Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Mantan Abusif


__ADS_3

Martin memandang Ray dengan raut mencibir. Namun tak seperti Martin yang tampak kekanakan, Ray sepenuhnya bisa menguasai amarahnya sendiri. Dia tetap tersenyum bijak, menjabat tangan Karen kemudian turun dari altar sambil tak lupa menggandeng tangan Kamala. Karen melirik Martin kesal, saat suaminya itu bereaksi berlebihan pada mantan suaminya. Tapi tampaknya Martin tak peduli dengan tatapan kesal dari Karen.


Setelah menyelesaikan resepsi pernikahan selama hampir empat jam lamanya, akhirnya Martin dan Karen istirahat di salah satu kamar paling mewah di hotel bintang lima tempat acara resepsi diselenggarakan. Martin tak sabar ingin segera menghabiskan malam bersama Karen, yang tampak sangat cantik dalam balutan gaun pengantin putih pilihannya.


Ketika Karen membersihkan riasannya di depan meja rias, Martin yang telah dikuasai gairah membara, langsung mengecup leher Karen, tak mengijinkan istrinya itu untuk lebih dulu berganti pakaian.


“Aku ingin kamu tetap memakainya, Sayang,” goda Martin. “Kamu sangat cantik malam ini,” Dia merengkuh tubuh Karen dalam dekapannya, yang tampak kerepotan karena gaun putih panjangnya itu terurai panjang menyentuh lantai.


“Biar aku ganti baju dulu, Martin,”


“Jangan,” cegah Martin. “Aku ingin menguasai tubuhmu malam ini, dengan gaun yang masih kamu pakai,”


***


“Dasar manusia iblis!” umpat Kamala, melempar sepatu hak tingginya sembarangan.


Dia dan Ray telah selesai memainkan drama sebagai pasangan penuh cinta di acara pernikahan Karen dan Martin Willis. Namun tak pernah disangka oleh Kamala, reaksi penuh licik dari Martin pada Ray, yang telah berlapang dada memaafkan pria itu. Kini mereka berdua telah keluar dari hotel mewah tempat acara diadakan, dan duduk makan berdua di sebuah minimarket yang terletak tak jauh dari hotel.


“Kalau aku jadi kamu, sudah kubunuh pria itu!” Kamala masih diliputi kemarahan. Meskipun begitu, dia juga tetap saja nafsu memakan mie cup yang ada di depannya.


Ray hanya tertawa simpul melihat reaksi geram dari Kamala. “Setidaknya orang tuamu tertipu, kan? Itu artinya, kamu tak akan dipaksa menikahi orang yang tidak dikenal,”


Kamala menghentikan aktivitas makannya, demi memandangi Ray dengan raut kecewa.


“Jadi, tak ada yang terjadi diantara kita?” tanyanya penuh harap.


Ray meliriknya bingung. “Apa maksudnya?”


“Apa, kamu benar-benar tak menaruh rasa padaku?” tanya Kamala sekali lagi, penuh percaya diri untuk mengutarakan rasa sukanya pada Ray.


“Kamala, dengarkan aku,” Ray mengatur posisi duduknya agar bisa bicara serius dengan Kamala. “Kamu masih sangat muda. Masa depanmu masih sangat panjang. Jangan sia-siakan waktumu untuk menyukai duda sepertiku. Selesaikan saja kuliahmu dan menikahlah dengan lelaki tampan kaya raya di luar sana,”


Kamala cemberut mendengar nasehat Ray. “Tapi aku maunya menikah denganmu, Ray,” ucapnya kukuh. “Bahkan papaku juga menyukaimu, kan? Tak ada yang menghalangi kita!”


“Aku!” sambar Ray. “Aku, yang menghalangi kita. Aku tidak mau, titik,” Ray menyilangkan kedua tangannya, tanda memberi peringatan keras pada Kamala untuk mundur.

__ADS_1


Kamala sekali lagi cemberut, kini dipadukan dengan gerutuan yang tak jelas, sembari menghabiskan makanannya yang kelewat dingin.


“Cepetan makannya, habis ini kuantar pulang,” suruh Ray cuek.


“Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri,” tolak Kamala, berubah ketus. Penolakan dari Ray sukses membuatnya tersinggung berat.


“Kamu marah?” sindir Ray, melirik Kamala dengan menahan tawa. “Bocil, kamu marah, ya,”


“Nggak!” sahut Kamala, ketus. “Jangan panggil aku Bocil, Om!”


Mereka berdua saling menatap, seakan saling berperang tatap dan membiarkan mata masing-masing menyerang satu sama lain. Dan di tengah-tengah ketegangan itu, seorang lelaki muda yang tampak seusia Kamala, berjalan mendekati Kamala. Lelaki itu lalu menepuk pelan pundak Kamala, yang spontan ditengok oleh Kamala.


“Eros?” seru Kamala, setengah berteriak.


Lelaki itu tersenyum lebar, kemudian mengelus lembut kepala Kamala. Ray mengerutkan kening, tak mengenali lelaki muda itu.


“K-kenapa kamu di sini?” tanya Kamala, tampak gugup.


Eros, lelaki muda itu, menarik kursi lain untuk duduk membaur dengan Ray dan Kamala. Dia memandangi Ray dengan wajah ramahnya.


“Dia … “ Kamala memotong ucapannya. “Dia karyawan Papa,”


Eros tampak manggut-manggut dan lega saat tahu tentang identitas Ray. Kemudian dia mengulurkan tangannya.


“Aku Eros, pacar Mala,” ujarnya.


Ray membelalak lebar. Dia memandangi Kamala dan Eros bergantian. Perbedaan raut wajah mereka membuat Ray sedikit bingung dibuatnya. Eros tampak sangat bangga dan membusungkan dadanya agar terlihat keren di depan Ray, sedangkan wajah Kamala justru pucat.


“Dia pacarmu?” tanya Ray memastikan.


Kamala menjawab dengan anggukan penuh keraguan. Namun Eros justru menarik bahu Kamala ke dalam dekapannya.


“Biar aku yang mengantar Mala pulang, Om,” ijin Eros. “Iya, kan, Mala?” Kemudian dia beralih pada Kamala seakan meminta persetujuan.


Ray terus memperhatikan, wajah Kamala memucat, meski gadis itu tampak mengangguk pasrah. Dia mulai memasukkan ponsel dan merapikan tasnya.

__ADS_1


“Hari ini aku akan pulang bersama Eros,” ucap Kamala setelah lama diam.


“Kamu yakin?” Ray mulai curiga dengan raut Kamala yang kontras dengan ucapan di bibirnya.


“Apa-apaan, sih, Om? Kamala kan sudah bilang kayak gitu!” tegur Eros tak senang. “Dia ini anak bosmu, lho,”


Bukannya mundur, Ray justru makin maju ke depan. “Aku ditugaskan untuk menjaga Kamala,” ujar Ray pelan dan mengintimidasi.


“Aku akan pulang dengan Eros. Kamu pulanglah, Ray,” cegah Kamala.


Dengan berat hati, Ray membiarkan Kamala pergi bersama Eros yang dia katakan sebagai pacar. Namun mata Ray terus saja mengawasi bayangan Kamala dan Eros yang saling bergandengan tangan, hingga keduanya hilang dari pandangannya.


“Brengsek!”


Eros mendorong tubuh Kamala sekerasnya, hingga gadis itu membentur bodi mobil milik Eros. Dia pegangi pipinya yang ngilu akibat tamparan keras dari Eros.


“Siapa pria tadi, hah! Kamu sekarang menggoda om-om, ya?” tanya Eros sambil menjambak rambut Kamala sekencangnya.


Kamala merintih kesakitan, berusaha keras untuk menggelengkan kepalanya.


“Terus kenapa dia posesif padamu? Kamu jangan main-main, ya! Kamu itu milikku seorang, Mala!”


Eros kembali menampar pipi Kamala, membuatnya semakin ngilu bertubi-tubi. Bahkan cap tangan Eros membekas kemerahan di pipi Kamala yang pucat. Wanita muda itu menangis, merintih kesakitan memegangi pipinya.


Kemudian Eros maju. Kali ini dia mencengkeram keras blazer yang dikenakan Kamala untuk menutupi badannya yang kedinginan. Eros memaksa membuka blazer itu, yang membuat gaun Kamala yang tanpa lengan sedikit terlihat.


“Kenapa kamu dandan secantik ini hanya untuk bertemu seorang karyawan, Mala?” Eros mulai menggerayangi tubuh bagian atas Kamala.


Kamala terus menangis dan merintih. “Bukan, bukan begitu. Aku baru saja menghadiri pesta pernikahan,”


“Jangan bohong!” Eros kembali menjambak kuat rambut Kamala. “Mulutmu itu sama sekali tak bisa dipercaya, Mala,”


Kamala menggeleng. “Aku tidak bohong, aku memang pergi ke pesta,”


Seperti orang kesurupan, kali ini Eros mulai mencengkeram leher Kamala. “Bilang sekali lagi, atau aku akan … “

__ADS_1


“Akan apa?” potong Ray, yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Eros. Tatapan pria itu sangatlah tajam dan murka. Tatapan yang tak pernah dilihat Kamala sebelumnya.


__ADS_2