Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Petaka untuk Ray


__ADS_3

Karen dan Ray bergegas menuju mobil milik Ray, yang terparkir di depan kantor Rudi Bruggman, untuk menyusul Marsel yang telah lebih dulu pergi dengan mobilnya sendiri. Mereka bertiga memutuskan untuk melaporkan hilangnya Kamala ke kantor polisi, tanpa perlu melibatkan Rudi Bruggman, karena Marsel tak ingin tuannya itu khawatir. Marsel yakin, cukup dia dan Ray saja, sudah bisa mengatasi ini semua.


Ray menghentikan usahanya untuk menancap gas, saat melihat Karen kesulitan memasang sabuk pengaman.


“Karen, kurasa, sepertinya kamu harus pulang,” saran Ray, mulai tak senang dengan kehadiran Karen, yang bukannya membantu tapi bisa saja justru memberikan masalah baru untuk Ray.


“Tidak, aku akan menemanimu,” tolak Karen, dan akhirnya dia berhasil memasang sabuk pengaman.


“Bagaimana dengan suamimu? Aku tak mau dia salah paham,” Ray mulai kesal. Karen memang selalu keras kepala, dan itu tak bisa berubah. Bahkan dalam kondisi genting seperti ini, Karen tak pernah berusaha untuk mengurangi beban Ray.


“Tak masalah,” sahut Karen, tak peka. “Martin pasti akan mengerti,”


Ray menunjukkan deretan giginya, nyengir tak senang. “Kalau dia orang yang mudah mengerti, dia tak akan memaksamu menceraikanku,” seloroh Ray, santai, namun sukses membuat Karen tertohok.


Wanita itu tercengang memandangi Ray, dengan keningnya yang berkerut penuh tanda tanya.


“Sudahlah, Ray,” Karen kesal. “Itu bukan hal yang penting sekarang,”


Ray mengangguk, memilih mengalah, karena Karen selalu menang dalam beradu argumen. “Aku tak mau tahu, kamu harus meyakinkan suamimu itu kalau sampai ada masalah,”


Kemudian Ray bergegas menyalakan kemudi, menyusul Marsel yang telah lebih dulu berangkat ke kantor polisi terdekat. Disana, Marsel segera membuat laporan dan menemui salah satu petinggi yang memang sudah berhubungan baik dengan Rudi Bruggman dan bisnisnya. Maka laporan dari Marsel pasti segera diproses, mengingat status Kamala sebagai anak Rudi, salah satu orang terkaya di negeri.


“Ray, kita tak bisa menuduh orang begitu saja. Kita harus punya bukti bahwa Eroslah yang menculik Kamala,” terang Marsel. Dia mengulang kembali segala detail yang dijabarkan si polisi kepada Ray yang menunggu di luar.


“Aku akan menemui keluarga Eros. Pasti mereka tahu kemana perginya anak itu,”

__ADS_1


Marsel menggeleng. “Mereka tak akan membantu. Mereka membenci Kamala,”


“Apa?”


“Setelah Kamala menolak pernikahan, keluarga Eros sangat membenci Kamala dan keluarga Rudi Bruggman. Aku yakin mereka tak akan membantu,”


Karen sedikit maju, tampak ingin bicara, namun tak ingin banyak menginterupsi ataupun sok tahu. Maka sebelum bicara, dia sedikit mengangkat tangannya seakan meminta izin. Dan Marsel, meski tetap saja bingung kenapa Karen terus membuntuti mereka, tetap mempersilahkan Karen untuk bicara.


“Bagaimana kalau kita membuka CCTV kampus?” tawar Karen. “Pasti mereka mau melakukannya, mengingat status Kamala sebagai anak Rudi,”


Marsel dan Ray saling pandang. Ide dari Karen cukup brilian, yang membuat Marsel tak mau berpikir dua kali hanya untuk menghubungi koleganya yang bekerja di kantor jurusan tempat Kamala kuliah.


Kini, tinggallah Ray dan Karen, berdua saja dan saling kikuk. Ray mengajak Karen untuk keluar dari dalam kantor polisi, berdiri di depan gedung dengan sikap yang kaku tak nyaman.


“Sebaiknya kamu kuantar kembali ke kampus,” saran Ray. “Biar aku dan Marsel yang mengurus semuanya,”


***


Ray mengemudi dengan kecepatan sedang, membelah jalanan menuju kampus Kamala, dengan perasaan yang sedikit lebih tenang daripada saat pertama dia menyadari Kamala telah hilang. Saran dari Karen mengenai CCTV merupakan ide brilian yang cukup masuk akal untuk segera ditindak oleh Marsel, maka Ray yakin Kamala bisa cepat ditemukan.


Karen terus mencuri pandang pada Ray, mantan suaminya. Semakin Karen pandangi, semakin Karen tahu, jika Ray tak pernah berubah. Ray tetaplah Ray, pria berhati baik yang selalu apes. Tak pernah dalam hidup, Ray bisa mengungguli orang lain berkat kepicikannya. Ray selalu mengalah, memilih menjadi orang yang benar dan tak kontroversial. Dan kini, Karen pergi meninggalkan pria baik itu, seorang diri tanpa benar-benar tahu alasan dibalik perginya Karen.


"Kamu kenapa?" tanya Ray heran, karena Karen terus mengepalkan tangannya dan mengelap mata yang tampak tak basah.


"Aku hanya … mengingat masa lalu kita," jawab Karen jujur, namun tak bermaksud ingin menggoda Ray. Dia murni hanya ingin mengeluarkan beban di hatinya.

__ADS_1


"Percuma, Karen," tanggap Ray dengan senyum getir. "Masa lalu hanya akan tertinggal di belakang,"


Ray benar. Meskipun dia tak berubah, Karen semestinya paham, Ray tetap harus berubah padanya. Ray tak bisa memperlakukan Karen seperti dulu. Ibarat, Ray kehilangan satu persen dirinya, namun masih tersisa sembilan puluh sembilan persen lainnya, yang akan terus membuatnya menjadi Ray yang sama.


Tinggal satu kilometer lagi, dan Ray sampai di kampus Kamala. Tapi, tiba-tiba dua mobil mini van menghadang jalan mobilnya hingga membuat Ray harus mengerem mendadak. Ray dan Karen sama-sama jatuh ke depan, tertahan oleh kencangnya sabuk pengaman sehingga kepala mereka tidak membentur dashboard mobil.


"Ada apa, Ray?" tanya Karen bingung.


Ray menggeleng, dan buru-buru melepas sabuk pengaman dan keluar untuk protes pada pemilik dua van mini itu. Namun Karen memilih tetap berada di dalam mobil, karena yakin Ray bisa menyelesaikan semuanya sendiri.


Tapi tak disangka, salah satu orang yang berbadan paling besar, tiba-tiba meninju perut Ray, yang hampir saja ambruk andai saja pertahanan tubuhnya tak seimbang.


Karen berteriak dari dalam mobil, dan bergegas keluar. Saat dia akan menutup pintu mobil, tiba-tiba sosok Martin sudah berdiri kaku di belakangnya, dikelilingi hawa seram yang tak pernah Karen rasakan sebelumnya.


"M-Martin?" seru Karen, terkaget-kaget melihat kehadiran Martin.


"Kenapa kamu kaget melihatku?" tanya Martin curiga.


"Martin, ini tidak seperti yang kamu duga," Karen menggeleng, amat paham apa yang sedang terjadi.


Tapi Martin tak bergeming. Dia tersenyum lebar, setiap Ray menerima satu pukulan dari para preman gila yang berjumlah lima orang. Karen mengatupkan kedua tangannya, memohon pada Martin.


"Martin, kumohon. Ray tidak bersalah. Ini tak seperti yang kamu kira," Karen berusaha menjelaskan kebenaran, tapi Martin sudah terlanjur tenggelam dalam lautan cemburu.


Martin segera menarik tangan Karen, diajaknya masuk ke dalam mobil. Tapi Karen menolak, tetap teguh di tempatnya berdiri, sambil terus berteriak memanggil nama Ray dan menyuruh para preman gila itu untuk berhenti memukuli Ray.

__ADS_1


"Martin, hentikan!!" teriak Karen, membabi-buta, setengah depresi dan ketakutan melihat Ray yang kian babak belur.


"Kamu yang memancing amarahku," ujar Martin. "Apa kamu pikir, aku tak bisa membunuhnya? Kamu salah telah meremehkanku, Karen,"


__ADS_2