Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Perjuangan dan Keputusan Tiara


__ADS_3

**Biasakan tekan Like sebelum membaca 🙏


🦋🦋🦋🦋🦋**


Tubuh molek dengan kaki jenjang itu terus berjalan menyusuri hutan disertai bebatuan serta ranting-ranting kecil yang sesekali menggores kaki mulusnya.


Bruk!..


"Awsss." Tiara tersungkur jatuh seraya memeriksa telapak kakinya yang mulai lecet dan perih, bahkan kini lututnya terlihat memar dan berdarah.


Matanya sudah memanas menahan tangis serta degupan jantungnya yang diliputi kecemasan lantaran mengkhawatirkan kondisi Aryan yang kini berada dirumah tak sadarkan diri beberapa waktu lalu.


Ia tadi mencari Pak Sifuh ke kediamannya, namun nihil lantaran pria tua itu sudah berangkat ke ladangnya yang berada di ujung hutan sana.


Tiara kembali berdiri, mencoba untuk tak memperdulikan tungkai yang terasa gemetar menahan sakit.


"Hiks!, aku bisa melakukannya." ucap Tiara menyemangati dirinya sendiri.


Cuaca hari ini begitu terik, udara disana terasa sangat lembab dan panas. Tiara berusaha mempercepat derap langkahnya, berlarian mencari keberadaan Pak Sifuh.


"Pak!, to-tolong.. Tolong suamiku, dia-dia." Seru Tiara dengan nafasnya yang tersendat-sendat.


Pak Sifuh meletakkan perkakasnya mendengar seruan seorang wanita, ia menghampiri Tiara yang kini terduduk diatas tanah dengan penampilan yang terlihat lusuh. "Pelan-pelan nak!, bicara perlahan." ucapnya.


"Suamiku, tolong suamiku Pak, dia pingsan." tutur Tiara setelah berhasil menguasai dirinya.


Pak Sifuh bergegas membersihkan tangan dan juga kakinya di pinggiran ladang, ia tidak begitu terkejut lantaran Pria tua itu tau bahwa ini bukan pertama kalinya.


Tiara tak menyadari, lantaran ia masih sibuk menenangkan diri.


"Mari nak Tiara."


Keduanya segera beranjak dari sana, menuju rumah Pak Aris.

__ADS_1


...****...


Sesampainya di rumah.


Pak Aris segera menyambut kedatangan Tiara serta Pak Sifuh yang menyusulnya dari belakang. Keadaan rumah terlihat ramai lantaran beberapa orang mencoba untuk menunjukan simpatinya.


Mereka ikut prihatin pada pasangan pengantin yang baru terhitung satu hari itu.


"Aryan sudah sadar, tapi dia terlihat sangat lemah Pak!." seru Pak Aris menerangkan pada Pak Sifuh yang kini menghampiri Pak Aris yang berdiri di dekat pintu kamar Aryan.


Tiara sendiri sudah masuk lebih dulu, ia kembali menangis melihat Aryan yang terlihat melamun dengan pandangan yang kosong.


Perlahan Tiara menghampiri suaminya, dan duduk di bibir ranjang. "Kak, ini aku. Katakan, apa yang kau rasakan." lirih Tiara mencoba untuk membuka suara meski tenggorokannya terasa sakit lantaran terlalu banyak menangis.


Aryan tersenyum ke arah Tiara, ia meraih tangan Tiara yang berada di atas dadanya.


"Jangan menangis, aku baik-baik saja."


"Jangan seperti ini, kumohon." ucapnya sendu.


"Ah, aku tertangkap basah." sahut Aryan dengan kekehan kecilnya, pria itu bersikap seolah tak terjadi apapun. Padahal hatinya berdenyut nyeri mengetahui Tiara selama ini memendam pergolakan bathinnya seorang diri.


"Aku takut, aku sangat mencintaimu Kak." lirih Tiara seraya menurunkan kepalanya memeluk Aryan, ia meletakkan pipinya ke atas dada keras Aryan hingga terdengarlah detak jantung yang mampu memberinya ketenangan dan kenyamanan.


Dengan senang hati Aryan membalas pelukan Tiara yang terasa bergetar menumpahkan tangisnya.


"Ayolah sayang, aku tak apa." ucapnya lemah dengan bibir yang masih pucat tak berwarna.


"Ayo kita keluar dari desa ini Kak, kau harus mendapatkan penanganan dan pengobatan lebih." ucap Tiara seraya menarik diri.


Kalimat Tiara barusan tentu tak hanya mengejutkan Aryan, Pak Aris dan Pak Sifuh yanh berdiri di ambang pintu kamar pun ikut tercengang dengan keputusan Tiara yang terdengar gegabah bagi mereka.


"Tidak Tiara!!!." seru Pak Aris menolak dengan tegas.

__ADS_1


"Paman!, suamiku butuh pertolongan!." ucap Tiara memohon.


"Kubilang Tidak Mutiara!!!, Kau lupa?, bagaiman kedua orang tuamu meninggal di perjalanan saat akan ke kota besar?." seru Pak Aris mengingatkan.


"Bahkan setelah itu tak ada satupun penduduk desa yang berani keluar dari sini!!!." lanjut Pak Aris dengan emosi bercampur kekhawatiran.


Setelah kehilangan putranya, ia tak ingin lagi kembali harus kehilangan keluarga yang tersisa.


"Lalu apa?, apa aku harus membiarkan suamiku hingga sekarat, begitu?!!." sahut Tiara tersulut emosi.


Sungguh Aryan tak menyangka dengan reaksi Tiara yang tengah dikuasai emosi seperti ini, terlihat berbeda dan tegas. Tidak ada pembawaan lemah lembut seperti yang selama ini gadis itu suguhkan, dia seperti mempunyai sisi berbeda yang membuat Aryan kembali jatuh cinta berkali-kali.


Aryan sama sekali tak berniat menahannya, ia memilih untuk diam menikmati kegarangan gadis kecilnya. Terlihat lebih panas, dan seksi.


"Aku tetap akan membawa suamiku ke kota besar, kalau perlu ke ibu kota agar dia bisa dirawat di rumah sakit terbaik disana." tutur Tiara tak ingin dibantah.


Pak Sifuh dan Pak Aris menarik nafas dalam, mereka khawatir, namun tak bisa melakukan apapun jika Tiara sudah membulatkan tekadnya.


"Tenangkan dirimu Tiara, kemarilah,, biar Pak Sifuh memeriksa keadaan suamimu terlebih dahulu."


Pak Aris mengangguk pada Pak Sifuh kemudian membawa Tiara keluar kamar.


"Jangan gila Tiara!, kau tau itu butuh waktu. Dengan apa kau akan membawa suamimu, dengan kapal butut itu?." seru Pak Aris setelah mereka berada di ruang tengah.


Tiara berpikir sebentar, Pamannya benar.. Waktu perjalanan ke arah ibu kota akan memakan waktu selama 4 hari, tentunya ia harus menggunakan kapal yang lebih baik, bukan kapal kecil milik Pak Sifuh yang biasa digunakan untuk menangkap ikan.


"Kau bisa menggunakan kapal barang yang biasa digunakan untuk mengimpor ikan-ikan kita menuju kota, Tiara." Seru seseorang dari arah luar.


"M-moreo." lirih Tiara menoleh pada Pria yang pernah ia tolak cintanya secara tidak langsung itu.


"Serahkan urusan kapal kepadaku, kau hanya perlu mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang kita nanti." tuturnya seraya tersenyum lembut.


...Tbc......

__ADS_1


__ADS_2