
Sesampainya di kantin banyak mata yang memandangi dan menatap mereka dengan tatapan tidak suka dan juga iri, pasalnya Dosen dan mahasiswinya terlihat sangat akrab dan dekat, juga banyaknya para perempuan yang mengagumi ketampanan Dion, juga bayak laki-laki yang ingin dekat dengan Liliana.
Dion dan Likianan duduk berhadapan, setelah Dion mengembalikan mangkuk bubur ia memesan soto ayam dan jus jeruk untuk Liliana ia hanya memesan satu sedangkan ia hanya menemani saja sambil memeriksa skripsi Liliana dengan tenang, sedangkan Liliana merasa tidak enak dan juga tidak tahu harus bagaiman ia tidak bisa mengatakannya sebab ia masih malu dan sulit mengatakan apa yang ingin ia katakan sebab bantak orang di kantin jadi Liliana hanya bisa diam dan memakan siti yang sudah di kesankan Dion tersebut,
" Lilian, sudah waktunya buat sidang karena udah bagus skripsi kamu juga sudah beberapa materi juga kamu buatnya dan semuanya lulus, " Ujar Dion pada Liliana yang sedang meminum jus nya setelah ia selesai makan, seketika Liliana terkejut dan tersedak minuman
" Uhuk uhuk " Likianan tersedak jus nya dan dengan sigap Dion menepuk pelan punggung Liliana
" hati hati minumnya " Tegur Dion dengan suara tegas
" Ma maaf " Hanya kata maaf yang dapat keluar dari bibir Liliana , Dion hanya tersenyum menanggapinya,. dan Liliana melanjutkan minum nis nya sampai habis dan Dion hanya menunggunya saja sambil melihat jam din pergelangan tangannya, ia ada. urusan sebentar lagi di kantornya, karena Ayahnya meminta nya untuk datang ke kantor karena ada rapat sinag ini dan pesawat tersebut di dapat saat kelas menengah. fajar tadi pagi
" Maaf Pak, dan terimaksih karena Bapak sudah memerankan saya ubur dan soto di kantin untuk... ee u uangnya .. " Likianan bingung mengatakannya bagaimana karena baru kali ini ia di belikan bubur dan soto okeh seseorang selain ketiga temannya itu dan ini Dosen lagi
" Hmmm uang, maksud kamu apa? saya membelikan kamu bubur dan soto juga untuk kamu makan dan saya tidak akanenagih uangnya, jadi kamu tidak perlu menggantinya, " Jawab Dion yang mengerti maksud dari ucapan Liliana padanya
" Tapi, saya... " Ucap Liliana tapi ia tidak meneruskannya karena ia susah u tuk menyampaikannya karena merasa tidak enak sudah di belikan makanan tersebut
" Haaah , tidak tersbiasa ya kalo gitu kamubijut saya nanti sebagai ganti nya " Umae Dion dia tidak bisa menyuruh mahasiswa mengganti makanan yang sudah ia belikan untuknya bagaimanapun ia yang ingin membelikannya dan tidak bermaksud untukenagih uangnya untuk makanan yang sudah ia beli itu
" Hahh ma maksudnya? " Tanya Liliana bingung
" Kamu ikut saya nanti, jangan banyak tanya sudah habis kan cepat berikan buku buku kamu saya tunggu din parkiran, ohh iya mobil kamu tinggal saja, akan sayanutus dengan Ayah kamu nanti . " Umar Dion setelah mengatakan hal tersebut ia pergi sambil membawa map skripsi Liliana dan Liliana hanya diam saja, bagaimana tidak ia juga bingung dan tidak mengerti, lalu bagaimana bisa Dosen itu menyebut Ayahnya dan apa hubungannya sungguh Liliana sangat bingung sekarang tetapi ia juga harus menuruti perkataan dosennya itu kaki tidak entah apa ya g akan terjadi melihat dari sorot matanya tadi membuatnya sedikit merinding .
Tak lama setelah mengembalikan mangkuk dan gelas kepada pemilik nya di kantin Liliana mendapatkan telepon dari Ayahnya
" Assalamu'alaikum halo Yah, ada apa kin telpon Liliana " ujar Liliana di telpon
" Waalaikumsalam, tadi Ayah dapat pesan dari dosen kamu, Dion katanya kamu di ajak dia ya, Karena Mobil kamu akan di antar oleh asistennya ke rumah setelah meminta alamat rumah " Ucap Deon dengan putrinya di sebrang sana
" Haah kok dia tahu nomor Ayah "
" Ya mana Ayah tahu, mungkin dia meminta atau melihat nomor Ayah di dara. pribadi kamu di kampus nak, "
" Jadi... "
" Ya kamu ikut dia lah, Ayah izinkan asal pulangnya tidak malam "
" Tapi Yah... tadi Lili sempat di belikan bubur dan soto di kantin karena Lili tadi pingsan,. terus uangnya gimana "
" Oohhh jadi gitu, kamu sih gak sarapan di rumah ya kamu tanya dia saja lah sayang Bunda gak ikut campur " Ujar Nisa, ya di rumah Nisa merebutnya telepon dari suaminya, saat mendengar hal tersebut, karena Deon mengeraskan suaranya
" Bunda " Panggil Liliana
" Ya ada apa Nak "
__ADS_1
" Kok Bunda tahu, Ayah mana? " Tanya Liliana sambil ia berjalan ke kelasnya dan memiliki eresi barang barangnya kedalam tas ransel nya
" Ya tahulah, Ayah ada di samping Bunda " Jelas Nisa
" Tapi Bun Liliana fk enak sama Dosen Liliana , juga rafi Liliana sempat gak sopan trs gimana Bun Liliana takut "
" Sayang ikuti apa hati kamu nak, lakukan sesuai kata hati kamu kamu pasti tahu jawabnnya "
Setelah itu panggilan di tutup karena karena pi sel Deon mati sebab lowbet dan di kampus teman Liliana pun memberitahu Liliana bahwa ada yang mencarinya
" Liliana Ada yang cari tuh katanya kaamu lama " Ucapnya
" Supa Vit "
" Pak Dion dia nunggu di depan kelas "
" Hahh, yang bener aja tuh Dosen aduh gimana nih Vit gue takut " Ujarnya seraya memasukkan ponselnya ke saku dan siap siap akan keluar setelah menutup ransel nya
" Emang lo buat salah apa sama tuh Dosen? " Tanya Vita pada Liliana
" Panjang ceritanya udah gak tahun lagi harus gimana, suer gue takut banget sekarang, gimana nih "
" hahh maksud nya "
" Udah gak tahu aku, ohhbita aku pulang duluan tong izinin ya, Vit aku duluan " Ujar Liliana dan ia pergi keluar dengan cepat setelah itu,. dan vita. hanya bisa bengong saja ia tidak tahu apa yang terjadi dan ia hanya menggelengkan kepalanya saja, mungkin ia akan meminta penjelasan besok pada temannya itu.
" Hmmm, sudah ayo " Balasnya kemudian Dion dan Liliana pun pergi ke tempat parkir sekolah, lalu Dion membukakan pintu mobilnya untuk Liliana, Liypun masuk tanpa banyak tanya karena takut setelah itu Dion menutup pintunya dan juga masuk ke mobil, lalu Dion melajukan mobilnya keluar dari area kampus , menuju ke kantornya dengan kecepatan sedang .
Di dalam perjalanan suasana hening tidak ada yang memulai percakapan, sebenarnya mereka berdua tidak suka dengan keadaan yang hening itu, namun mereka tidak tahu untuk memulai percakapan yang bagaimana karena tidak ada topik pembicaraan, lalu Liliana memberanikan dirinya untuk memulai percakapan dengan Dosen tersebut walaupun sebenarnya ia enggan untuk bertanya atau berbicara.
" Maaf Pak saya ingin bertanya " Ucap Liliana pada Dion dengan ragu, ia masih merasa takut untuk berbicara pada nya
" Ya, tanyakan saja " Jawab Dion singkat
" Ee ba bagaimana Bapak bisa mengetahui nomor Ayah saya, ? " Tanya Liliana kembali
" Dari data pribadi kamu di daftar mahasiswi kampus " Balasnya
" La lalu sekarang kita mau kemana Pak ? " Liliana kembali bertanya namun terbatas karena canggung dan takut jantungnya sedikit berdetak
" Mau ke kantor, saya ada rapat kenapa memangnya, "
" Tidak, ti tidak ada a apa apa Pak " Jawab Liliana
" Di sini bukan kampus, kita di luar kampus, jangan panggil saya Pak berasa tua saya " Ucap Dion dan Liliana hanya menunduk saja
__ADS_1
" Liliana " Panggil Dion
" Ya Pak "
" Jangan panggil Bapak, saya bukan Bapak kamu ya Lilian "
" Ya lalu saya panggil apa Pak, kan Bapak Dosen saya, dan saya mahasiswi Bapak, mana sopan saya panggil Bapak dengan sebutan, Mas, akang, atau kakak, atau om kan " Balas Liliana ia sudah merasa sedikit kesal entah kenapa ia juga tidak tahu dan sekejap Liliana melakukannya lagi berbicara tidak sopan dengan Dosennya dan melupakan kalo dirinya adalah seorang mahasiswi,
" Maaf saya tidak sopan lagi " Lanjut Liliana dan ia menundukkan kepalanya kembali merasa takut jika Disen tersebut tersinggung dan marah padanya, dan Liliana merasa sangat tidak tenang sekali .
Seketika Dion menepikan mobilnya dan berhenti sejenak ketika mendengar ucapan Liliana tersebut , dan berusaha untuk menjelaskan maksudnya. Karena peka Dion mengerti Liliana sedang tidak tenang dan takut, sebenarnya ia tidak mempersalahkan Liliana yang berbicara seperti biru padanya, dan terlihat santai tetapi Liliana berfikiran beda mukanya akan marah dan tersinggung
" Lanjutkan saja, apa masih ada yang mengganjal atau kamu ingin mengatakan sesuatu lagi pada saya " Ujarnya sambil menoleh ke arah Liliana
" Tidak, saya tidak tahu tetapi entah kenapa saya selalu mudah kesal dengan Bapak, dan tanpa sengaja saya menjadi tidak sopan dengan berbicara yang terawat santai dengan Bapak seharusnya kan tidak " Jelas Liliana, sebenarnya ia tidak tahu tetapi ia mengatakannya begitu saja jika Dosen itu bertanya padanya biasanya ia tidak akan menjawab atau mengatakan yang sebenarnya jika dengan orang asing atau ia merasa tidak seharusnya di ceritain karena Liliana adalah orang yang tidak mudah percaya pada orang lain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Cerita bersambung ya teman teman, ikuti terus ceritanya, dan jangan lupa dukung author dengan kalian memberikan komentar dan saran kalian juga like sama vote nya ya....
__ADS_1
Salam hangat dari Author untuk kalian semuanya,... 🥰🥰💞💞💞💕💕