Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Kegilaan Eros


__ADS_3

Nafas Martin memburu. Dia buru-buru sembunyi di balik mobilnya, ketika dengan cepat mobil Ray meluncur pergi dari kampus. Meskipun dia sedang diliputi kemarahan yang sudah mendidih di ubun-ubunnya, Martin tak ingin gegabah. Dia ingin tahu, sejauh mana Ray berani merebut Karen darinya.


“Berani-beraninya membawa pergi istri orang … “ gumam Martin, mengumpat sendirian di dalam mobilnya, dengan kedua mata masih terus melekat pada ekor mobil Ray.


“Ray, kita harus ke kantor polisi,” saran Karen, mengencangkan sabuk pengaman karena kini Ray mengemudi dengan sangat brutal.


Ray menggeleng. “Aku harus memberitahu Marsel, asisten pribadi Rudi Bruggman,”


“Kenapa?” tanya Karen tak paham.


“Lebih aman jika memberitahu ayahnya. Pasti dia punya seribu rencana untuk menemukan Kamala,” tebak Ray, yang disambut dengan anggukan setuju dari Karen.


“Ngomong-ngomong,” Ray menoleh sebentar pada Karen. “Kenapa kamu mengikutiku?”


Karena kepanikannya tadi, Ray bahkan hingga tak sadar jika Karen mengikuti sampai duduk di kursi penumpang sebelahnya sekarang. Dan saat menyadarinya, Ray merasa, akan mengalami kesialan.


“Aku ingin tahu apakah Kamala baik-baik saja,”


“Dan suamimu tak akan baik-baik saja,” sahut Ray cepat.


Karen tersenyum getir. “Apa kamu lupa kalau dia merebutku darimu?”


Ray ikut tersenyum, sedikit sinis. “Aku sudah melupakan semua masa laluku,”


***


Eros cepat-cepat membopong tubuh Kamala untuk segera masuk ke dalam vila mewah yang ada di tepi kota, sangat jauh dari pemukiman penduduk. Senyumnya sangat lebar, merasa menang karena berhasil membawa Kamala pergi tanpa diketahui siapapun.


Dia baringkan Kamala di ranjang kamar tidur utama, telentang dengan mulut yang masih ditutup kain. Eros berdiri di hadapan Kamala yang sedang tak sadarkan diri, berkacak pinggang dan tertawa menggelegar bak monster yang baru saja mendapatkan mangsanya.


“Akhirnya aku mendapatkanmu, Mala … “ ucap Eros, menggema di langit-langit kamar, tersapu oleh dinginnya udara vila yang merasuk ke setiap celah dinding di sana.


***


“Marsel!” teriak Ray, tergopoh-gopoh menghampiri Marsel yang berdiri tegang menungguinya datang.

__ADS_1


Setelah menyadari jika Kamala hilang, Ray buru-buru menelepon Marsel, dan kini pria itu sudah menunggu kedatangan Ray di depan gedung kantor mereka. Rautnya juga ikut panik.


“Apa yang terjadi?”


“Kamala hilang. Aku yakin Eros membawanya pergi,” jawab Ray, sahut-sahutan dengan deru nafasnya.


“Bagaimana kamu bisa yakin?” Marsel sibuk mengotak-atik ponselnya, menghubungi semua orang.


“Eros sangat terobsesi pada Kamala,” jelas Ray. “Apa yang harus kita lakukan, Marsel?”


“Kita selesaikan sendiri,” jawab Marsel singkat. “Jangan sampai Tuan Rudi tahu anaknya telah diculik,”


“Apa?” Sahutan pertama yang muncul dari Karen, sukses mengalihkan fokus Marsel.


Dia gantian memandang Ray dan Karen, merasa sangat mengenal Karen dan kontroversinya.


“Kami tak sengaja bertemu,” Ray memberikan alasan tanpa diminta. “Dia ingin memastikan Kamala baik-baik saja,”


Marsel manggut-manggut, meski dia tidak sepenuhnya paham. Sebagai seorang asisten pribadi yang mengetahui banyak hal, berita besar antara Ray, Karen dan Martin tentu sudah sampai di telinganya. Apalagi, Marsel bertugas menyelidiki asal-usul Ray, atas perintah tuannya.


“Aku akan bantu,” sahut Karen bersemangat. Untuk pertama kali, dia mendapatkan kembali semangat hidup dan ketertarikannya, semenjak Martin mematikan seluruh hati dan otaknya hanya demi sebuah kepuasan.


Meskipun hidup bersama Ray tidaklah bergelimang harta dan cenderung lebih banyak perjuangan, namun Karen menyadari bahwa, hidup seperti itu tak akan membuatnya mudah bosan. Dia sedikit bersyukur ditakdirkan untuk bekerja di sekitar Kamala, dimana dia pasti akan lebih sering bertemu Ray.


***


“Kamu sudah bangun, Mala?” tegur Eros, ketika lamat-lamat Kamala mendapatkan kesadarannya kembali.


Kamala panik, mendapati dirinya yang terikat pada kaki dan tangan, di suatu ruangan yang asing. Dia berteriak, memberontak, sebisanya. Kamala makin panik mendengar tawa Eros yang menggelegar saat melihat kepanikannya.


“Tenang, Mala. Kita sudah aman sekarang,” ucap Eros. “Tak ada yang bisa mengganggu kita,”


“Lepaskan aku, dasar orang gila!” Kamala memberontak, meludahi wajah Eros yang sedang mendekatinya.


Eros mengelap wajahnya, untuk sedetik kemudian murka bukan main. Dia tampar pipi kanan Kamala sekerang mungkin, menimbulkan bekas kemerahan yang awet. Lelaki itu kemudian mencengkeram kerah baju Kamala dengan bola mata melotot hampir keluar.

__ADS_1


“Aku mencintaimu, Mala. Kenapa kamu memberontak seperti ini?” teriak Eros.


“Kamu tak mencintaiku, Eros,” gumam Kamala, kesal namun tak berdaya. Dia hanya bisa memperolok Eros melalui mulutnya yang beruntung, belum dibungkam.


Eros makin membulatkan matanya. Dia banting tubuh Kamala di atas ranjang, dan mulai menanggalkan busananya sendiri. Terlihat Kamala sangat panik, berteriak lagi sekeras mungkin, seberingas yang dia bisa, berharap ada orang yang mendengar teriakannya. Namun naas, hanya ada dia dan Eros di dalam vila besar nan terpencil itu. Bersama dengan hasutan iblis yang mulai merasuki otak dan hati Eros.


“Kalau aku tak bisa memilikimu, setidaknya benihku ada dalam dirimu,” ucap Eros.


“Jangan gila!” bentak Kamala. Teriakannya yang kelewat keras menimbulkan getaran, menandakan tinggi suaranya sudah mencapai puncak. Andai Kamala berusaha untuk berteriak makin tinggi, dia akan kehilangan suaranya.


Eros tersenyum licik, mulai naik ke atas ranjang. Dia elus pipi kanan Kamala yang memerah akibat tamparannya sendiri.


“Ini hadiah untukmu, Mala. Sebagai bukti cintaku padamu,”


***


Martin cukup puas. Setelah membuntuti Ray dan Karen, dia memutuskan putar balik dan pergi, tak jadi melabrak Ray secara langsung. Dia mulai dapat menjernihkan otaknya, dan berniat untuk membalas Ray dengan cara yang lebih kejam. Dia tak dapat mentolerir segala bentuk pengkhianatan, apapun alasannya.


Mobil Martin terus melaju, menuju sebuah rumah tua nan usang yang terletak cukup jauh dari jalanan perkotaan. Sesampainya di sana, dia tanpa ragu mendobrak pintu, berjalan cepat dengan wajah masih muram saat mengingat ekspresi Ray dan Karen. Ketika mendengar kegaduhan, seorang pria agak tua dengan rambut keabuan keluar dari dalam kamarnya, menatap Martin dengan raut mengernyit.


“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyanya heran.


Martin menyerahkan selembar foto, potret Ray dan Karen yang sempat dia bidik tadi. Pria itu mengamati foto yang diberikan Martin, sekali lagi dengan raut mengernyit bingung.


“Bukankah dia istrimu?” tebak si pria.


“Jim, aku ada tugas untukmu,” pinta Martin, pada pria tua yang ternyata bernama Jim.


Jim menautkan kedua alis, menggulung kerah bajunya yang kepanjangan. Dari sana, tampak tato yang menjulur memenuhi seluruh lengan Jim, sangat meyakinkan jika hidupnya terlalu keras untuk ditanggung oleh para orang biasa.


“Apa maumu?” tanya Jim.


Martin menarik kembali lembaran foto itu, lalu menunjuk sosok Ray. Senyum liciknya mengembang, mengerikan.


“Bunuh dia, apapun yang terjadi,” lirih Martin. “Bunuh dia secara perlahan,”

__ADS_1


__ADS_2