
Kabar pernikahan Ray dan Kamala telah tersebar ke seluruh kolega dan kenalan orang tua Kamala, yang membuat acara pernikahan tersebut wajib diselenggarakan secara mewah dan besar-besaran. Bahkan, siang ini, melalui Adam yang memutuskan untuk terus mendampingi Ray semenjak penggerebekan Eros kala itu, kabarnya Sergio White ingin menemui Ray secara langsung. Setelah lebih dari 3 tahun hubungan ayah dan anak itu sempat terputus karena Ray memutuskan untuk menikahi Karen.
Adam bertindak sebagai pemandu lokasi, tempat dimana Ray dan Sergio harus bertemu. Tak sulit, karena Sergio toh menyuruh Ray untuk datang ke rumah mereka. Bagi Ray, atmosfer dan aroma rumah masa kecilnya itu tetaplah menimbulkan efek kerinduan yang menenangkan. Segala memori indah masa kecilnya terus-menerus datang sekelebat, berganti-gantian dan sangat menyenangkan. Bahkan Ray memberikan sedikit waktu untuk berdiri diam, di depan pagar rumah masa kecilnya itu, hanya untuk kembali mengenang segala kebahagiaan dan pembangkangan yang dia lakukan.
"Tuan … Tuan Ray?" tegur seorang wanita tua, yang berjalan ragu mendekati Ray. Wanita itu berambut putih yang digelung rapi, dengan keriput yang menghiasi wajah indahnya.
Ray memutar tubuh ke belakang, untuk kemudian tersenyum lebar. Dia bahkan membuka kedua lengannya, seakan mengizinkan wanita tua itu untuk memeluknya. Tak lama, wanita tua itu berhamburan mendekap tubuh Ray, meraung penuh kerinduan.
"Kupikir, aku tak akan pernah bisa melihat Tuan Ray lagi," isak wanita tua itu.
"Aku pulang, Bibi Hel," tukas Ray, mengelus punggung wanita tua itu, penuh kerinduan. Bahkan dalam dekapan Bibi Hel, membuat segala beban Ray seakan menguap.
Tentu saja. Bibi Hel adalah pembantu paling senior dalam keluarganya, sekaligus orang yang merawat Ray sejak bayi. Lydia White, ibunya, bukanlah wanita cekatan sebagai seorang ibu, meskipun rasa sayangnya pada Ray tetaplah besar.
"Tuan, aku sudah mendengar semuanya. Wanita itu … wanita itu benar-benar jahat," Bibi Hel menempelkan kedua alisnya, tanda geram.
Ray sangat tahu siapa yang dimaksud Bibi Hel, namun dia tak ingin lebih banyak membahasnya. Dia meminta Bibi Hel tak membicarakan kembali pengalaman pahitnya bersama Karen, dan memilih segera masuk ke dalam rumah karena pasti kedua orang tuanya sudah menunggu.
__ADS_1
Pintu depan rumah besar kediaman White itu terbuka, dan sosok Lydia yang anggun langsung menyongsong tubuh Ray, memeluknya erat dengan tangisan keras. Hati seorang ibu manakah, yang bisa dipisahkan begitu lama dari anaknya? Kerinduan Lydia seakan membuat dadanya nyaris meledak, penuh dengan perasaan bahagia karena akhirnya dia bisa bertemu dengan anak semata wayangnya.
Ray juga menitikkan air mata. Perpisahan alot nan kejam yang terjadi sekitar lebih dari tiga tahun lalu itu, jika diingat kembali, hanya menorehkan luka pada semua pihak. Sergio, sebagai kepala keluarga, berusaha untuk melindungi harga dirinya. Begitu pula Ray, sebagai seorang pria yang sedang menggelora dalam cinta, juga ingin memperjuangkan segala apa yang dia yakini benar.
"Ray … " Lydia meraba seluruh wajah Ray, hanya untuk memastikan tak ada cacat di sana. "Kamu baik-baik saja, kan?"
Ray mengangguk. Melihat ibunya yang tetap saja anggun menawan, seakan menolak tua, membuat Ray lega. Kemudian Lydia kembali mendekap Ray erat.
"Ibu senang, akhirnya bisa bertemu kembali denganmu," isaknya, dipenuhi air mata bahagia.
Tak ada yang meragukan kekuatan Sergio. Setiap pengusaha di negeri ini yang ingin berhasil, mau tak mau harus menyerahkan keamanan bisnis mereka di tangan Sergio. Maka tak heran, ketika anak lelaki satu-satunya yang paling dia andalkan memilih melepas warisan hanya untuk wanita miskin, yang dia tahu bernama Karen Stevens, membuat Sergio murka. Karen bagaikan rumput liar, yang makin diinjak makin tertanam kuat dan susah dicabut. Seberapa kuat Sergio berusaha menghancurkan kehidupan Karen, yang ada Ray justru makin keras untuk lepas darinya.
Dan ketika kabar perceraian Ray dan Karen, serta pernikahan Karen dan Martin terdengar sampai ke telinga Sergio, pria tua itu justru bahagia. Inilah saat yang tepat untuk membawa Ray kembali. Apalagi kini, Ray tiba-tiba memutuskan untuk menikahi Kamala Rudi, putri dari konglomerat Rudi Bruggman sekaligus kolega Sergio yang paling dekat. Sergio tentu senang luar biasa.
"Mana Kamala?" tanya Sergio, berusaha menghilangkan ketegangan.
"Dia harus bersiap-siap,"
__ADS_1
Sergio menautkan kedua alisnya, berusaha mencari topik lain. "Aku senang akhirnya kamu melepaskan wanita miskin itu," celetuk Sergio, seakan tak sabar mengeluarkan beban hatinya.
Ray menggeleng. "Jangan bahas dia lagi, Ayah," pintanya, tampak tak senang.
Sergio kemudian mengangguk, dengan sedikit senyuman yang tak bisa dia sembunyikan. Senyuman bahagia, karena akhirnya Ray bisa membuka mata dan tak lagi tertutup hatinya akan cinta buta pada Karen. Kemudian Sergio mengisyaratkan Adam, asisten baru Ray yang sedari tadi berdiri di pojokan, untuk segera mengantar Ray kembali karena acara nanti malam harus berjalan dengan sempurna.
Pertemuan pertama antara Sergio dan Ray yang berlangsung singkat nan kaku, namun cukup membuat senyum terus-menerus tersungging di bibir Sergio. Dia yang menyadari jika usianya akan terus bergerak maju, mengharuskannya untuk segera menyerahkan seluruh kepemimpinannya pada Ray, satu-satunya pewaris.
***
Segala rencana Martin untuk menjadi pusat perhatian di malam pernikahan Ray dan Kamala, sepertinya sukses. Seluruh pasang mata yang hadir, terpaku kagum saat Martin dan Karen berjalan beriringan masuk ke dalam ruang pesta, dengan penampilan Karen yang cantik luar biasa. Wanita itu memakai gaun panjang berwarna merah marun dengan potongan press body, rambut dibiarkan terurai dan riasan tajam yang nampak serasi dengan gemerlap ruangan.
Martin membusungkan dadanya, bangga akan istrinya yang membuat seluruh hadirin berdecak kagum. Dan untuk Karen, meskipun hadir dalam kerumunan para konglomerat masih saja membuat dirinya kaku, namun cukup menikmati segala atensi yang diarahkan padanya. Hingga dia tak sadar jika tatapan tajam dari Sergio White tak mau lepas darinya. Membuntuti punggung Karen bak iblis yang seakan haus darah.
Di waktu yang bersamaan, Ray tampak gagah dan tegang di atas altar, menunggu kedatangan Kamala yang belum dia lihat seharian. Dia dan Kamala bersepakat untuk tak saling bertemu, agar pernikahan ini berlangsung lebih romantis dan sakral. Namun bukannya Kamala yang keluar dari bilik pintu, justru Marsel lari tergopoh-gopoh naik ke altar menghampiri Ray, membisikinya sesuatu yang langsung membuat dengkul Ray serasa lemas.
Seluruh sorot lampu malam ini tertuju padanya, menerangi wajahnya yang tegang bercucuran keringat dingin, ketika Marsel memberitahu jika Kamala menghilang. Kamala pergi dengan secarik kertas yang dia tinggalkan di ruang ganti, bertuliskan permintaan maafnya karena tak bisa menikahi Ray.
__ADS_1