Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Mertua dan Menantu


__ADS_3

Lain di kantor, lain juga di mansion utama.


Saat ini, Tiara tengah menemani Nyonya Bellena di taman samping bangunan mewah tersebut.


Keduanya duduk bersandar mengamati pemandangan di bawah pohon besar yang cukup rindang.


Mereka memandang hamparan bunga dan juga air mancur buatan para ahli profesional.


Sesekali Tiara akan memejamkan mata, merasakan semilir angin yang menerpa wajah cantiknya.


Dan hal itu tak luput dari pandangan Nyonya Bellena, Tiara adalah sosok wanita yang sangat lembut namun juga kuat di satu waktu. Ia juga terlihat mandiri di usianya yang masih muda.


Entahlah, Nyonya Bellena begitu nyaman dekat dengan gadis desa ini. Sebab setiap melihat wajah Tiara, Nyonya Besar itu selalu teringat akan sahabat karibnya dulu.


"Tiara, apa kau nyaman berada di sini? maksudku, tinggal bersama kami." Tanya Nyonya Bellena lembut.


Tiara membuka mata indahnya perlahan, netra coklat terang dengan bulu mata lentik itu terlihat begitu mempesona memancarkan aura positif.


Tiara menoleh pada asal suara di sampingnya, sejenak dia sempat lupa bahwa kini ia tengah bersama dengan Nyonya Bellena di taman.


"I-iya Momm" Sahut Tiara sungkan.


Rasanya ia masih belum pantas menggunakaan sapaan tersebut. Kalau saja ia tak mengharagai permintaan Nyonya Bellena, ia tak mungkin selancang itu.


"Bagaimana, kau nyaman berada di sini? Tanyanya sekali lagi.


"Aku senang karna di sini ada Mommy, Kau terlalu baik padaku Mom. Maaf, sebelumnya aku berpikir bahwa kau tidak akan mau menerimaku di sini." tutur Tiara sendu.


Nyonya Bellena tersenyum lembut, ia meraih tangan Tiara kemudian menggenggamnya.

__ADS_1


"Kau pikir aku seperti Nyonya rumah yang ada di novel-novel begitu," ucap Nyonya Bellena terkekeh.


"Wajahmu benar-benar sangat mirip dengannya, sama-sama memiliki wajah yang terkesan lugu namun tangguh dan cerdas di dalamnya,"


"Kalau saja saat itu putraku memperkenalkanmu sebagai wanita lainnya, mungkin saat itu juga aku akan mengusirmu..."


"Tapi dia tidak melakukannya." Lanjuut Nyonya Bellena dalam hati.


Tiara berdehem pelan, meski ia mengerti alasan dibalik Delvano tidak mengatakan yang sebenarnya, namun tetap saja ia merasa patah hati. Terlebih, karan sikap Delvano yang kembali dingin padanya. Ah, mengingat itu Tiara jadi kembali sedih dan kehilangan senyumnya.


"Aku sangat mengenal putraku, dia tidak mungkin membawamu ke rumah ini kalau kau tidak berarti untuknya. Jadi, kau jangan bersedih lagi." tutur Nyonya Bellena ambigu.


Tiara salah tingkah. Apa maksud ucapan Nyonya Bellena?.


"Mom..."


"Kau sudah menyelamatkan nyawanya sayang, memberikan kehidupan baru untuknya. Maka kau pantas mendapatkan kebahagiaan lebih banyak. Jadi jangan bersedih lagi." pungkas Nyonya Bellena seraya mengukir senyum teduh.


"Boleh aku bertanya Momm?"


"Hmm, kau ingin bertanya apa? tanyakan saja, apa tentang putraku yang tampan itu?" tanya Nyonya Bellena menggoda.


Semburat kemerehan itu tak mampu Tiara sembunyikan, ia tidak berniat membahas Delvano namun mengapa Nyonya Bellena seolah terus memancingnya. Ah, Tiara akan kesusahan menahan diri untuk tidak tersenyum jika terus membicarakan pria itu.


"Bukan Momm, aku penasaran dengan sahabat yang kau sebutkan tadi. Apa kalian masih sering bertemu?" tanya Tiara setelah ia berhasil mengatasi kegugupannya.


Nampak Nyonya Bellena merenung sejenak, kemudian menggeleng pelan.


"Kami berpisah setelah kami mengalami kesalah pahaman sayang, bahkan aku belum sempat meminta maaf padanya. Kabar terakhir yang kudapatkan, dia kembali ke kampung halamannya meninggalkan sejumlah saham dengan nominal yang tidak sedikit." sesal Nyonya Bellena dengan tatapan yang menerawang.

__ADS_1


"Terlepas dari apa masalah kalian, tapi sahabat tidak akan menaruh dendam Mom. Percayalah, aku yakin dia sudah memaafkanmu."


Nyonya Bellena melebarkan senyumnya, ia tau Tiara penasaran dengan permasalahannya, tapi gadis itu tidak menanyakannya. Tiara hanya memberi dukungan tanpa mengorek lebih dalam. Dan Nyonya Bellena semakin menyukai kepribadian Tiara.


"Kau benar sayang, sahabat pasti tidak akan saling menaruh dendam. Dia orang baik, aku yakin dia sudah memaafkanku."


Obrolan mereka terus berlanjut, hingga matahari mulai naik dan mereka memutuskan untul kembali ke dalam mansion. Keduanya nampak semakin akrab saling melempar candaan, membuat para pelayan yang menyaksikan keduanya ikut senyum-senyum tertular aura kebahagiaan dua wanita tersebut.


"Kau lihat, Nyonya Besar dan Nona Tiara terlihat semakin akrab setiap harinya."


"Benar, aku ikut bahagia karna Nona Tiara memberikan pengaruh positif bagi kita semua. Nyonya Besar jadi jarang marah-marah."


Mereka terkekeh pelan, takut ada yang mendengar.


"Kalau di lihat-lihat, Nona Tiara lebih cocok jadi Nona Muda di sini dari pada hanya sebagai tamu,"


"Mereka sudah seperti mertua dan menantu."


"Jaga bicaramu, nanti terdengar Nona Elmira bisa gawat!"


"Tapi ucapanku tidak salah kan?"


"Ya, kau benar." mereka lalu tertawa tertahan, merasa lucu dengan ucapannya sendiri.


Begitupun dengan pria tampan yang sejak tadi tersenyum menampilkan gigi rapinya. Ia memperhatikan melalui ponselnya di ujung sana, merasa lega sekaligus bangga lantaran Tiara tak kesusahan mengakrabkan diri dengan sang Ibu.


Kekhawatirannya luruh begitu saja, sebab ia percaya Tiara akan baik-baik saja.


...*...

__ADS_1


...*...


Tbc...


__ADS_2