
“Aku sangat mencintainya, Ibu,” aku Ray, dengan wajah bersemu merah.
Rida membulatkan matanya, ikut tersenyum. “Ibu senang, jika itu bisa membuatmu bahagia, Ray,”
Namun raut wajah Ray berubah sendu. “Tapi … dia meninggalkanku,” ucap Ray singkat, penuh kesedihan.
Rida juga ikut memasang raut sedih. “Kenapa?”
“Dia tidak yakin aku tulus mencintainya,” jelas Ray.
Sebisa mungkin dia berusaha tersenyum, sambil memberikan apel yang sudah dia kupas kepada Rida.
Wanita tua itu dengan senang hati menerima apel kupasan Ray, sambil tersenyum bahagia. Rida, mantan mertua Ray, ibu dari Karen. Ray tidak pernah melewatkan hari kunjungannya, tiap sebulan dua kali. Bahkan setelah dia bercerai dari Karen, Ray tetap berusaha menghibur Rida yang kesepian.
"Ibu juga berharap, Karen merasakan hal yang sama," Raut wajah Ibu tiba-tiba sendu, setelah beberapa menit berhasil melepas tawanya bersama Ray.
Pandangannya tertunduk, kembali teringat akan Karen. Wanita itu merindukan anak perempuannya. Anak perempuan yang sudah tak pernah lagi mengunjunginya.
"Ibu sangat merindukan Karen … " isaknya, mulai menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis tersedu.
Ray merengkuh tubuh Rida, mengelus punggungnya berusaha menguatkan.
"Karen pasti punya alasan hingga belum bisa datang menjenguk Ibu," ucap Ray, berusaha menenangkan. "Tapi aku bisa jamin, Karen baik-baik saja,"
"Ray … " Dengan wajah berlinang air mata, Rida meraih kedua tangan Ray. Dia genggam tangan mantan menantunya itu, penuh harap. "Ibu mohon … Ibu mohon jangan biarkan Karen menangis lagi. Jangan biarkan Karen berlutut lagi demi cinta," pinta Rida lirih.
Ray menundukkan pandangan, tak sanggup menjawab. Dan melihat reaksi Ray, Rida makin menangis keras. Wanita tua itu menangis merindukan anaknya, sekaligus meratapi nasib Karen.
***
"Apa yang kamu lakukan?!" tegur Karen, berdiri menyadarkan dirinya di samping pintu kamar Rida.
Ray sempat tersentak kaget, tak menyadari jika Karen telah menguping pembicaraannya dengan Rida. Dia menarik tangan Karen menjauh dari kamar Rida.
"Sejak kapan kamu menguping di sana?" tanya Ray, dengan tatapan melotot kesal.
"Apa penting buatmu? Aku harusnya yang bertanya. Sejak kapan kamu rutin mengunjungi ibuku? Kamu sudah tak punya hak, Ray!"
__ADS_1
Ray menarik nafas. "Itu masih lebih baik daripada anak kandungnya yang tak pernah berkunjung," balas Ray.
"Aku punya alasan,"
"Apakah karena malu dengan suamimu yang kaya itu?" sambar Ray, yang membuat darah Karen mendidih.
Karen mendekatkan wajahnya, sedikit mendongak untuk menyamakan kedudukan dengan Ray yang tinggi.
"Bukan urusanmu, Ray. Berhenti untuk bersikap sok baik padaku dan ibuku," hardik Karen. "Aku tak butuh simpatimu,"
Kemudian dia melempar secarik kertas ke hadapan wajah Ray. "Dan jangan pernah ikut campur dalam biaya pengobatan ibuku,"
"Apakah begini caramu memperlakukan seseorang yang baik padamu, Karen? Kenapa kamu tak mau berhenti berpura-pura kuat? Kenapa kamu selalu menyembunyikan ibumu di hadapan duniamu?" Ray mencecar Karen dengan banyak pertanyaan yang membuat emosi Karen makin naik.
"Aku tidak mau berhutang pada siapapun, termasuk kamu,"
"Aku tidak pernah merasa dihutangi," timpal Ray. "Aku tulus menyayangi Rida, karena dia juga pernah menjadi ibuku,"
"Stop, Ray!" Karen tiba-tiba berteriak lantang, sambil memegangi kedua telinganya. Tampak depresi dari raut wajahnya kini.
Ray luluh. Dia tidak lagi mendebat Karen. Dia lebih memilih untuk meraih tubuh Karen, perlahan menyentuh punggung mantan istrinya itu. Dan tangisan Karen makin tak terbendung, ketika dia merasakan sentuhan tangan Ray di punggungnya.
"Kenapa kamu selalu bisa membuatku tampak menyedihkan, Ray? Kenapa kamu selalu berhasil membuatku menjadi pihak yang jahat?" keluh Karen, bersamaan dengan air matanya yang setitik demi setitik keluar dari pelupuk mata.
Ray menutup rapat bibirnya, enggan menjawab.
"Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Jadi kumohon, jangan selalu terlibat dalam masalahku," pinta Karen dengan mata sembab. "Berhenti tiba-tiba muncul dan menjadi sosok penyelamat untukku,"
Karen bergerak, memutar tubuh untuk meninggalkan Ray. Namun Ray menarik cepat tangan Karen.
"Apa yang terjadi?" tanya Ray cemas.
Tatapan Karen berubah nanar. "Berhenti mengurusi urusanku, Ray. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri,"
Dan kini, Ray melepaskan pegangannya dari tangan Karen, membiarkan wanita itu berjalan sempoyongan makin jauh darinya. Tampak Karen perlahan masuk ke dalam kamar Rida, tanpa sedikit pun mau menoleh ke arah Ray.
"Ray, kita harus bertemu," ucap Sierra dari seberang telepon.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
"Kita harus bicara langsung. Aku tidak bisa menjelaskan di telepon,"
Setelah mendapatkan panggilan mendadak dari Sierra, Ray bergegas meninggalkan panti jompo untuk segera menemui wanita itu. Jantung Ray berdegup kencang, karena Sierra tidak mungkin menghubunginya, jika tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Dan mereka memutuskan untuk bertemu di restoran tempat biasa mereka bertemu, berdua saja.
Sierra tampak mengenakan pakaian serba tertutup, bahkan memakai kacamata hitam seakan sedang dimata-matai. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu mencondongkan tubuh ke depan mendekati Ray.
"Martin akan menikah lagi … " bisik Sierra.
Bola mata Ray melebar, selebarnya. Jantungnya yang tadi sempat berdegup kencang, kini mencelos jatuh ke perutnya.
"Kamu serius?"
Sierra menyodorkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto pernikahan Martin dengan seorang wanita, yang diadakan secara sederhana.
"Ini semua pasti rencana Sophie. Aku tidak tahu pasti apa rencananya, tapi Martin tidak mungkin mengkhianati Karen,"
Ray tidak menimpali. Dia kembalikan ponsel Sierra, dan kini dia diam seribu bahasa dengan banyak pikiran yang terlintas di kepala.
"Sierra … " panggil Ray, setelah cukup lama diam. Dia menatap Sierra lurus dan tajam. "Aku akan menjebloskan Martin ke penjara, karena telah menculik istriku,"
"Tapi Ray, kamu tahu sendiri kalau Karen menolak untuk bersaksi," tanda Sierra.
Ray menggeleng, masih dengan wajahnya yang serius. "Aku akan menggunakan cara lain. Aku akan menghancurkannya,"
Sierra menelan ludah, melihat perubahan reaksi Ray yang tampak sangat serius kali ini. Seorang pria yang dia kira hanyalah pegawai biasa yang kebetulan jenius, ternyata adalah anak seorang mafia bawah tanah yang amat ditakuti. Sierra bergumam dalam hati, bahwa sampai mati dia akan setia menjadi sekutu Ray.
"T-tapi, Ray … " Suaranya tersendat. "Aku mohon, jangan bawa Paul dalam masalah ini. Karena … karena ada anakku … " Suara Sierra terus tersendat layaknya radio yang kehilangan sinyal.
"Kukira kamu hanya membalas Martin. Bukan karena mencintai Paul," timpal Ray dingin.
Sierra salah tingkah. “Aku tidak mungkin membenci pria yang menjadi ayah dari anakku," jawab Sierra.
Tiba-tiba Ray mengulaskan senyum. "Jangan khawatir, Sierra. Aku tidak akan mengganggu siapapun kecuali Martin,"
"Oh, jadi selain menggoda suamiku, kamu juga menggoda mantan suami menantumu?!!" pekik Sophie, yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba sudah berdiri di samping meja Sierra dan Ray.
__ADS_1