Mr. Perfect

Mr. Perfect
Alva


__ADS_3

"Aprilia Pratama dan Arkan Pradipta Leonidas harap segera ke kantor atas panggilan Kepsek" Suara dari microfon itu membangunkan Arkan dari tidurnya.


"Wahh ada ape ni? Jangan2 elo mau dijodohin sama si Lia, Ar? " Celetuk Kenzo


"Waduuh, Gile elu masih pada bocah kali, bener² tu om Lo, jangan sampe deh Ar" Kali ini Panji bersuara.


"Yah kali, elu mah main percaya aja ama kenzo ji, ck ckck" Ujar Raka menggelengkan kepalanya.


"Bukan temen gue" sahut Kenzo, dan


Takk


"Aduuh sakit bego, tolol" Kesal Kenzo, Apa kepalanya enak buat bahan jitakkan para sahabatnya.


"Yah salah elu sendiri ngapain bohongin gue" Sarkas Panji.


"Yah elunya aja yg terlalu Polos" Ujar Kenzo dengan nada kesal.


"Udah diem bisa nggak sih? " Sahut Raka melerai keduanya.


"Untung lo waras ka" Batin Arkan, kemudian berlalu dari pandangan sahabatnya.


"Eh eh mau kemana Ar, masa ninggalin kita! " Teriak Kenzo. Arkan menoleh dengan tatapan tajamnya"mau bersihin otak kalian" sarkas Arkan. Kenzo dan Raka bergidik ngeri.


" Lah emang otak kita kenapa Ken? " Tanya Panji Polos.


"kalau ngebunuh temen nggak dosa, udah gue bunuh nih anak" Batin Kenzo menyapu dadanya.


Raka yang seolah-olah mengerti ekspresi Kenzo berkata " yang sabar ken, dia masih polos".


.........


Didalam ruangan bernuansa Hitam, Arkan dan Lia duduk canggung. Yup, mereka kini tengah berada diruang Kepsek. Damian Leonidas, Adik dari pemilik sekolah, Lucas Leonidas. Atau lebih tepatnya Paman Arkan.


Kreekk


Suara pintu terbuka, muncullah sosok Damian.


"Kalian udah lama? Maaf tadi bapak ada urusan" Kata damian.


" Kalau ada urusan ngapain manggil kita" Datar Arkan.

__ADS_1


"Arkan! " Tegas damian.


" tatapan Arkan, kok kaya gitu yah? Eh Btw Barusan arkan ngomong 6 kata, wahh" Batin Lia memperhatikan kedua insan didepannya, yang sepertinya tidak berhubungan baik.


..........


"Gue nggak mau" Sahut Arkan.


"Saya tidak menerima penolakan, kami melakukan ini karena percaya padamu, kamu pintar, berbakat, kurang apa lagi? " Jelas damian.


" gue tetep nggak mau" Santai Arkan.


"Ud.. Udah pak, nggak papa, masih banyak murid lain kan" Seru Lia tak enak hati.


Sebenarnya ia senang, Arkan akan jadi guru Les Privatnya, tapi sepertinya Arkan sangat Anti dengannya. Lia menunduk menatap Lirih sepatunya.


"Kamu yakin nak? Saya hanya takut nanti ibu kamu kecewa" Kata damian.


"Oh nggak kok pak, saya bakalan bujuk ibu saya" ujar Lia.


"Atau gini, guru privat kamu diganti sama Alva, mau nggak? " Celetuk damian.


"Walaupun dia nakal, dia pintar kok" Sambung Damian tanpa memedulikan Arkan, yang kini menatapnya tajam.


"Ka Alva? " cicit Lia.


"Iya, kamu pasti kenal, dia ketua gang motor KSPB"


"Eh? Ya udah" Finish Lia, dari pada ia tidak dapat guru Privat.


Tiba-tiba Arkan menggebrak meja.


Brukkk


" Gue yang bakal jadi guru Privatnya" Sahut Arkan Kemudian keluar dari ruangan damian.


Damian tersenyum, ia berhasil dengan tak tik nya.


.........


"Arkan kok marah banget yah tadi? Alva siapanya Arkan yah? Tuuh kan Lia jadi kepo" omel Lia menyentak-nyentakkan kakinya ditanah.

__ADS_1


" Mana udah sore lagi, Angkot mana coba?, eh eh apaan nih, kenapa banyak motor nuju kesini, aduh jangan2 mau tawuran aduuh mati kamu Lia" Panik Lia melihat segerombolan motor menuju kearahnya.


Tak selang lama, Para siswa di Smanya keluar dari gerbang yang dipimpin oleh Alva, menemui segerombolan, yang tak lain pasti Musuh bubuyutan sekolah mereka.


Dan sebentar lagi akan terjadi tawuran.


.............


Arkan mengelap keringatnya, ia melangkah menuju parkiran. Ditengah jalan, ia berpapasan dengan Alva. Matanya tajam menusuk bagi siapa saja yang melihatnya, didalamnya tersirat dendam.


Sedangkan Alva hanya tersenyum remeh ke arah Arkan.


Arkan sudah tahu, Pasti Alva dan gangnya akan tawuran lagi. Ia tidak kaget lagi, dengan senjata yang di bawa gang Alva.


Saat menuju Parkiran, matanya menyipit melihat gadis yang tak asing baginya.


Gadis itu tengah dilanda kepanikan, bagaimana tidak dia berada ditengah antara gang Alva dan musuhnya.


"Ck ngapain sih dia disitu? " Seru Arkan kemudian melangkah keluar gerbang.


...........


Lia tidak bisa berkata-kata lagi, lidahnya keluh untuk mengucap.


Sebentar lagi ia akan dihabisi.


"Eh bos ada cewe tuh, dia dari sekolah kita" Celetuk salah seorang Anggota gang Alva.


Alva menoleh, matanya menangkap sosok gadis mungil, yang dari ekspresinya saat ini tengah ketakutan. Kemudian matanya menajam melihat Musuhnya yang akan memukuli gadis itu dengan balok. Ia berlari kearah gadis itu dan....


..........


Lia menatap takut Pria yang kini membawa balok ditangannya, sebentar lagi Pria itu akan melayangkan balok itu ketubuhnya dan Bruukk


Lia mengerjapkan matanya, tubuhnya tidak merasakan sakit apapun. Setelah itu matanya membulat melihat dada bidang didepannya, tentu saja orang yang terkena pukulan tadi karena melindunginya. Lia mendongak keatas


" Arkann!, kamu nggak papa? Kamu ngapain ngelindungin aku? " Celoteh Lia.


"Lo bego ha? Ngapain disini, kalau tadi baloknya kena lo gimana? " Panik Arkan,


Ia tidak peduli dengan sakit dipunggungnya, entah mengapa saat Ia lihat Lia yang akan dipukuli oleh Musuh Alva, emosinya naik begitu saja. Ia sangat khawatir dengan gadis didepannya ini. Apa ia sudah jatuh cinta pada Lia?

__ADS_1


__ADS_2