
"Vano, apa kau akan terus seperti ini sayang, apa masalahmu?"
Elmira sudah sangat muak dengan semuanya, sampai kapan ia harus bersabar menghadapi sikap Delvano. Ia tak bisa pungkiri bahwa pesona pria yang baru saja menepis kasar tangannya begitu membuatnya dahaga akan rengkuhan bisep kokoh tersebut.
Elmira tak menyangka, bahwa ia akan kembali mendamba pria ini. Diam-diam ia berharap selamanya saja Delvano tak mengingat semuanya, ia akan memulai semuanya dari awal, membuat pria tampan ini kembali menatapnya.
Meski resikonya cukup besar, namun Elmira akan berusaha semampunya.
"Jangan gila El. Sudah ku katakan aku tak ingin menyentuhmu sebelum kau jelaskan semuanya." ujar Delvano seraya menarik diri dari bawah selimut.
Di awal, Delvano memang selalu tidur di ruang kerjanya, namun akhir-akhir ini ia kembali ke kamar Elmira lantaran tak ingin terus menerus hidup dalam bayang-bayang misteri yang belum bisa ia pecahkan.
Ia berharap bisa dapat jawaban selama ia mendekatkan diri dengan Elmira. Nako sudah melaporkan bahwa ada yang tidak beres dengan pernikahan Delvano.
Bukti transferan sejumlah uang yang tidak sedikit, berasal dari keluarga Gilbert ke rekening pribadi Elmira pun jadi pacuan Delvano bahwa Elmira ada hubungannya dengan kejadian kecelakaannya tempo lalu.
Pelan-pelan ia akan menguak semuanya. Ia yakin Elmira dan Liam ada perjanjian kerjasama yang entah apa.
"Penjelasan apalagi sayang, kita baik-baik saja. Aku bahkan tak menyembunyikan apapun dairmu." kilah Elmira memelas.
Namun, sikap dan ekspresi memelas yang di tunjukan Elmira tak mampu menggoyahkan kecurigaan Delvano.
Delvano tersenyum mengejek, ia mendudukan diri di ranjang. Dengan Elmira yang juga duduk menghadapnya.
"Kita baik-baik saja? benarkah?"
"Lalu kenapa aku tak merasakan apapun setiap kali kita berdekatan? Meski amnesia sekalipun, harusnya instingku sebagai suami yang mencintai istrinya tak mungkin berubah tanpa alasan."
"Itu hanya bersifat sementara sayang, maka dari itu kita jangan menyerah untuk tetap mencoba,"
"Sentuh aku!" pinta Elmira dengan posisinya yang kini sudah di atas pangkuan Delvano.
"Kau menantangku?" ucap Delvano meremaas bahu Elmira.
"Tidak. Aku memancingmu!" sahut Elmira tak ingin menyerah.
__ADS_1
Perlahan ia menyentuh tangan Delvano yang ada di bahunya, lalu ia pindahakan tangan itu ke atas dadanya yang nampak menyembul padat.
"Lakukan!" serak Elmira mulai terbakar hasraat.
Tangan Delvano mulai bergerak di sana, di tempat yang seharusnya jadi bagian favorit Delvano sejauh ini. Namun hal itu berlaku jika wanitanya adalah Tiara. Karna ketika ia melakukannya dengan yang lain ternyata rasanya tidak sama.
"Sudah siang, aku harus bersiap!" seru Delvano menyudahi kegiatannya.
Elmira tentu begitu kecewa. Kecewa lantaran ia kembali gagal membawa Delvano kembali ke peraduan.
Pria itu sudah bediri, memasuki kamar mandi dan meninggalkan Elmira dengan harapannya yang kembali hampa.
...*...
...*...
"Sayang, kau belum memakai dasimu?" sapa Elmira saat ia membuka pintu kamar. Ia tadi habis melakukan olahraga sebentar di taman, dengan pakaian khas yang menampilkan lekuk tubuhnya.
Wajah dan bagian tubuhnya yang lain terlihat masih basah oleh keringat akibat dari aktifitasnya. Dan itu menambah point seksi di mata siapapun yang melihatnya.
Tak terkecuali Delvano.
Rambut panjang yang Elmira ikat tinggi-tinggi, dua aset sekal menggoda dengan ukuran yang pas di pandang mata. Belum lagi bentuk tubuhnya yang tak beda jauh dengan jam pasir.
Elmira nampak sempurna sebagai wanita.
"Tampan sekali," ucap Elmira ketika ia dengan sengaja memperlambat gerakannya yang tengah memasangkan dasi.
"Dulu kita selalu berciuman setelah aku selesai memasangkan ini untukmu sayang." bisik Elmira di telinga Delvano.
Ia berjinjit, kemudian mencium belakang telinga Delvano dengan gerakan sensual.
Kemudian beralih ke pipi keras Delvano, dan berakhir di bibir pria itu.
Godaan Elmira kali ini sepertinya berhasil, sebab gerakan lembut dari bibir Delvano mampu membakar gairaah Elmira yang sebelumnya sempat padam.
__ADS_1
Tak ingin membuang-buang waktu, Elmira segera membalas dengan gerakan yang sedikit tergesa.
Keduanya saling memagut, saling memberi kepuasan satu sama lain.
Lain di lantai atas, lain pula di lantai bawah. Saat ini Aiden sedang merengek, sebab kedau orang tuanya belum juga muncul menemuinya pagi ini.
Bocah kecil itu bahkan sudah siap dengan makanannya di meja makan, namun ia tak ingin menyentuhnya sebelum di temani oleh Daddy dan Mommynya.
"Makanlah dulu Ay! Mommy dan Daddy mungkin masih bersiap di kamarnya." bujuk Nyonya Bellena dengan panggilan sayangnya.
Namun Aiden tetap menggeleng, ia bersikukuh dengan keinginannya.
"Sudah Mom, biar aku saja yang membujuknya." putus Tiara menengahi.
Nyonya Bellena mengangguk setuju. Beberapa hari ini Aiden dan Tiara memang mulai dekat, sebab keduanya tak jarang mengahiskan waktu bersama.
"Ay, kau ingin menemui Mommy dan Daddy?" tanya Tiara lembut.
Aiden mengangguk, dengan binar bahagia yang terpancar dari matanya yang bersih.
"Ya Aunty." sahutnya lucu.
"Kau sangat menggemaskan." puji Tiara seraya mengusap pipi Aiden.
Keduanya turun dari kursi, dengan Aiden yang melompat karna terlalu bersemangat.
"Pelan-pelan Ay!" ucap Nyonya Bellena mengingatkan cucunya.
Wanita paruh baya itu menggeleng pelan, melihat Aiden yang semakin nyaman berada di dekat Tiara.
Sejauh ini ia tidak pernah salah menilai orang, Tiara memang wanita yang memiliki hati paling tulus, dan berpikir lurus.
Hanya saja orang yang terlalu sering memendam rasa, sewaktu-waktu ia bisa meledakan emosi, emosi yang selama ini ia simpan dalam-dalam.
...*...
__ADS_1
...*...
Tbc...