
**Biasakan tekan Like sebelum membaca 🙏
🦋🦋🦋🦋🦋**
Aryan masih saja betah memandangi wajah kelelahan Tiara pagi ini, ia mengusap lembut kepala gadis itu kemudian turun di bibir ranum yang semalam terus menyebutkan namanya.
Aryan tersenyum,ketika mengingat hal itu. Ia kembali menarik tubuh wanita yang kini masih bergelung dalam selimut tipis menutupi tubuhnya yang polos.
"Selamat pagi sayang." bisik Aryan lembut tepat di telinga Tiara.
Tiara hanya bergumam pelan tanpa menjawab, ia malah kembali menelusupkan kepalanya semakin dalam ke dada bidang sang suami. Rasanya terlalu malu untuk sekedar membuka mata.
"Baiklah, aku akan membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu kita sarapan." bisik pria itu lagi. Aryan mengecup lembut kening Tiara kemudian perlahan menyingkap selimut.
Ia hendak berdiri namun urung sebab entah kenapa pandangannya saat ini sedikit kabur, disertai dengan nyeri dibagian kepalanya.
"Ssshhh." Aryan mengerang tertahan.
Aryan duduk dengan kaki menjuntai ke lantai, mencoba untuk menetralkan kembali rasa sakit yang kini datang semakin kuat.
"Tidak!, jangan sekarang!." bathin Aryan.
Ia mencengkram erat rambutnya, berharap rasa sakit itu sedikit mereda. Namun sayang, nyeri itu terus menghantamnya seakan kepalanya terlepas dari tubuhnya.
Bahkan kini ia tak bisa mendengar apapun, telinganya terasa berdenging, memekakkan telinga.
Bunyi itu terasa nyaring, menutupi suara Tiara yang sejak tadi memanggil-manggil namanya.
Sungguh Aryan tak bisa mendengarnya, ia hanya bisa melihat gerakan mulut Tiara yang sedang berusaha menyadarkannya.
"Kak!!, Kau kenapa?, Apa kau bisa mendengarku?, jangan membuatku takut." seru Tiara mencoba untuk menarik kembali kesadaran Aryan.
Pria itu terus memegangi kepalanya, dengan sesekali menggeleng keras dan mengernyit menautkan alisnya.
"A-ara!."
Wajah Aryan sudah pucat, dan Tiara semakin panik, ia mencoba merangsek mendekati pria itu kemudian memeluknya.
"Aku mencintaimu Kak, ku mohon jangan seperti ini." ucap Tiara parau, ia sudah menangis seraya tangannya berusaha menggapai tangan Aryan yang masih berada di kepalanya.
Tiara menariknya pelan, kemudian menciumnya secara bergantian. Aryan hanya menatap kosong, dengan nafas yang kembali beraturan, tidak seperti sebelumnya yang seolah menahan sesak.
__ADS_1
"Jangan bilang setiap pagi Kau selalu seperti ini, Kau tidak menyembunyikan apapun dariku kan Kak?!." tanya Tiara seraya berderai mata.
Aryan mencoba menghapus air mata Tiara, inilah alasan kenapa ia tak mengatakan apapun mengenai kondisinya pada Tiara, sebab Aryan tau bahwa itu hanya akan membuat Tiara khawatir berlebihan seperti ini.
"Aku tak apa sayang." ucap Aryan menenangkan.
Sungguh Tiara tak mungkin bisa mempercayai perkataan suaminya begitu saja, dengan wajah pucat disertai telapak tangan yang dingin itu?. Tiara sungguh panik dibuatnya.
Glekk!!..
Tiba-tiba Aryan menelan salivanya kasar, fokusnya kini teralihkan pada benda sintal yang menggelantung bebas tanpa sehelai benangpun yang menutupi, jakun Aryan naik turun mencoba untuk menelan membasahi tenggorokannya.
"Hei!, kau sedang menggodaku?, hmm?." tanya Aryan pada Tiara yang belum menyadari dengan keadaannya sekarang.
Sontak Tiara mengikuti arah pandang Aryan, ia memperhatikan keadaan tubuhnya saat ini, Tiara memelotot kaget. Buru-buru ia menarik selimut untuk menutupinya.
"Apa yang kau katakan kak!, aku benar-benar panik." serunya sembari mengeratkan selimut.
Aryan terkekeh geli melihat Tiara yang masih saja gugup, padahal mereka sudah berbagi segala hal.
"Aku sudah tau semuanya, jadi untuk apa di tutupi." seloroh Aryan seraya tersenyum misterius.
Srett!!..
Sontak Tiara memalingkan wajahnya. Bagaimana bisa pria itu tak menghiraukan benda pusaka yang kini terpampang indah di depan mata Tiara yang belum terbiasa dengan hal ini.
"Malu?, hmm?." ucap Aryan serak, ia kembali naik ke atas ranjang kemudian mengungkung tubuh polos Tiara.
"A-aku mau keluar." cicit Tiara ambigu, jantungnya sudah berdebar kencang lantaran bersitatap dengan iris mata Aryan yang kini seperti elang saat ingin menerkam mangsanya.
"Sh-**!, Aku bahkan belum melakukan apapun Ara." bisiknya semakin serak dan berat. Ia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Tiara.
Tiara mencoba mendorong dada keras itu meski tak berpengaruh sama sekali. "Kak, aku masih lelah." bisik Tiara hampir tak terdengar.
Aryan tersenyum penuh arti, ia mengelus pipi Tiara dengan lembut. "Hmm, aku tau. Aku memang sehebat itu." ucapnya seraya menatap lekat wajah Tiara.
"Kaaakkk!." rengek Tiara malu-malu.
Aryan terkekeh geli, ia segera menarik diri dari atas tubuh istrinya. Tubuhnya teramat memerlukan air saat ini.
...*****...
__ADS_1
Selesai keduanya membersihkan diri, Aryan mengenakan kemeja yang Tiara pilihkan sebelumnya. Beruntung ukuran tubuh suaminya itu memang tak terlalu jauh dengan mendiang sepupunya.
"Berkedip sayang." ucap Aryan pada Tiara yang terlihat mematung melihat penampilannya.
"Setampan itukah aku?." lanjutnya lagi, ia tersenyum geli melihat reaksi Tiara yang salah tingkah, pipinya sudah merona menahan malu lantaran tertangkap basah tengah mengagumi pahatan sempurna itu.
"Hari ini kau sangat tampan, aku menyukai setiap hal yang ada di tubuhmu."
"A-apa?, apa yang kau katakan Ara?."
Tiara mengernyit. Apa maksud Aryan?, dia bahkan tak mengatakan apapun. Ia kembali panik melihat air muka Aryan yang kembali pucat.
"Hanya hari ini?."
"Tidak,kau memang selalu sempurna. I love you."
"Ssshhh,argh!." Aryan mengerang, ia kembali merasakan sakit yang teramat di kepalanya.
"Kak!!?."
"A-aku, aku....
Bumi terasa berputar tak berkesudahan, Aryan mecoba untuk mencari apa saja yang bisa ia jadikan tumpuan. Ia menyenderkan tubuhnya di dinding, menekan rasa pusing dan nyeri.
"Kak!, apa yang terjadi!?." panik Tiara berusaha menggapai tangan Aryan. Apa yang harus ia lakukan, ia sama sekali tak bisa berpikir saat ini.
"S-sayang, a-aku.. Aarghhhhh!!." jerit Aryan.
Tiara tak tahan lagi, ia kembali menangis sembari menggenggam lengan Aryan yang masih mencengkram kuat kepalanya.
"Paman!, tolooong!!." teriak Tiara mengagetkan Pak Aris yang berada di ruang tamu.
"E-elmira." lirih Aryan bergumam kecil.
.......
.......
.......
Brukkk!!!...
__ADS_1
...Tbc......