Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Sisi Lain Sang CEO


__ADS_3

Tatapan tajam dengan garis rahang yang tegas itu seolah menghunus apapun yang dilihatnya. Delvano tak ingin lagi kehilangan jejak, setelah tadi ia hampir menangkap pria yang berhasil kabur itu.


Di jam 4 dini hari ini, keadaan masih begitu sepi meski si ayam jantan sudah berkokok melengkingkan suara nyaring. Suasana masih tampak gelap, membatasi jarak pandang mata.


"Aku harus berhasil keluar dari orang gila itu!"


Srak!!


"Arghh! Sial!" erangnya kesakitan.


Kakinya tergores bebatuan, serta ranting-ranting kering yang berjatuhan dari atas pohon yang mengelilingi bagian belakang mansion.


Jantungnya bergemuruh, ia ketakutan namun tekadnya begitu kuat untuk terlepas dari cengkeraman iblis berwajah bak dewa yunani itu.


Pesona Delvano memang mampu menyihir setiap orang, terutama kaum wanita. Namun di balik itu semua ia adalah pria dengan jiwa yang keras, melawan apapun yang mencoba mengusiknya.


Sudah cukup ia diam, Delvano sudah terlalu lama mengamati dari tempatnya berdiri. Kini ia harus bergerak cepat, sebelum kembali mendapat serangan mendadak.


Pria yang kini sedang berusaha menerobos penjagaan super ketat itu terus mencari celah, mencari jalan keluar di tengah gelapnya padangan mata.


"Ashhh!" desisnya menyeret kaki yang hampir koyak akibat kerikil kecil yang tajam.


Sedikit lagi ia sampai di pembatas yang berada di ujung sana, ia dapat melihat tembok kokoh yang cukup tinggi, dengan pelindung dari terali besi runcing di atas sana.


Membuang napas lelah, tubuhnya pun sudah di banjiri peluh. Tenaganya sudah hampir habis, sebab tadi terpaksa ia harus melawan para bodyguard hingga menyayat salah satu dari mereka dengan pisau kecil yang ia dapatkan dari orang yang entah siapa.


Tiba-tiba saja sebuah pisau dilempar tepat di dekat kakinya yang terikat, ia sempat kesusahan namun terus berusaha hingga berhasil mendapatkannya.


"Bagaimana caraku melewati tembok pembatas ini?" gumamnya meraba setiap benda di hadapannya.


Suasana sudah tak segelap tadi, namun tetap saja matanya kesusahan melihat ke setiap penjuru arah. Sebab di belakang sini banyak pepohonan rindang yang cukup tinggi dan besar.

__ADS_1


Ketika ia tengah fokus mencari cara, sebuah bayangan hitam melintas di belakangnya. Auranya begitu kuat, membuatnya mengigil ketakutan.


Dengan gerakan cepat ia meraih apa saja yang di sentuhnya, ia ingin segera keluar dari sana. Namun tiba-tiba...


Srettt!


"Aaa!!!!"


Teriakannya melengking, memantulkan gema yang memekakan telinga.


"A-ampun Tuan!" mohonnya terduduk lemas.


Pria tampan pemilik netra elang itu berdiri dengan gagahnya di hadapan pria yang hendak kabur itu.


Ia menyayat salah satu lengan pria itu dengan pisau lipat berbentuk cerulit kecil. Hingga mengakibatkan koyakan yang mengeluarkan darah kental dari daging tebal si pria.


"Tinggal, atau mati?" ucapnya membuat siapapun bergidik ketakutan mendengar suaranya yang berat seperti geraman.


"Kau sudah salah berurusan denganku! Jika aku tak memikirkan wanitaku, kau sudah lama tiada!"


Srettt!


"Aaa!!


Lagi. Delvano kembali mengukir sayatan kecil di tubuh pria itu, kali ini kakinya lah yang jadi sasaran Delvano.


"Larilah sejauh mungkin!" ucap Delvano menyeringai.


Pria yang sudah kehilangan tenaganya itu memaksakan diri untuk berjalan mencoba menjauh dari sosok bengis tanpa belas kasih.


Ia sudah seperti bulan-bulanan Delvano. Dipaksa berlari namun dengan keadaan tak berdaya seperti ini.

__ADS_1


Dengan santainya Delvano berjalan mendekati si pria yang kini hanya berjarak beberapa senti saja dengannya.


Ia tersenyum licik, menampilkan wajahnya yang kelam.


Beberapa bodyguard sudah bergabung di sana, mereka hanya diam menyaksikan tanpa berani menghentikan.


"Kau tau pasti apa salahmu bukan? Berpura-pura mati hanya untuk bergabung dengan si bajingaan itu!"


"A-aku terpaksa."


"Dan menjadi pembunuh bayaran?!!" sambar Delvano murka.


"Kau dibayar untuk menjadi budaknya, kemudian menguntit kediamanku!...


Jeda sejenak.


"Apa yang kau inginkan, nyawaku? Hem?" Delvano semakin mengikis jarak. Derap langkahnya berlomba dengan detak jantung pria itu yang semakin menggila.


Delvano kembali mengangkat tangannya, hendak menambah luka pada tubuh yang sudah koyak itu.


Namun pria paruh baya di belakang sana berlari tergesa, dengan teriakannya yang menggelegar.


.


.


.


"Aryan!!!...."


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2