Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Ancaman Sophie


__ADS_3

Sierra terbangun, ketika dia menyadari sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai tebalnya. Dengan mata setengah terbuka, Sierra mencari-cari outer yang dia buang sembarangan di meja sisi ranjang besar itu, ketika pinggangnya tiba-tiba ditarik supaya dia kembali berbaring.


“Mau kemana, Si?” ujar Paul dengan nada malasnya. Dia endus leher Sierra beberapa kali.


“Aku tak bisa tidur dengan cahaya,” Sierra berusaha melepaskan pelukan Paul.


Sierra menghabiskan waktu semalaman bersama Paul, di dalam sebuah hotel bintang mewah yang letaknya berada agak jauh baik dari rumah Sierra maupun Paul. Setelah mendapatkan ancaman pembunuhan dari Sophie, Paul mulai meningkatkan kewaspadaan akan keselamatan Sierra. Pria itu kini telah menyewakan dua bodyguard untuk Sierra, dan memilih bertemu di luar kota, cukup jauh dari jangkauan Sophie.


“Aku masih ingin memelukmu, Si,” gumam Paul, sama sekali tak berniat membuka matanya.


“Sebentar saja, Tuan. Aku hanya menutup tirai itu,” mohon Sierra, sama sekali tak bisa lepas dari pelukan erat Paul.


Paul sepertinya tak peduli, karena kini dia mulai menjarah seluruh area sensitif milik Sierra, yang membuat wanita itu menggelinjang keenakan.


“Tuan, hentikan, ini masih pagi,” rintih Sierra, mulai tak bisa mengontrol dirinya sendiri.


“Kamu mau?” tawar Paul, sedikit menggoda.


“Tapi hari ini Tuan cukup sibuk, kan? Apakah ada waktu?”


Paul bangkit berdiri, naik ke atas tubuh Sierra. “Apapun untukmu,” Dia mulai menunaikan tugasnya, dengan kelihaian bibirnya berusaha untuk membuat Sierra mabuk kepayang.


“Tuan … “lirih Sierra, mulai melayang hingga menggapai langit-langit mewah kamar hotel itu, bersamaan dengan tubuhnya yang tenggelam dalam buaian bersama Paul.


Hari ini, Sierra dan Paul akan banyak disibukkan dengan berbagai hal yang berhubungan dengan pernikahan mereka. Sierra ingin pernikahan yang mewah, bukan sembunyi-sembunyi layaknya seorang simpanan. Sedangkan Paul, bersama asisten pribadinya, Lukman, dia harus menata banyak hal, termasuk pertanyaan para pemegang saham dan wartawan yang pasti akan heboh ketika mendengar Paul akan menikah lagi.


Maka Paul sepenuhnya mempercayakan proses persiapan pernikahan, seperti gedung, gaun dan sebagainya, pada Sierra. Wanita itu akan dibantu oleh sekretaris Paul, Margaret, untuk mengecek berbagai rekomendasi vendor yang telah disiapkan oleh Margaret atas perintah Paul.


“Margaret akan ke sini menyusulmu,” ujar Paul, setelah dia selesai mandi dan mengenakan pakaiannya.

__ADS_1


Sierra yang sedang mengeringkan rambut, segera mematikan hair dryer agar dia bisa mendengar setiap ucapan Paul tanpa interupsi.


“Maaf, Tuan, ada apa?” tanya Sierra bingung.


Paul tersenyum simpul, lalu berjalan mendekati Sierra. Dia angkat dagu wanita itu agar bisa saling menatap.


“Setelah menikah nanti, berhenti memanggilku Tuan,” perintah Paul. “Kecuali saat bersama di ranjang,”


Sierra tersenyum dan mengangguk, kemudian mereka berdua kembali mengobrolkan banyak hal-hal penting yang harus mereka lakukan hari ini. Termasuk siasat supaya Sierra terhindar dari mata-mata Sophie.


“Aku ingatkan padamu, Sophie bukanlah wanita biasa,” ucap Paul sambil menikmati sarapan yang diantar khusus ke kamar mereka. “Dia mungkin tak sekuat fisikmu, tapi otaknya berbahaya. Dia akan melakukan segalanya untuk kepentingannya sendiri. Termasuk membayar harga diri seseorang,”


Sierra menggigit bibir mendengar penjelasan Paul. Meskipun dia pandai bela diri, namun dia tak pernah bisa membaca berbagai rencana licik yang bisa saja Sophie siapkan untuknya. Dia tak menyangka, seorang wanita konglomerat yang dia pikir hanya ahli berbelanja, ternyata bisa sangat mematikan.


“Tuan, kenapa Tuan membenci Martin?” tanya Sierra ragu.


Paul mengangkat satu ujung bibirnya, sambil terus mengunyah. “Aku tak pernah membencinya,”


Paul seketika menghentikan aktivitas makannya, dan menatap nanar piring dan hidangan yang ada tepat di depan matanya. Sierra yang sadar bahwa dia baru saja salah bicara, cepat-cepat meminta maaf dan membujuk rayu Paul supaya tak marah.


“Apakah kamu masih mencintainya?” tanya Paul tiba-tiba.


Sierra terkesiap, tak siap dengan pertanyaan Paul. “A-aku, tidak mencintai Martin, Tuan,”


“Bagus,” sahut Paul cepat. “Kalau kamu masih mencintainya, akan kuhilangkan dia dari dunia ini,” jelasnya enteng, tak peduli bahwa saat ini Sierra yang terkejut sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Kini Sierra tahu, dari mana Martin bisa mendapatkan sifat yang sangat posesif dan mau menangnya sendiri. Ternyata semua sifat-sifat itu, ketika Martin rela memisahkan Karen dari Ray, adalah turunan dari Paul.


“Tapi dia anak Tuan,”

__ADS_1


“Dia bukan anakku,” sambar Paul secepat kilat.


Setelah selesai sarapan dan bersiap, Margaret telah datang untuk menjemput Sierra dan pergi bersama menuju vendor-vendor yang telah dia saring dan tentukan. Paul berangkat terpisah dari Sierra, pergi bersama Lukman sang asisten pribadi. Sierra menaiki mobil bersama Margaret, dengan dua bodyguard yang duduk di jok depan. Pergi dengan banyak orang seperti ini membuat Sierra jauh dari rasa khawatir.


Sierra dan Margaret telah sampai di vendor baju pengantin pertama mereka, mulai memilih desain yang sesuai termasuk mencoba beberapa potong gaun. Mereka berdua berdiskusi serius, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke vendor kedua dan seterusnya. Meskipun ini bukanlah pernikahan pertama Paul, bagi Sierra pernikahan ini tetaplah pernikahan pertamanya. Dia ingin tampil secantik dan semaksimal mungkin, karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya yang berhasil menikah dengan konglomerat nomor satu di negeri.


“Margaret, kamu coba diskusi dulu sama owner, aku mau ke seberang mencari kopi,” ujar Sierra ketika mereka telah sampai di vendor ketiga.


“Ada apa, Nona Sierra? Apa perlu saya saja yang membeli kopinya?” tawar Margaret.


Sierra menolak halus. “Sepertinya aku butuh udara segar, karena tiba-tiba pusing. Berdiskusi dengan banyak vendor ternyata melelahkan, ya?” canda Sierra, yang dibarengi tawa oleh Margaret.


“Kalau begitu Nona jangan ke sana sendiri, biar mereka antar Nona,” Margaret memerintahkan dua pengawal untuk mengantar Sierra ke kedai kopi yang dituju Sierra.


Ketika mobil akan putar balik, tiba-tiba di arah depan mereka, sebuah truk tronton besar melaju cepat, tanpa kendali dan menabrakkan diri pada mobil milik Sierra, yang meskipun terdorong mundur, mobil itu masih bertabrakan dengan mobil lain di belakang mereka. Benturan itu cukup keras, tapi mobil berhasil tidak terbalik.


Dua pengawal Sierra jatuh pingsan dengan banyak luka, sementara Sierra yang terluka dari serpihan kaca mobil, merintih kesakitan dengan posisi lemas tak berdaya. Margaret berteriak histeris, tunggang langgang menghampiri mobil remuk itu. Orang-orang sekitar juga mulai panik, beberapa ada yang segera memanggil ambulans dan polisi.


“Nona, Nona!!” teriak Margaret, berusaha membuka pintu mobil, namun kesusahan.


***


“Sierra!!!” teriak Paul histeris, masuk serampangan mendorong orang-orang yang menghalangi jalannya.


Setelah proses evakuasi panjang, akhirnya Sierra dan dua pengawalnya dibawa ke rumah sakit terdekat. Dan kini Sierra telah aman berada di ruang VIP, namun masih tak sadarkan diri karena syok. Meskipun tubuh Sierra penuh luka dan diperban, tapi kondisinya masih utuh dan selamat tanpa luka dalam. Lutut Paul lemas, dia bersimpuh di samping ranjang Sierra yang memejamkan mata.


“Beruntung janinnya tidak terbentur, Tuan,” ujar dokter, berusaha menenangkan Paul.


Lutut Paul yang sebelumnya tak sanggup berdiri, tiba-tiba kuat kembali dan bangkit hanya untuk melotot tajam ke arah sang dokter.

__ADS_1


“Apa kau bilang? Janin?” tanya Paul sekali lagi.


Dokter mengangguk. “Iya. Nona Sierra sedang mengandung janin berusia 8 minggu, Tuan,"


__ADS_2