Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Bab 61 - Membuka Topeng


__ADS_3

"Kau ingin terus bermain petak umpet denganku? Huhh, pengecut!" sinis Delvano seraya memainkan pisau kecilnya yang ia pegang.


Delvano menatap sinis pada siluet seseorang yang tengah berdiri di balik pilar tersebut.


"Yash, im here doggy..." sahutnya tak kalah sinis. Ia keluar dari persembunyiannya dengan memasang wajah dingin.


Dialah Louis Alexander Gilbert. Putra pertama dari keluarga Gilbert. Keberadaannya tidak diketahui publik, sebab ia lahir di luar tali pernikahan sebelum tuan Gilbert menikahi ibunya Liam.


Kehidupan Louis dan Liam berbanding terbalik. Liam dengan dikelilingi kehidupan yang serba mewah serta gemerlap, dia menjadi bahan sorotan dan selalu di elu-elukan. Soal kasih sayang pun Liam tak kekurangan, ia mempunyai kehidupan paling sempurna di mata Louis yang jauh dari kata bahagia.


Meski soal menafkahi Tuan Gilbert tentunya tetap memenuhi, ia tetap memberikan hak penuh pada Louis dan ibunya hingga terjamin secara finansial.


Namun semakin Louis bertambah dewasa, justru ia malah merasa tersinggung, yang berangsur menjadi rasa iri hingga ingin memiliki segalanya.


Hingga timbullah rasa benci yang semakin membesar pada saudara tirinya-Liam.


"Harusnya aku yang ada di posisi itu. Bukan anak sialanmu itu! Aku juga putramu!" tuntut Louis kala itu.


Louis merasa apa yang dimiliki Liam saat ini ialah haknya. Apapun akan ia lakukan, asal bisa merebut kedudukan yang seharusnya jadi miliknya.


Sampai pada akhrinya ia menemui celah, yakni mencari kelemahan Liam dari segi rival bisnis. Semesta seolah mendukungnya, jalan Louis terbuka lebar sebab ternyata pesaing Liam tak lain ialah Delvano sendiri. Sahabat, sekaligus suami dari wanita yang ia cintai.


"Aku bisa membereskan keduanya dalam satu gerakan saja." seringai Louis saat ia merencanakan kecelekaan waktu itu bersama Elmira.


Dalam benak Louis, jika Delvano dan Liam tiada maka ia bisa menguasai Gilbert serta memiliki Elmira seutuhnya. Dan bukan tidak mungkin ia pun bisa memiliki perusahaan raksasa seperti MHW Company.


Sebab semua orang hanya mengetahui bahwa ahli waris Mahawira satu-satunya ialah Aiden, putra kandungnya sendiri.


Niat jahat Louis dan Elmira semakin mantap, saat Delvano tiba-tiba saja membongkar identitas Aiden. Bahkan perceraian yang Delvano layangkan saat itu membuat Elmira kelabakan sebab nama baik dan keluarga besarnya otomatis berada di ambang batas kehancuran.

__ADS_1


"Apa yang akan keluargaku katakan jika mereka tau aku telah berselingkuh. Aku juga tidak bisa membayangkan reaksi publik, mereka pasti akan mencemoohku sayang. Lakukan sesuatu!" desak Elmira mengungkapkan keresahannya pada Louis.


Rencana tinggallah rencana, menghancurkan manusia seperti Delvano nyatanya tak semudah yang ia bayangkan. Kegagalan demi kegagalan Louis terima, meski keberuntungan masih sedikit berpihak padanya saat Delvano kembali tanpa ingatan yang utuh.


Sebenarnya, saat Liam membeberkan segalanya di rumah sakit. Ia tak mengerti mengapa Delvano langsung tak sadarkan setelah mendengar nama kakak kandungnya.


Liam tak tau, bahwasanya selama ini Louis ada di tengah-tengah hidup Delvano sebagai sahabat dekat. Bahkan pria itu sedang ditugaskan sementara menjaga Nyonya Muda Mahawira selama Delvano berada di Luar Negeri.


Selama ini, pria itu memperkenalkan diri dengan nama Louis Alexander saja, tanpa ada nama Gilbert di belakangnya.


Kehidupan Louis yang urakan dan terlihat sembrono, membuat Delvano tak menaruh curiga sama sekali. Louis yang dikenalnya adalah raja jalanan, menyukai balapan liar serta ugal-ugalan, bukan anak pewaris dari sebuah keluarga ternama.


...*...


...*...


Rasanya tidak ada kata yang mampu mewakili perasaan Delvano saat ini. Istri tercintanya disiksa sedemikia rupa, serta adik perempuan yang selama ini ia jaga ikut jadi korban kegilaan Louis. Tidak cukup sampai di situ, Delvano juga terpaksa harus merelakan anak yang masih berupa janin di rahim ibunya.


Delvano tersenyum smirk. Menghadapi iblis seperti Louis tidak perlu banyak bicara.


Mata elangnya menangkap pergerakan Louis yang akan menodongkan pistol ke arahnya.


Tak!


Tak!


Keduanya menodongkan senjata berisi timah panas itu secara bersamaan.


Delvano menyeringai, ia bisa menangkap sekilas keterkejutan dari wajah pria itu. Saat tiba-tiba ada sebuah pistol lain yang mengarah ke kepalanya dari arah samping.

__ADS_1


"Pilihlah, kau ingin mati di tanganku, atau di tangan adikmu sendiri?"


"Brengsek!"


Posisi Louis terjepit, semua anggotanya sudah tak berdaya akibat ulah Delvano dan Liam. Jalan satu-satunya ia harus mengahadapi ini sendirian.


Dengan gerakan cepat Louis mendorong tubuh Liam hingga menjauh darinya, bersamaan dengan itu Delvano meletuskan satu peluru ke arah Louis.


Dor!


Timah panas itu mengenai lengan Louis, hingga ia sempat terpental dan refleks menembak. Namun sayang, pelurunya meleset tak tentu arah ke udara.


Suara ledakan senjata api itu terus terdengar, begitu mengerikan di malam yang semakin larut ini.


Sementara Tiara dan Alana sudah dilarikan ke rumah sakit, di pimpin oleh Nako dan para tim medis yang tadi sudah tiba dan memberikan pertolongan pertama.


Tiara tak sadarkan diri, sementara Alana cukup memprihatinkan lantaran masih terus berteriak histeris dan meracau tak jelas.


Rupanya, ketika ia mendapatkan perlakuan tak senonoh tadi, pria biadabp itupun dengan sengaja mengukir sebuah huruf "L" di atas dada kirinya. Hanya dengan sebuah pisau kecil, yang mana selain memberi luka dan sakit hingga berdarah-darah, Louis seolah ingin Alana selalu mengingat kejadian ini melalui ukiran yang ia buat.


"Bahkan mati saja kurasa tak cukup untukmu!" desis Delvano yang dengan cepat menerjang tubuh Louis saat sedang limbung akibat beberapa luka tembak yang didapatinya.


"Uhuk!!"


Louis terbatuk darah, namun Delvano sama sekali tak peduli. Sorot matanya sudah dikuasai amarah, ia menatap Liar meski kegetiran itu tak bisa ia sembunyikan.


Kesakitan yang Delvano rasakan teramat nyeri, secara tidak langsung ia pun harus kehilangan salah satu sahabat yang pernah ia percaya.


"MATILAH!"

__ADS_1


Sret!


Sret!


__ADS_2