
Keesokan harinya. Tiara sudah merasa lebih baik. Ia memulai harinya dengan harapan akan adanya kabar baik dari Delvano. Tiara yakin suaminya tidak akan sejahat itu, membiarkannya mengambil kesimpulan seorang diri dan berspekulasi yang tidak-tidak.
Adapun Nyonya Bellena, ia terus saja mengajak menantunya itu untuk membantunya di dapur. Mulai dari membuat sarapan, hingga membuat cemilan ringan bersama untuk disimpan di toples. Mereka akan memakannya jika sewaktu-waktu menginginkannya.
Para pelayan pun diperintahkan untuk meninggalkan ruangan dapur dan mengerjakan tugas yang lainnya. Sang Nyonya Besar seolah sengaja hanya ingin menikmati waktu berdua saja dengan menantunya.
Siang harinya, Tiara kembali diajak melakukan perawatan seperti sebelumnya. Bedanya, kali ini Nyonya Besar Mahawira tersebut membawa menantunya itu ke salon kecantikan dan spa miliknya sendiri.
Saat ini, situasinya belum memungkinkan jika mereka keluar mansion untuk mengunjungi tempat-tempat umum.
Maka dari itu, Nyonya Bellena memutuskan untuk mengunjungi tempat yang aman saja.
Sesampainya di sana, Nyonya Bellena memperkenalkan Tiara pada seluruh karyawan, wanita baya itu juga menjelasakn apa saja tanggung jawab dan juga yang harus dilakukan seorang owner.
"Kau bisa mengelola dan punya wewenang penuh atas salon ini, sayang. Tidak hanya itu, kau juga bisa merekrut pegawai sesuai kebutuhan salon atau sesuai keinginanmu saja," tutur Nyonya Bellena seraya menegakkan duduknya.
Mereka berada di sebuah ruangan khusus staff. Menikmati secangkir ice coffee dan kue kering yang disajikan seorang Office Boy. Sementara Nyonya Bellena memilih secangkir wedang jahe menyesuaikan kondisi tubuhnya yang sudah tak lagi muda.
"Kau lihat kan tadi di depan sana, ada pria bertulang lunak yang diterima bekerja di sini. Mommy kurang suka." Ucapnya ketus.
Tiara melipatkan bibirnya menahan senyum. Ia pikir tak ada salahnya, selama niatnya sungguh-sungguh ingin bekerja dengan baik maka sah-sah saja. Semua orang boleh melamar pekerjaan di salonnya, termasuk pria bertulak lunak seperti yang dibicarakan ibu mertuanya barusan.
"Kurasa tak ada salahnya Momm, selagi hasil kerjanya bagus. Aku tidak keberatan." Sahut Tiara bijak.
Nyonya Bellena tak langsung menjawab, ia menyeruput minumannya kemudian menganggukan kepalanya pelan.
"Mommy setuju. Tapi bukan itu maksud mommy, 85% member VVIP kita berjenis kelamin perempuan. Mommy tidak ingin adanya kecanggungan di antara pelanggan dan juga pegawai. Kalau sesama perempuan kan mommy rasa mereka akan lebih merasa nyaman dan aman." Jelas sang Nyonya panjang lebar.
"Baik. Aku mengerti, Mommy." Ucap Tiara mengukir senyum manis. Ia terlihat lebih santai dan tenang. Sama sekali tidak nampak adanya kecemasan dan ketakutan yang ia tunjukkan seperti tadi malam.
Wanita dengan pembawaan lembut itu larut dengan kegiatan dan obrolan seputar salon dan hal-hal yang berkaitan dengan itu.
__ADS_1
Mereka menghabiskan waktu siang hingga sore hari ditempat tersebut. Nyonya Bellena memang sengaja membuat Tiara menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan hari ini. Ia ingin agar menantunya itu sejenak melupakan kecemasannya terhadap Delvano.
Puas melakukan segala rangkaian perawatan, mereka akhirnya memilih untuk pulang di penghujung hari.
"Kau baik-baik saja, Ra?" tanya Nyonya Bellena cemas, ia menyentuh lengan Tiara sebab saat ini menantunya itu terlihat melamun.
Pandangannya kosong, air muka Tiara nampak tidak setenang tadi, wanita itu terlihat gugup dengan wajah yang agak pucat. Seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu atau terkejut lantaran menerima kabar yang tidak baik.
"Ya, aku ... Aku baik-baik saja, Mommy." Jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
Meski Nyonya Bellena merasa tidak puas dengan jawaban Tiara, namun ia memilih untuk menerima dan menganggap bahwa saat ini menantunya mungkin sedang kelelahan atau kembali bersedih lantaran teringat lagi pada suaminya.
"Ya sudah, nanti kau langsung istirahat ya sayang. Jangan banyak berpikir dulu. Soal suamimu, percayakan saja pada Mommy dan Daddy. Kami akan membantu dengan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Timpal Nyonya Bellena menenangkan.
Tiara hanya mengangguk pasrah, ia memalingkan wajahnya ke arah luar sana. Menatap pada air hujan yang mulai mengguyur kota.
Keduanya sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang. Sang sopir harus mengantarkan Nyonya Mudanya kembali ke mansion barunya lebih dulu, kemudian dilanjutkan mengantar sang Nyonya Besar ke mansion utama.
...*...
...*...
Pesan tersebut berisikan alamat lengkap disertai janji temu di jam 10 malam. Hanya dengan menyertakan nama 'Delvano' dalam isi pesan tersebut. Membuat Tiara tanpa pikir panjang keluar dari mansion tak lama setelah ia sampai di mansionnya.
Tidak ada yang mengetahui kapan tepatnya Tiara pergi. Tanpa bodyguard, bahkan tanpa sopir sekalipun. Tiara mengendarai mobilnya seorang diri, Nyonya Muda Mahawira tersebut benar-benar sudah tidak sabar untuk menemui suaminya.
Malam semakin larut, Tiara mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebab jalanan cukup licin akibat hujan deras sore tadi. Jalanan pun mulai lengang, tidak ada tanda-tanda kendaraan lain selain mobil milik Tiara.
"Kenapa sepi sekali." Gumam Tiara memperlambat laju mobilnya.
Saat ini ia memasuki kawasan yang sangat sepi, Tiara sama sekali belum pernah mendatangi tempat seperti ini. Di kiri-kanan jalan nampak bangunan tinggi yang terbelangkai, dari modelnya seperti sebuah perumahan kumuh yang sudah usang dan ditinggalkan para penghuninya.
__ADS_1
"Benar, alamatnya di sini." Tiara menghentikan mobilnya sejenak, ia kembali memeriksa ulang alamat yang diberikan si pengirim tanpa nama tersebut.
Tidak ada pencahayaan di sini, semuanya tampak gelap dan dingin. Hanya lampu dari mobil Tiara saja sebagai penerang jalan.
Tiara mulai merasakan firasat yang tidak baik, ia mencoba menelfon nomor tersebut tetapi sayangnya tidak terhubung. Berkali-kali ia melakukannya namun tetap saja, nomor tersebut berada di luar jangkauan.
"Tidak. Aku tidak mungkin salah, jelas-jelas dia bilang akan memberitahuku mengenai keberadaan suamiku." Ucapnya pada diri sendiri.
Tiara mulai panik, bahkan rasa takut mulai merayapi hatinya. Namun sekuat tenaga ia manahan semua perasaan tak nyaman itu dengan harapan besar bahwa Delvano ada di antara salah satu bangunan terbengkalai itu.
Tiara mematikan mesin mobil, ia keluar dari mobil dan melihat sekeliling.
"Sayaaang! Apa kau di sini?" teriaknya kencang. "Ini aku!" Lanjutnya dengan suara yang mulai parau.
Hujan kembali turun, meski hanya gerimis namun nyatanya cukup membuat Tiara kesusahan berjalan hingga membuat pakaian yang dikenakannya basah.
Srak!!!
Deg!!
Seketika Tiara menghentikan langkahnya, ia menatap liar ke sekeliling. "Siapa di sana?" teriak Tiara seraya mengacungkan senter dari ponselnya.
Kosong, tidak ada jawaban. Dan Tiara mulai gelisah. Ia berbalik badan, berniat untuk kembali ke mobilnya, namun suara derap langkah di belakang punggungnya menghentikan pergerakan Tiara.
Dengan segera Tiara menoleh ke asal suara. Dan...
.
.
.
__ADS_1
"Hai." Ucap orang itu menyeringai.
Deg!