamala, ada notifikasi pemberitahuan tentang nomor Ray yang sudah tidak aktif. Demi menjaga gengsinya sendiri, Karen memasukkan ponselnya dengan wajah seakan tak terjadi apapun. Kamala sekuat tenaga menahan geli.


“Aku akan hubungi Om Ray,” ucap Kamala, sedikit tersenyum seakan mengejek Karen.


Karen mengangguk, tetap tak mau tampak lemah di depan Kamala. Setelah wanita muda itu menghubungi Ray, dia pamit masuk ke dalam dapur di rumah Ray, tetap bersikap selayaknya rumah sendiri. Karen geram. Ekor matanya terus membuntuti punggung Kamala, ingin menegur namun tak kuasa.


Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, Ray datang tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumahnya. Karen seketika berdiri dengan senyum lebar, saat melihat Ray. Betapa dia merindukan pria ceroboh yang pernah menjadi belahan jiwanya itu. Namun tak demikian dengan respon Ray. Wajahnya menegang, sedikit kusut dan diliputi awan kesedihan saat tak sengaja bertatap muka dengan Karen.


“Bisakah aku bicara berdua saja denganmu?” ajak Karen, harap-harap cemas.


Ray tak buru-buru menjawab. Dia mengalihkan pandangannya pada Kamala yang setengah badannya tampak timbul dari balik dinding dapur, sangat ketara bahwa dia sedang menguping pembicaraan Ray dan Karen. Lalu Ray kembali menatap Karen dengan tatapannya yang dingin.


“Bicara saja di luar,” timpal Ray, mulai berjalan cepat keluar dari rumahnya, dengan Karen yang menyusul di belakang sambil tak henti-hentinya tersenyum.


Ray mengajak Karen untuk duduk di kursi halaman depan, yang sejak dulu memang sudah diletakkan Ray di sana atas permintaan dari Karen. Mantan istrinya itu tak menyukai tamu yang masuk ke dalam rumah mereka, maka Ray menempatkan dua kursi minimalis di halaman depan untuk para tamu yang datang ke rumah mereka.


Karen mengelus lembut kursi itu, seakan dengan sentuhan, dia akan mendapatkan memori indah tentang rumah tangganya bersama Ray.


“Ternyata kamu masih menaruhnya di sini, ya,” ujar Karen, tersenyum mengingat masa lalu.

__ADS_1


Ray tersenyum kecut. “Aku tak akan membuang benda mati yang tak bersalah,”


Karen menelan ludah saat mendengar sahutan ketus dari Ray. “Tapi aku cukup senang kamu masih mempertahankannya untukku,”


“Apa yang kamu inginkan?” potong Ray cepat. Seakan dia risih mendengar topik pembicaraan Karen.


Kemudian Karen membuka tas dan memberikan kartu undangan pernikahannya pada Ray.


“Aku tak banyak berharap kamu akan datang, tapi … dia ingin menikahiku,”


Ray enggan menerima kartu undangan itu. “Apa kamu mengejekku sekarang?” tanyanya dingin.


Karen menggeleng cepat. “Justru aku ingin yang lain,”


Dia mengusap air mata yang sedikit menggeneng di pelupuk matanya. Kemudian kembali menatap Ray dengan mata yang berkaca-kaca.


Ray tiba-tiba tertawa. “Setelah semua yang terjadi, kamu ingin mengajakku lari dari kenyataan?”


“Keluarga Willis sedang kacau, dan mereka tak akan memperhatikan orang seperti kita. Martin tak akan tahu,”


“Apakah kamu pernah memikirkan perasaanku?” hujam Ray. “Aku yang tak tahu apapun, tiba-tiba kamu tinggalkan begitu saja,” Ray menatap tajam Karen, mulai memuntahkan segala hal yang mengganjal di hatinya.


“Sampai kapan kamu akan selalu lari dari kenyataan? Setiap segalanya terasa rumit, kamu selalu kabur begitu saja,”


“Aku hanya tak ingin Martin mencelakaimu,” isak Karen, membela diri.


“Apakah menurutmu aku selemah itu?” sahut Ray. “Kalau aku pria lemah, aku tak akan rela diusir keluargaku untuk menikah denganmu, Karen,”

__ADS_1


Tangis Karen makin menjadi. “Aku … aku tak tahu kalau Martin telah menjebakku,”


“Kenapa kamu tak jujur padaku saat kita masih bersama? Kita bisa kabur saat itu juga, dan aku bisa membawamu ke tempat aman,” lanjut Ray, mencecar Karen dengan segala tuntutannya. “Kenapa kamu datang, setelah kamu menikmati segala kemewahan darinya?”


“Karen … “ Ray merendahkan suaranya, ketika sadar Karen makin terisak. Dia pandangi mantan istrinya itu dengan tatapan sedih. “Kamu tak pernah mencintaiku. Berhentilah memberontak kata hatimu sendiri,”


Karen menggeleng, sambil terus terisak menyedihkan. “Aku mencintaimu, Ray. Aku rasanya ingin mati saja tanpamu,”


Ray tersenyum getir. “Menikahlah dengannya. Dia lebih menginginkanmu daripada aku,”


Kemudian dia mulai beranjak bangkit, memutar badan hendak masuk kembali ke dalam rumah. Buru-buru Karen mencegah Ray dengan menahan tangannya. Wanita berparah cantik itu terus menangis, enggan menghentikan tangisannya.


“Kumohon, Ray. Aku tak ingin menikahinya. Aku ingin kembali padamu,” isak Karen. “Mari kita pergi bersama, keluar negeri, atau kemana pun yang tak bisa dijangkau oleh Martin,”


Ray diam, rautnya dingin dan tampak tak tersentuh dengan segala rengekan dan bujuk rayu dari Karen. Pandangannya justru diedarkan ke sekeliling, kembali memergoki Kamala yang diam-diam menguping dari balik dinding ruang tamu. Tanpa disadari, Ray sedikit menyunggingkan senyum, melihat sikap kekanakan Kamala.


“Pulanglah, Karen … “ usir Ray lembut.


Karen ikut berdiri, menatap Ray dengan kedua matanya yang membengkak. Mata dan wajahnya memerah, habis oleh tangisan yang tak mau berhenti.


“Aku tahu kamu juga masih mencintaiku, Ray. Tapi kenapa kamu sekejam ini?” tuntut Karen, tak mau menyerah.


Perlahan dia mulai berjalan mendekat, membaur dengan punggung Ray yang membelakanginya dengan dingin. Karen menyentuh lembut punggung itu, yang dulu selalu hangat namun kini berubah sangat dingin tak tertembus. Makin lama Karen makin melilitkan kedua lengannya ke pinggang Ray, memeluk punggung yang telah lama dia rindukan.


“Mari kita kembali bersama, Ray … “ lirih Karen putus asa. “Aku tahu kamu masih mencintaiku,”


Ray melepas lilitan kedua lengan Karen di pinggangnya, kemudian memutar tubuh agar keduanya dapat berhadapan. Wajahnya masih mengeras, tampak tak terenyuh sedikit pun.

__ADS_1


“Kamu salah, Karen,” ucap Ray. “Sebentar lagi aku juga akan menikah … dengan Kamala,”


__ADS_2