Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Ledakan!!!


__ADS_3

Para pria bertubuh kekar itu masih kukuh berdiri dihadapan pria yang sedari tadi menunjukan wajah bengisnya, mereka menahan jiwa yang sesungguhnya bergetar hebat terserap oleh aura mematikan serta tatapan tajam pria yang berbadan tinggi dan gagah itu.


"Tuan, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi." Bisik seseorang pada pria tersebut.


Beberapa waktu lalu ia mendapat kabar dari rekannya yang lain, bahwa di dalam kapal mewah tersebut terdapat bahan peledak yang belum diketahui asal-usulnya.


Tak ingin semua orang panik, beberapa orang di dalam sana berusaha mencari asal benda tersebut, tanpa sepengetahuan siapapun.


"Enyahlah!! bawa semua orang-orangmu. Katakan pada Tuanmu, apapun yang dia lakukan, tidak akan merubah keputusanku. Zalara akan tetap menjadi pedesaan sebagaimana mestinya, tidak akan ada yang berubah!" terang pria itu dengan tatapan yang masih saja tajam dan dingin.


Salah satu dari pria bergerombol bertubuh gempal itu maju satu langkah ke depan sang pria. "Sepertinya keberuntungan selalu ada di pihakmu Tuan, tapi kali ini kurasa tidak. Maka bersiaplah!" Setelah mengatakan itu, kemudian ia mengkomando orang-orangnya untuk pergi.


"Nako! apa orang-orang kita sudah menyelesaikan masalah di dalam?"


"Tidak ada jawaban Tuan. Semua sambungan terputus." jawabnya sambil sesekali menekan-nekan benda kecil yang ada di telinganya.


"Sial!" desisnya tajam.


"Saya harus memeriksa keadaan di dalam Tuan."


"Hei!!! kau ingin cari maati. Ha!!?" Sentak pria berbadan tinggi itu.


Mereka sudah berada di luar kapal, bahkan di ujung pembatas. Apakah ia juga harus kembali masuk? tapi itu terlalu berbahaya.


"Saya akan segera kembali Tuan!" ia berbalik badan, dan berjalan menjauh. Namun baru beberapa langkah...


.


.


BUMMMM!!!!!!


...*****...


Ledakan dahsyat itu begitu mengguncangkan seluruh area perairan wilayah bagian timur.


Sudah di pastikan, seluruh penumpang dan para awak kapal pesiar mewah yang kini telah hancur itu tidak ada yang selamat.


Puing-puing kapal yang kini berserakan menghiasi permukaan laut itu bercampur dengan daarah segar, serta potongan-potongan bagian tubuh manusia.

__ADS_1


"Ya Tuhan!! Apa ini pak Aris!" Seru salah seorang nelayan di wilayah tersebut. Baru saja ia mendengar suara ledakan yang begitu kerasss, menyeruak ke gendang telinga siapa saja yang mendengarnya.


Bahkan tanah yang ia pijak pun bergetar hebat menegaskan segalanya.


"Asal suaranya dari sebelah sana pak!" Seru Pak Aris membenarkan. Keduanya begitu penasaran dengan apa yang telah terjadi.


Mereka berjalan menyusuri bibir pantai, mencari asal suara. Meninggalkan kapal yang akan mereka gunakan untuk mencari ikan.


"Di sana Pak Aris!" Seru nelayan itu.


Pria paruh baya itu begitu tergesa ingin memastikan penglihatannya.


"Ya Tuhan!!!" Pekik keduanya bersamaan.


Mereka begitu terkejut, dengan mata membola begitu melihat apa yang mereka lihat. Para maayat berserakan, serta bagian badan kapal yang bercampur daarah kental itu begitu menusuk indera penciuman.


"Kita selamatkan yang masih bisa kita selamatkan pak!" Ucap Pak Aris terengah, kepalanya terasa pening buah dari keterkejutan.


"Di sini pak, sebelah sini!!!" Teriak Pak Mitri, teman Pak Aris.


Pak Aris lari tergopoh-gopoh, menghampiri Pak Mitri yang sedang berusaha menarik tubuh seseorang. Mungkin karna posisi kapal yang memang berada tidak jauh dari daratan, memungkinkan adanya bagian kapal yang terlempar ke bibir pantai. Begitu perkiraan mereka.


"Laki-laki pak! Masih hidup!" Ucap Pak Mitri. Ia memeriksa salah satu denyut nadi pria malang itu. Kondisinya saat ini tidak bisa dikatakan baik, pakaian hampir tak berbentuk, sobekan di mana-mana, serta luka di beberapa bagian tubuh.


"Ayo kita bawa kerumah!" Pak Aris hampir menitikkan air matanya melihat keadaan pria yang belum diketahui identitasnya itu. Ia teringat anak laki-lakinya yang satu tahun lalu meninggal akibat kecelekaan ketika sedang berlayar hendak menangkap ikan. Bahkan sampai sekarang jenazahnya tidak pernah di ketemukan.


Dengan alat seadanya, Pak Aris dan Pak Mitri membawa tubuh penuh luka itu menuju pemukiman yang lumayan jauh dari pantai.


...****...


"Tarik pak, pelan-pelan!" para warga begitu riuh mengetahui adanya seseorang yang dibawa ke kampung mereka akibat kecelakaan. Ini pertama kalinya.


"Ya Tuhaaan, kasihan sekali pria itu."


"Apa dia masih bernafas."


"Aduuh biarpun sedang terkapar, dia tetap terlihat gagah dan tampan."


"Huss!! jaga bicaramu Han, seseorang sedang kesakitan."

__ADS_1


Desas desus para warga mengiringi keadaan yang semakin ramai, mereka berbondong-bondong ingin melihat rupa dari pria malang itu.


"Tolong dibaringkan di dalam saja Pak." Pak Mitri dan beberapa warga lainnya membantu Pak Aris membawa tubuh tak berdaya itu ke dalam kamar yang di tunjukan Pak Aris.


"Bagaimana ini Pak?" tanya Pak Mitri panik.


"Saya dan keponakan saya akan merawatnya, yang lain tolong panggilkan Pak Sifuh, agar pemuda ini bisa segera diobati." Ucap Pak Aris.


Salah satu warga sigap membantu memanggil Pak Sifuh, ialah tetua di sana yang biasa mengobati orang sakit.


"Tolong ambilkan air bersih!" Pinta Pak Aris.


"Ini Paman, biar aku saja yang melakukannya."


Mutiara Anandita.


keponakan Pak Aris. Gadis desa biasa namun memiliki wajah yang manis, Kulitnya putih mulus, dengan rambut panjangnya yang hitam legam. Ia tampak begitu telaten membersihkan permukaan wajah serta tangan pemuda yang tengah terkapar di atas ranjang milik mendiang anak sang Paman.


Sepeninggal putra Pak Aris, kini ia hanya tinggal berdua dengan Pamannya, kedua orang tuanya sudah tiada ketika dirinya masih balita. Ayah dan Ibunya mengalami kecalakaan ketika sedang dalam perjalanan ke kota besar.


Sejak saat itu, tak ada satupun penduduk disana berani meninggalkan desa. Mereka percaya dan takut akan tertimpa kemalangan yang sama seperti yang di alami kedua orang tua Tiara.


"Tolong yang lain keluar, biar pemuda didalam di obati dan istrahat."


"Ayo! Ayo! Semua keluar."


Pak Mitri mengusir paksa para warga yang masih saja penasaran, mereka memaksa ingin masuk lantaran ingin tau perkembangan di dalam.


"Di mana yang sakit?"


"Ada di dalam Pak, mari!"


Semua warga menyingkir setelah kedatangan Pak sifuh, ia di segani semua orang hingga semuanya bubar tak lagi berkerumun.


"Sudah Tiara. Kita tunggu di luar saja, biar Pak Sifuh yang melanjutkan." Ucap Pak Aris.


"Baik Paman."


Tiara dan Pak Aris keluar, membiarkan Pemuda malang itu ditangani oleh ahlinya.

__ADS_1


...Tbc......


__ADS_2