
"Berhenti!..."
"Ku bilang berhenti!" Seru Tiara.
Ia mulai menangis, air matanya mengalir deras tak lagi dapat dibendung.
Dan tangis yang terdengar pilu itu mampu menghentikan langkah lebar Delvano. Ia bergeming, diam berdiri di undakan tangga terakhir dengan posisi yang sama.
Melihat hal itu, Tiara segera menghampiri sang suami. Ia tak peduli jika setelah ini Delvano akan semakin menjauhinya, ia juga tak peduli jika saja ada orang yang melihat kedekatan mereka.
Untuk saat ini, Tiara hanya ingin memeluk pria itu. Memeluk puggung kokoh yang beberapa hari ini hanya bisa ia tatap dari kejauhan saja.
Bruk!
Sesaat, tubuh Delvano membeku, darahnya seakan berhenti mengalir dengan jantung yang bergemuruh hebat.
Tangannya mengepal kuat, seiring belitan tangan Tiara yang semakin mengerat.
"Lepas!" desis Delvano seraya memalingkan wajahnya.
Ia dapat merasakan gelengan lemah Tiara yang menempel di punggungnya.
"Sebentar saja, kumohon."
Delvano menarik napas berat, berkali-kali ia menggingit bibir bawahnya lantaran menahan diri agar tak hilang kendali detik itu juga.
"Apa kau akan terus seperti ini Kak?..."
"Kumohon katakan sesuatu, jangan mendiamiku seperti ini. Kau tau ini menyakitiku sayang..."
"Katakan, apa kehadiranku sudah tak lagi berarti untukmu? apa... apa aku harus pergi?..."
" Itukah yang kau inginkan?"
Tadinya Tiara ingin mempertahankan keterdiamannya, dia ingin memberi waktu pada suaminya hingga mau bicara atas kemauannya.
Tapi sepertinya hal itu tak ada gunanya, semakin hari Delvano semakin jauh dari jangkauannya.
"Kali ini saja, izinkan aku bertanya. Tentang hubungan kita, tentang abaimu, juga tentang hubunganmu dengannya."
Pertanyaan beruntun itu sukses menghujam jantung terdalam Delvano, ia memejamkan matanya sejenak, untuk kemudian berbicara setelah cukup lama terdiam.
Namun tanpa terduga, mata elangnya menangkap sosok yang bersembunyi di balik pintu penghubung, di ujung sana.
__ADS_1
"Untuk apa mempertanyakan hal yang kau sendiri sudah mengetahui jawabannya!" Ucap Delvano akhirnya.
"Tetaplah di tempatmu!, kurasa kau tentu tau batasan yang tak seharusnya kau lewati. Lakukan seperti sebelumnya!" Lanjutnya.
Perlahan belitan tangan Tiara mengendur, ia kemudian mundur satu langkah hingga menciptakan jarak di antara keduanya.
Tiara ingin kembali bicara, namun Delvano sudah lebih dulu pergi meninggalkannya yang luruh terduduk begitu saja.
"Aku mengerti, aku mengerti Kak." ucapnya terisak lirih. Tiara membekap sendiri mulutnya, menahan isakan yang seakan ingin pecah.
...*...
...*...
Keesokan harinya.
"Tuan."
"Hm."
"Nyonya besar sejak tadi mencemaskan anda." terang Nako menunduk resah.
Pasalnya, sudah jam 8 pagi namun Delvano tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Ia masih memejamkan mata di kursi panjang yang ada di ruangan kerjanya.
Entah pria ini tidur atau tidak, sekilas saja Nako bisa melihat sekacau apa penampilan Tuannya kini.
"Tapi Tuan... "
"Kau tidak mengerti bahasa manusia!?" sentak Delvano.
"Kita harus segera ke kantor Tuan, hari ini ada pertemuan penting." terang Nako.
"Aku tidak peduli!"
"Tapi ini sudah masuk di schedule Tuan."
Delvano seketika membuka matanya yang sejak tadi terpejam. Lalu ia bangun dan menatap ke arah Nako.
"Kalau pertemuan ini tidak penting, aku akan membunuhmu Nako!" gertaknya seraya berdiri, dan keluar lebih dulu.
Delvano segera bersiap, setelah itu ia turun ke lantai satu dan bergabung dengan yang lainnya.
Semua orang sudah berkumpul di meja makan, kecuali Tuan Gunz yang pagi ini memilih untuk sarapan di kamarnya lantaran kondisi kesehatannya yang kembali menurun.
__ADS_1
"Apa kau tidur di ruang kerjamu lagi sayang?" Tanya Nyonya Bellena memulai pembicaraan.
Pertanyaan itu membuat pergerakan tangan Tiara terhenti.
Lagi?.
Apa maksud ucapan Nyonya Bellena?.
"Suamiku hanya kelelahan bekerja Mom, setiap malam kami selalu tidur bersama. Benar begitu kan sayang?"
Delvano melirik Elmira sekilas, lalu berdehem pelan sebagai jawaban.
Dan interaksi kecil itu tentu di saksikan pula oleh Tiara yang posisinya ada di samping Nyonya Bellena.
Tiara semakin menundukan wajahnya, ia hampir tak sanggup menelan makanan yang serasa tercekat di tenggorokannya.
Namun buru-buru ia bersikap seolah tak terjadi apapun saat Sang Nyonya besar memanggil namanya.
"Kau baik-baik saja Tiara?, kenapa akhir-akhir ini wajahmu selalu terlihat pucat. Apa kau sakit?" Tanyanya cemas.
"Sa-saya baik-baik saja Nyonya." Sahut Tiara.
"Sudah kubilang, panggil aku Mommy!" Pinta Nyonya Bellena.
"Kau tau, saat pertamakali kita bertemu, aku langsung teringat pada sahabatku dulu. Kau sangat mirip dengannya." terang Nyonya Bellena seraya menatap wajah teduh Tiara.
Ia begitu bersyukur lantaran Delvano memperkenalkan Tiara sebagai orang yang selama ini menolongnya. Bukan sebagai wanita simpanan yang selama ini gencar diberitakan.
Karna jika itu terjadi, maka sudah pasti ia akan membenci gadis dengan wajah polos itu.
"Perhatikan dirimu sayang, jangan sampai sakit." ucapnya kembali.
"Dia seperti itu karna memang tidak terbiasa merawat diri saja Mom. Biar kuberi tahu, sebagai wanita kita harus pandai merias diri, agar kau tidak pernah kehilangan orang yang kau cintai." Celetuk Elmira menimpali.
Tiara diam saja, karna apa yang dikatakan Elmira memang benar adanya.
"Jaga bicaramu El." Seru Nyonya Bellena.
"Itu hanya saranku sebagai sesama wanita Mom, kau mengertikan Tiara."
Tiara hanya bisa mengangguk pelan, dengan mengulas senyum tipis. Ia tak bisa menjawab lantaran sudut matanya menangkap netra elang milik Delvano tengah menatapnya.
...*...
__ADS_1
...*...
Tbc...