
Kemiskinan bukanlah hal baru bagi Martin. Sebelumnya dia telah berurusan dengan seorang wanita miskin, dengan latar belakang yang sangat jauh berbeda darinya. Seorang wanita yatim piatu, yang dia temui di panti asuhan, karena ibunya adalah penyumbang tetap panti tersebut. Seorang wanita yang meskipun datang dari keluarga yang tak jelas asal usulnya, namun memiliki kecerdasan tinggi dan paras cantik. Wanita itu bernama Sierra May, yang pernah sangat dia percaya, namun kini berkhianat dan memilih menjadi ibu tirinya sendiri.
Maka segala tabir yang menutupi diri Karen, beserta asal-usulnya, tak membuat Martin kehilangan perasaannya pada Karen. Justru, yang membuatnya sedikit tersinggung dan bahkan berhasrat ingin membunuh adalah Ray. Dia tak menyangka jika Ray bukanlah orang sembarangan yang bisa dia remehkan begitu saja. Selama ini pria itu rela kehilangan segalanya demi bisa bersanding dengan Karen. Rela kehilangan tahta berharganya dalam silsilah keluarga White yang sangat ditakuti, demi bisa menikahi seorang Karen, yang meskipun cantik, namun sama sekali tak sederajat. Hal itu membuat Martin cemburu.
Martin melemparkan kembali dokumen asal-usul Karen kepada Seth. Dia menghembuskan nafas keras.
"Syukurlah kau tak mati, Jim," ucapnya.
Jim nyengir, kembali mengingat malam mengerikan itu. "Mereka mengancam akan mematikan bisnisku jika sekali lagi aku menggangu Ray," Dia mengelus ban kursi rodanya, pertanda jika dia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Martin menaikkan sudut kanan bibirnya. "Tak ada yang bisa mengalahkan seorang Martin Willis," pongahnya, sambil membenarkan letak dasi yang sedikit miring.
"Namun satu hal yang musti kau ingat … " Martin membungkuk, untuk menyamakan kedudukan dengan Jim.
Dia berbisik sangat pelan, berusaha agar anak buah Jim dan Seth tak mendengar. "Jaga rahasia besar itu, selamanya bahkan jika kau harus mati,"
Jim menelan ludah, penuh rasa takut dan ketidak berdayaan akan digdaya besar yang dimiliki Martin. Meskipun usia mereka berdua sangat terlampau jauh, tapi Jim tahu, Martin bukanlah orang yang bisa dia remehkan. Kegilaan Martin, diakui Jim, melebihi tingkat kegilaan Paul Willis.
Jim dan anak buahnya tak menanggapi, selain hanya menunduk patuh mempersilahkan Martin pergi bersama Seth. Setelah mendengarkan pengakuan tak mengenakkan dari Jim, Martin mulai sedikit memutar otaknya untuk bisa membalas Ray dengan cara yang lebih cerdik, tanpa menimbulkan banyak kecurigaan. Namun sebelum itu semua, dia merasa perlu menemui istrinya.
***
Karen diam, memainkan sendoknya, beradu lirih dengan piring mewah yang berisikan steak setengah matang. Dia tak menyentuh steak itu, meskipun Martin telah melahap semuanya tak bersisa. Karen tahu, pasti ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi, karena Martin tak pernah mengajaknya bertemu di waktu istirahat makan siang seperti saat ini. Apalagi semenjak Karen bekerja, Martin bahkan memilih untuk menunda pertemuan mereka, karena merasa mereka pasti akan bertemu saat pulang nanti.
__ADS_1
Namun kali ini berbeda. Martin sengaja mengajak Karen makan siang bersama, di restoran mewah favorit Karen, dimana mereka berdua sering berkencan sebelum akhirnya menikah. Tapi hingga lima belas menit berlalu, yang dilakukan Martin hanyalah melahap habis makanannya, sama sekali tak membuka percakapan. Ketika Karen berusaha memberikan kode semacam pandangan terus-menerus pun, Martin tak bergeming. Dan kali ini, Karen sudah terlalu geram dibuatnya.
"Apa yang kamu ingin bicarakan denganku?" tanya Karen, tak sabar.
"Habiskan dulu makananmu, Sayang,"
"Tidak," sambar Karen, sedikit kesal. "Aku tahu, pasti sesuatu telah terjadi,"
Martin mengalah. Dia sadar, dia tak bisa terlalu lama mengulur waktu Karen.
"Kenapa kamu menyembunyikan segalanya dariku? Apa kamu belum mempercayaiku?" Rentetan pertanyaan yang membabi buta dari Martin, membuat Karen melongo tak paham.
Karen mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"
Mendengar Martin menyinggung soal ibunya, membuat hati Karen berdetak cepat. Tak ada dan tak akan pernah Karen biarkan seseorang membahas ibunya.
"Kenapa? Kamu malu mengakui ibumu?" tebak Martin, sedikit terganggu dengan reaksi kaget dari Karen. "Kalian berdua menikah, kamu dan Ray, tanpa direstui keluarga Sergio White, kan?"
Luka lama yang bertahun-tahun ditutupi oleh Karen, kini dibuka, dilucuti secara gamblang dan tiba-tiba oleh suami barunya. Jujur, dalam lubuk hati Karen yang terdalam, dia ingin melupakan nama Sergio White dalam tumpukan berkas di otaknya. Dia menolak mengakui mantan suaminya sebagai putra tunggal Sergio White. Ya, Sergio White, orang yang telah memporak porandakan keluarganya, membuatnya sengsara hanya karena hubungan percintaan.
"Kenapa tiba-tiba kamu membahasnya, Martin?" Lemaslah tubuh Karen, bahkan untuk sekedar memegang garpu pun dia serasa tak sanggup.
Martin mencondongkan tubuhnya. "Kamu tahu, bagaimana bisa Ray selamat malam itu? Anak buah ayahnya datang membantunya,"
__ADS_1
Alis Karen berkedut, sekali lagi kaget dengan fakta baru itu. Meskipun dia bersyukur Ray bisa selamat, namun dia tak tahu jika segalanya adalah hasil penyelamatan dari anak buah Sergio.
"Sepertinya keluarganya senang, kalian sudah bercerai," Martin tersenyum licik, sengaja memancing reaksi Karen.
"Dan kini dia akan menikah dengan Kamala," lanjut Martin, tertawa lepas. "Dua keluarga itu pasti sedang menyatukan kekuatan untuk menyerang keluarga Willis,"
"Lantas, apa hubungannya denganku?" Karen tak paham dengan maksud segala ucapan Martin.
Martin kembali mendekatkan wajahnya. "Harusnya kamu sadar, Sayang. Tak ada yang perlu ditangisi. Perceraian kalian justru menjadi berkah untuk semua orang. Kalian sama sekali tidak ditakdirkan bersama,"
Karen melipat bibirnya, menghela nafas, berusaha keras mengatur emosi. Dia tak menyangka, pertemuan makan siang yang jarang terjadi ini, justru digunakan Martin sebagai cara untuk memojokkan hubungan masa lalunya bersama Ray.
"Jadi ini? Kamu mengajakku bertemu hanya untuk membicarakan ini?" tuntut Karen.
Martin menautkan alis sambil sedikit mengangkat bahu. Kemudian dia bersandar, menyadarkan seluruh punggungnya dengan tatapan penuh kelicikan ke arah Karen.
"Tak ada yang lebih mencintai dan menginginkanmu selain aku, Sayang. Ingatlah terus hal itu," lirih Martin, tak mengalihkan pandangan dari Karen.
Karen beranjak. Sedikit membanting garpu dan pisau, kemudian dia menyambar tas dan jasnya untuk berlalu pergi meninggalkan Martin begitu saja. Dia muak mendengar segala omongan dan ancaman dari Martin. Hidup bersama pria posesif seperti Martin, sedikit banyak menguras habis tenaga Karen, tapi dia tak punya pilihan. Selain itu, dia juga tak berdaya. Dia tak mampu menggerakkan tubuh dan hatinya sendiri untuk kabur jauh sejauhnya dari Martin, mengingat segala tindakan itu sangat mungkin ia lakukan.
"Karen … " panggil Martin, yang terpaksa menghentikan langkah kaki Karen.
Pria itu menyunggingkan senyum licik, sekali lagi, dan tanpa perasaan.
__ADS_1
"Kita harus datang berdua besok malam, di pernikahan mantan suamimu," ucap Martin, kemudian berjalan mendekat. Dia mencondongkan bibirnya ke arah telinga Karen. "Aku akan menyiapkan gaun terseksi khusus untukmu. Kita harus menjadi pasangan paling mematikan di sana,"