
Sejak saat itu, seluruh isi kantor semakin meyakini adanya kedekatan khusus antara Boss dan bawahannya tersebut. Banyak orang mengira bahwa hubungan keduanya sudah terjalin sejak lama.
Tak sedikit yang menyayangkan keputusan Delvano, sebab selama ini mereka berpikir bahwa pria tampan pemilik rahang tegas itu adalah sosok yang setia terhadap pasangannya. Tetapi nyatanya cover tak seindah isinya.
Satu minggu sudah gosip itu bertahan bahkan semakin memanas, melebar kemana-mana. Sampai akhirnya hal tersebut tercium oleh pihak media. Mulai dari Delvano dan Kaira yang kedapatan sedang jalan berdua menuju parkiran mobil, hingga keduanya makan siang bersama di sebuah restoran mewah khusus para kalangan atas.
Kabar tersebut semakin tak terkendali, adanya dugaan perselingkuhan di antara keduanya pun tak terelakkan. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Keteridaman Delvano seolah mengiyakan issue tersebut.
"Kalian sudah dengar kabar terheboh minggu ini belum?" tanya salah seorang Office Girl pada 2 temannya yang lain. Wanita berambut ikal sebahu itu membuka pembicaraan seraya mencondongkan setengah badannya, matanya menatap liar dengan gerakan mulut yang lincah.
Ketiga orang tersebut tengah berada di pantri, mengisi waktu luang mereka dengan membicarakan sang Big Boss dan wanita selingkuhannya.
"Kenapa? Kau pikir aku tidak punya Televisi di rumah? Huhh! Bahkan notifikasi ponselku saja semuanya mengabarkan tentang kedua orang itu." sahut perempuan berkaca mata dengan lensa tebal itu. Ia duduk berhadapan dengan teman yang satunya lagi.
"Kau benar. Sampai Ibu dan tetanggaku pun terus saja bertanya padaku. Mereka pikir aku penguntit, tidak ada kegiatan lain selain mengikuti berita para konglomerat." wanita berambut ikal itu manggut-manggut mengiyakan.
"Terang saja, perselingkuhan akan selalu jadi topik paling diminati. Jangankan di dunia nyata, di novel pun tema seperti itu paling banyak dilirik para pembaca. Semakin kontroversi, maka semakin menarik untuk diikuti. Sampai-sampai kualitas tulisan pun sudah tidak diperdulikan lagi." timpal wanita setengah baya pemilik tubuh gempal itu. Tangan dan bibirnya berkolaborasi dengan baik saat bercerita.
"Ha-ha-ha, omonganmu ngelantur. Tapi benar."
Mereka tertawa renyah mendengar ocehan wanita itu. Seolah tak ada habisnya, obrolan pun terus berlanjut ke topik panas lainnya. Dan entah kapan mereka akan berhenti, mungkin jika seseorang di sudut ruangan sana menggebrak meja, atau membalikkannya sekalian.
Muak rasanya mendengar seseorang yang ia dambakan terus saja dibicarakan dengan wanita lain. Mengapa bukan dirinya saja, mengapa bukan namanya saja yang jadi pasangan pria penuh kharismatik itu.
"Semua orang benar-benar sialan!" desisnya tajam.
__ADS_1
Padahal ia sengaja datang ke kota besar ini karena kembali ingin mengejar cinta yang dahulu belum sampai. Ia mengorbankan segalanya di Desa sana hanya untuk memuaskan keinginannya.
Sebelum berangkat ia bertekad kuat tidak akan mundur. Wanita itu begitu gembira kala mendengar perceraian sang pujaan hati. Ia pun bergegas ke kota dan melamar pekerjaan sebagai Office Girl.
Tentunya bukan hal mudah bisa bekerja di perusahaan sebesar MHW Company, ia sampai harus beberapa kali melewati seleksi dan test yang cukup rumit. Hingga pada akhirnya wanita itu bisa lolos dan diterima.
Namun nyatanya setelah ia berhasil melewati semua kesulitan itu. Mau tak mau ia harus menelan kekecewaan. Sebab Tiara tetaplah selalu jadi pemenangnya.
Dan sekarang ketika ia menemukan celah, semesta tetap saja tidak memberikannya kesempatan untuk bisa berada di samping pria pujaannya.
"Kurang ajar! Wanita-wanita itu harus aku beli pelajaran." Gerutunya setengah berbisik. Ia tengah mengaduk kopi panas yang ia buat, pesanan salah satu karyawan bagian pemasaran.
...*...
...*...
"Belum, Mommy."
"Keterlaluan! Apa maunya, apa dia sudah gila?" dumel Nyonya Bellena emosi. "Kau tenang saja sayang, jika gosip murahan itu benar terjadi ... Aku yang akan memberi pelajaran pada suamimu itu!" Lanjutnya menggebu-gebu.
Tuan Gunz hanya menarik napas berat, ia sudah sangat pusing dengan pemberitaan yang kembali mengguncang keluarganya. Sungguh ia sudah lelah. Sampai rasanya tak ingin lagi memikirkan dan bertindak lebih.
"Sudahlah Belle, percayakan saja pada putramu. Jangan bertindak gegabah sebelum kita mendengarkan penjelasan darinya. Atau kau...."
"Atau apa Gunz?!" sambar Nyonya Bellena.
__ADS_1
Kedua manusia baya itu berdiri di hadapan satu-satunya menantu yang kini tengah duduk di atas ranjang mewahnya. Tiara menunduk memperhatikan ponselnya yang sama sekali tidak ada tanda-tanda akan adanya balasan pesan masuk, atau telfon dari sang suami.
Sudah beberapa hari ini Delvano tidak pulang ke rumah, pria itu seolah tak peduli pada reaksi keluarganya akan apa yang sedang terjadi. Padahal entah sudah berapa puluh kali Tiara mencoba menghubungi, namun nihil. Delvano seolah enggan berbicara pada istrinya sendiri.
Sebenarnya bisa saja Tiara mendatangi kantor suaminya, tetapi keadaan tidak memungkinkan wanita berparas cantik itu untuk keluar mansion yang akan menimbulkan kekacauan, atau keributan baru. Itu beresiko. Hal itu seakan memancing para wartawan media yang haus akan berita.
Meski ia menggunakan jasa bodyguard sekalipun. Tetap saja itu tidak menutupi kemungkinan akan timbulnya berita baru yang pastinya akan menguntungkan si pencari berita.
Maka yang bisa Tiara lakukan sekarang ialah menunggu. Menunggu hingga Delvano mau mengangkat telfonnya. Atau angkat bicara di hadapan media. Sebab saat ini Tiara butuh penjelasan.
"Sudah Momm, Dadd. Aku tak apa. Kalian istirahat saja, ini sudah malam. Maaf aku merepotkan." Ucap Tiara melempar senyum tipis. Ia tak ingin melihat perdebatan kedua mertuanya semakin berlanjut dan menambah beban pikirannya.
Untung saja Tuan dan Nyonya Besar Mahawira itu mau mendengarkan perkataan Tiara. Nyonya Bellena tersenyum miris, ia merasa iba sekaligus kesal pada menantunya.
Nyonya Bellena pikir Tiara terlalu santai dan hanya berdiam diri saja. Kalau seperti itu terus, maka si pelakor akan semakin semena-mena pada si wanita yang ia rebut suaminya.
Meski masih dongkol, namun Nyonya Bellena tatap memberi dukungan pada sang menantu. Ia memeluk dan memberi kalimat semangat untuk Tiara sebelum berpamitan dari kamar tersebut.
"Kau juga harus istirahat, sayang. Jangan tidur larut hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti. Pikirkan kesehatanmu juga." Tutur Nyonya Bellena lembut.
Tiara tersenyum kecut. Di saat seperti ini rasanya kalimat sebagus apapun tidak mampu menenangkan hatinya. Ia memang berniat menunggu suaminya pulang, atau setidaknya menelfonnya kembali.
Kemana pria itu? apa Delvano sama sekali tidak mencemaskan dirinya?.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Assalamualaikum yang mampir 😊😊😊 maaf othor labil baru bisa up kembali. Mohon do'anya supaya othor amatiran ini selalu diberikan kesehatan dan kekuatan. Agar bisa terus melanjutkan karya-karya othor lagi. Sehat dan bahagia selalu kalian semua. Love you all 😊❤.