Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Bab 60 - Luapan Emosi


__ADS_3

Di setiap detiknya, namamu lah yang terucap lewat kata. Di setiap debar jantung yang semakin menggila, ada kau yang menyelinap di dada.


Kau bilang, aku adalah rumah. Kau bilang, aku pelabuhan terakhirmu. Maka sejauh apapun kau melangkah, aku akan selalu jadi tujuan terakhirmu.


Kau adalah maghnet, dan aku tak akan salah menentukan arah. Begitu katamu.


Tapi... mengapa aku tak merasakan hadirmu? di mana kau berada? kau tak ada di manapun. Apa semua kata yang terucap darimu hanya gurau belaka, atau hanya sekedar pemanis kata?.


Pulanglah, kembalilah. Sebab aku hanya bisa menunggu tak mampu menyampaikan rindu. Hanya bisa tergugu, diiringi tangisku yang pilu.


Andai aku bisa menahan diri, aku tak akan sesakit ini. Andai aku bisa menahan diri, aku tak akan jatuh sedalam ini. Dan andai aku bisa menahan diri, aku tak akan sehancur ini.


Wanita yang kini tergeletak bersimbah darah itu meraung dalam diam, menahan semua rasa sakit yang dirasakannya. Tiara sadar betul, luka mendalam ini sudah tak bisa disembuhkan. Sebab luka yang sebelumnya saja masih basah, sudah kembali dihujam luka baru.


Bukan hanya luka fisik saja yang ia terima, namun juga segala luka batin yang sudah lama mengendap di dada.


"Dia tak datang." batin Tiara.


...*...


...*...


Malam semakin larut, diiringi hujan yang cukup lebat. Serta suara gemuruh dari guntur dan petir yang menyambar.


Meredam suara teriakan dan raungan para penghuni mansion utama. Cuaca ekstrem ini seolah menjadi saksi akan kepedihan yang diciptakan oleh para manusia keji di dalam sana.


Namun kaki-kaki lincah yang menerjang tembok pembatas ini nampak terlatih dan cepat menapaki bebatuan serta pohon-pohon yang turut menghalangi jalan mereka.


"Boss, saya akan menyingkirkan terali ini terlebih dahulu."


Delvano tak peduli, ia segera mengayunkan tubuhnya dengan ringan seraya mengeluarkan pisau kecil berbentuk cerulitnya dari balik jaket yang ia kenakan. Dan...


Tak!


Tak!

__ADS_1


Ia memotong dengan cepat, kemudian kembali mengayunkan tubuhnya hingga mendarat tepat di atas rerumputan bagian samping mansion.


Matanya menyisir liar, mencari seseorang yang sangat ingin ia temui. Hujan terus mengguyur, membasahi pakaiannya yang sudah melekat, sebab ia hanya memakai dalaman kaos tipis saja memperlihatkan pahatan sempurna miliknya.


"Jangan ada yang bersuara!" ucapnya seraya mengacungkan telunjuk tanpa menoleh.


Nako dan para bawahannya mengangguk mengerti, mereka mengendap menyusuri lorong demi lorong bangunan megah ini. Mudah saja bagi mereka menelusuri tempat, sebab ini di wilayah Tuannya sendiri.


Mereka terus mengikuti arahan Delvano, sampai pada akhirnya langkah mereka tiba-tiba terhenti. Dari sini, mereka bisa menyaksikan seorang pria berbadan tinggi dengan pakaian serba hitam itu tengah menerjang beberapa pria yang sedang mengelilingi seseorang.


Pria itu mengahajar membabi buta tanpa pandang bulu. Nako dan bawahannya bahkan tidak sadar dengan posisi Delvano yang sudah tak ada di hadapan mereka.


Pria itu nampak sudah berada di tengah kerumunan dengan menyabit siapapun dan apapun yang dilewatinya.


"LAKNAT!!!"


"KALIAN SEMUA MENCARI MATI!!"


Crak!


Delvano seakan menjelma bak iblis sesungguhnya, tak peduli dengan siapa ia berhadapan saat ini.


Bahkan Liam pun sempat terpaku sesaat melihat luapan emosi Delvano. Ia sudah sampai lebih dulu dan langsung menghajar para pria tidak berperasaan itu dan menarik tubuh seorang gadis yang sudah hampir tak berbusana.


"Kau aman bersamaku." bisik Liam menenangkan.


Liam terus memeluk erat Alana, tak peduli dengan rontaan Alana yang terus saja memukulinya. Gadis itu berteriak histeris, mengeluarkan umpatan yang terdengar menyayat hati.


"Lepas! Lepaskan aku bidabp!" raung Alana di sisa tenaganya.


Dengan segera Liam menyelimuti tubuh Alana dengan jaketnya sendiri yang sudah ia lepas sebelumnya. Lalu ia kembali mendekap, dan menariknya ke tempat yang lebih aman.


Sementara Delvano terus bertarung melawan beberapa pria sekaligus hingga tumbang. Begitupun dengan Aryan yang sudah terkapar akibat tendangan dan sabitan di perutnya.


"Bagaimana bisa kau menyakiti saudaramu sendiri brengsek!" berang Delvano murka.

__ADS_1


Jantung Delvano serasa terlepas begitu saja dari tempatnya, saat pertama kali ia melihat kondisi Tiara. Wajahnya tak berrona, dengan luka lebam dan bibir yang membiru.


Lalu pisau kecil yang masih menancap di paha mulus yang kini berlumur darah itu seakan menghentikan laju darah dan pernapasan Delvano.


"Sa-sayang..."


Ia segera meraih tubuh dingin itu, mendekap erat dan mencium kepala Tiara bertubi-tubi. Tangan Delvano perlahan menyentuh perut sang istri yang masih rata. Ia mengusap pelan, dengan hati yang tiba-tiba saja bergemuruh hebat.


"Baby... maafkan Daddy." batinnya.


"Kumohon bertahanlah Ara." mohon Delvano di sertai giginya yang gemerutuk menahan sakit dan emosi yang bercampur jadi satu.


Matanya menajam, ia meletakan Tiara di atas kursi kemudian kembali berjalan mendekati Aryan yang semakin memberingsut mundur.


Rima dan 2 pelayan lainnya mengambil alih Tiara, setelah sebelumnya mereka di bebaskan oleh para bawahan Nako. Sebelumnya mereka dikurung di ruang bawah tanah, tempat dulu Aryan disekap di sana.


"A-aku tidak sengaja." kilah Aryan sembari memegangi perutnya yang mengeluarkan banyak darah.


"Kau memang ingin mati di tanganku!" desis Delvano seraya berbalik berjalan mendekati Aryan.


Ia terus berjalan, semakin mendekati tubuh lemah itu. Kemudian dengan yakinnya mengangkat kaki dan menginjak perut yang hampir koyak itu hingga memuncratkan darah kental.


"Aaaaa!!!"


Seketika teriakan Aryan menggema, dan menghilang lantaran ia langsung tak sadarkan diri.


Namun ini belum usai, sebab Delvano merasakan persembunyian seseorang tak jauh dari tempatnya.


Kalau saja ia tak memikirkan kondisi Tiara, ia sudah pasti akan menghabisi pria itu sekarang juga. Tapi wanitanya itu butuh pertolongan, untungnya ia sudah menghubungi para tim medis sebelum sampai ke mansion.


"Jika karma tak juga memukulmu, maka dengan senang hati aku akan melakukannya sendiri."


Kemudian dengan gerakan cepat ia meliukan badannya, menghindari peluru yang tiba-tiba saja menyerangnya dari balik pilar sana.


Beruntung di saat seperti ini insting Delvano bekerja dengan baik, ia menyeringai iblis merasa pria itu sebentar lagi akan keluar dari persembunyiannya.

__ADS_1


__ADS_2