
Beberapa jam sebelum Tiara pendarahan.
"Aku tak mau tau. Pokoknya kau harus memberi pelajaran kepada 2 wanita menjijikan itu!"
"Tenang sayang, kau hanya tinggal terima beres. Biar semua aku yang mengurusnya,"
"Asal kau tidak mengkhianatiku, lagi!" lanjut pria itu menyelidik.
"A-apa maksudmu? Itu tidak mungkin ku lakukan." sangkalnya terbata.
Si pria mendengus remeh, lalu berdiri dan menghampiri wanita yang duduk di hadapannya.
"Apapun yang kau lakukan, mudah saja aku mengetahuinya. Ku yakin kau pun paham itu!" ucapnya menyeringai.
Ia menunduk perlahan, kemudian menangkup kedua pipi si wanita cukup kencang. Hingga kuku-kukunya memutih, pertanda ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Setelah kau mengusulkan agar mencelakai mantan suamimu, kau segera mengutus orang-orang suruhanmu untuk mencari keberadaannya. Huhh, kau tak bisa ku percaya!" beber pria itu dengan tatapan tajamnya.
Pipi yang sudah merah itu disentak kasar oleh si pria, hingga kepala wanita itupun seketika tertoleh ke samping.
"Sudah aku jelaskan sebelumnya, itu hanya karna rasa penasaranku. Tidak lebih!"
"Dan kau memutuskan untuk kembali padanya. Kenapa? Kau menyesali keputusanmu El?" desis pria itu tajam.
Ya, ia adalah Elmira. Wanita itu sengaja sementara waktu meninggalkan mansion dengan membawa serta Aiden untuk menemui pria selingkuhannya.
Pria itu berdiri, lalu berbalik dan kembali duduk di tempatnya semula.
Bersilang kaki, menumpu satu lengannnya di pegangan sofa, sedang satunya mengetuk-ngetuk dengan tempo teratur di atas pahanya. Ia seolah sedang menunjukan kuasanya, menikmati kegugupan Elmira yang kian berubah jadi ketakutan seiring tatapan tajam si pria padanya.
__ADS_1
Suara Elmira seolah tercekat di tenggorokan, ia tak ubahnya seorang pencuri yang sedang tertangkap basah.
Padahal beberapa hari yang lalu, hubungan mereka masih baik-baik saja, namun entah kenapa hari ini pria dengan jaket kulitnya itu terasa mengeluarkan aura yang berbeda.
Elmira semakin berkeringat dingin, kedua tangannya pun saling bertaut gemetar. Dan hal itu menambah seringai si pria semakin melebar.
"Why honey? Kau tak berniat menjawab pertanyaanku, hem?"
Keringat Elmira semakin bercucuran, dengan wajah pucat yang menambah rasa puas si pria.
"Ku akui aku salah. Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi." mohon Elmira.
"Kau akan tetap membantuku kan? Tolong beri mereka pelajaran agar tak berani lagi meremehkanku."
"Apa imbalanku?"
"Seperti biasanya, aku akan lakukan apapun untukmu." sahut Elmira tersenyum tipis.
Tanpa Elmira ketahui, pria itu sudah merencanakan aksinya dengan matang, semalam ia sudah mengirim satu persatu para anggotanya memasuki mansion utama.
Tak adanya pemilik rumah, memudahkan pria itu untuk melancarkan rencana kejinya.
...*...
...*...
Alana semakin kebingungan, saat ia berlarian kesana kemari menyusuri setiap bagian mansion. Tapi tak satupun penghuni lain yang ia temukan, selain dirinya dan juga Tiara. Hari sudah semakin gelap, ia harus segera membawa Tiara ke rumah sakit.
Tadinya Alana bermaksud meminta bantuan, sebab Tiara sudah tak sadarkan diri sejak beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
"Orang-orang sialan! Kalian semua pergi kemana, ha!!!?"
Alana berteriak kesal, di saat genting seperti ini tak ada satu pun yang bisa ia mintai pertolongan. Ia bahkan menedang sebuah guci mahal yang berdiri di salah satu ruangan.
Brak!!!
"Sial!"
Alana segera kembali ke tempat di mana ia meninggalkan Tiara terakhir kali. Namun anehnya, wanita itu sudah tak ada di sana. Entah kemana Tiara pergi, apakah kakak iparnya itu keluar mansion? tapi tidak mungkin orang pingsan bisa bergerak sendiri.
Alana mulai merasakan hawa yang tidak beres. Ia melawan rasa takut dengan mencoba tetap mencari keberadaan Tiara ke seluruh penjuru mansion.
"KAK TIARAAA, KAU DI MANAAA?"
Tak ada jawaban, Alana terus berlarian memperluas pencarin. Namun tetap saja Tiara tak ia temukan.
Alana mulai gelisah, ia mulai cemas. Situasi ini benar-benar tak biasa.
Tak ingin pantang menyerah, Alana melanjutkan pencariannya ke kamar pribadi Tiara. Di dalam sana tampak sepi, tak ada tanda tanda-tanda orang yang menghuni.
"Shittt!!" umpat Alana kesal.
Alana kembali berlari melewati tangga, ia semakin ketakutan sebab di mansion ini seolah tak ada tanda-tanda kehidupan.
Namun tak lama, samar-samar ia mendengar erangan kesakitan seseorang dari arah belakang sana.
Alana penasaran, ia berjalan perlahan, mengatur derap langkahnya sepelan mungkin. Hingga erangan kesakitan itu terdengar lebih jelas, dan berubah jadi jeritan kesakitan.
Sesampainya di ujung pintu belakang sana, seketika kaki Alana terhenti, tubuhnya membeku dengan mata yang memelotot kaget.
__ADS_1
"Kakaaaakkk!!!"
Jerit Alana melihat kakak iparnya yang kini berdiri di salah satu pilar, dengan tangan dan kaki yang diikat. Sedang di antara kakinya terus mengeluarkan darah, mewarnai lantai yang Tiara pijak.