
Foto seorang wanita cantik dengan bingkai khusus itu kembali diletakan ke atas meja kerja. Rasanya, memandang paras candu itu setiap saat tak juga mampu mengurangi kerinduan yang melandanya.
Berkali-kali harus menahan diri agar tak segera berlari menemui sang pujaan hati, Delvano semakin tersiksa dengan adanya jarak yang membentang antara dirinya dan juga Tiara.
Masih ingat betul dalam ingatannya, saat terakhir kali ia bersama Tiara. Sebelum akhirnya pesawat membawa semua keluarganya jauh meninggalkan Delvano seorang diri.
"Cepat sembuh sayang, maaf aku tidak bisa menemanimu di sana. Tapi aku janji, kita akan bertemu lagi sesegera mungkin. Aku akan mengunjungimu,"
Tak ada jawaban, Tiara hanya menatap Delvano tanpa ada ekspresi di dalamnya. Dengan sabar Delvano menerima respons dingin itu, ia paham bahwa Tiara belum ingin bicara dengan siapapun.
Sumpah demi apapun, ia tak pernah menyalahkan sang istri atas kehilangan calon anak mereka. Delvano merasa ini semua salahnya, salahnya yang tak bisa menjaga orang-orang tersayangnya dengan baik.
"Aku sangat mencintaimu Ara, kau tau itu kan. Istriku satu-satunya, hanya dirimu. Lupakan semua kepahitan itu sayang, berbahagailah,"
Sakit rasanya, melihat orang yang kita cintai seakan tak lagi memiliki semangat hidup. Seakan hadirnya kita tak ada artinya, tak mempengeruhi semangat hidupnya.
"Bukan hanya dirimu yang merasa hancur dan kehilangan Ara, akupun sama kacaunya. Aku terluka karna ternyata fokusmu sudah tak lagi padaku. Apa aku tak lagi berarti apapun untukmu?"
Menarik napas sejenak, Delvano menunduk sementara tangannya berada di pegangan kursi roda yang Tiara gunakan. Ia masih berlutut di sana, menyeimbangkan diri akan kondisi sang istri.
"Kalau begitu, hiduplah untuk dirimu Ara. Untuk kebahagaanmu sendiri."
Setelah itu Delvano mengeecupi seluruh permukaan wajah Tiara, ia juga melabuhkan ciumaannya di atas bibir Tiara sebagai tanda perpisahan mereka.
__ADS_1
...*...
...*...
Ini sudah bulan ke dua. Janji yang sebelumnya ia utarakan akan menemui Tiara setidaknya satu bulan sekali itupun belum juga terlaksana. Nyatanya, ia harus menyelesaikan guncangan media terlebih dahulu.
Selepas kepergian Tiara dan yang lainnya, publik kembali dihebohkan dengan pemberitaan mengenai perpisahan Delvano dengan Elmira.
Berbagai gosip dari oknum tak bertanggung jawab seketika menyebar tak terbantahkan.
Mereka memberitakan bahwa perceraian sepasang konglomerat itu disebabkan oleh seorang wanita muda dari sebuah Desa terpencil. Tak ayal, wajah Tiara bermunculan disetiap laman hotnews Tanah Air.
Entah dari mana orang-orang sialan itu mendapatkan foto Tiara.
"Aku tidak akan segan-segan menghancurkan perusahaan kalian jika tak menghentikan berita menjijikan ini!"
"Nako. Tarik semua foto istriku yang sudah tersebar di seluruh media. Jika perlu, kau retas keamanan mereka."
Tak berselang lama, semua pemberitaan itu mereda. Berhenti tanpa ada sisa. Tentu saja karna mereka semua ketakutan, tak ingin mengambil resiko jika nantinya sang Big Boss dari MHW Companny tersebut benar-benar memporak-porandakan usaha yang sudah susah payah mereka bangun.
Namun tak lama dari itu, sebuah pemberitaan baru kembali bermunculan.
Sebuah video syur yang berdurasi 20 detik tersebar ke seluruh jagat raya. Publik yang tadinya mengelu-elukan sosok Elmira pun berubah haluan menjadi cemooh serta celaan bagi wanita yang sudah hampir setengah waras itu.
__ADS_1
Wajahnya terpampang jelas di video tersebut, belum lagi cuplikan pendek saat ia merencanakan niat kejinya untuk menghancurkan kedua perempuan Mahawira pun menyebar mengejutkan semua orang.
Elmira tertekan dengan semua pemberitaan, ia juga diusir dari keluarganya lantaran sudah mempermalukan dan mencoreng nama baik keluarga besarnya. Elmira bak seonggok daging tanpa jiwa. Ia hancur hingga ke dasarnya.
"Kalian semua tak berperasaan! Dasar orang-orang jahat!"
"Ini semua gara-gara wanita sialan itu! Aku membencimu Tiara!"
"Dia tidak sepadan denganku! Hanya wanita desa, kampungan!"
"Aaaaa!!!! Brengsek!!!"
Melihat kondisi Elmira yang semakin tak terkendali, orang tua Elmira memutuskan untuk memisahkan Aiden dan ibunya. Emosi Elmira yang tak menentu dianggap akan memberikan pengaruh buruk bagi tumbuh kembang Aiden.
Delvano sendiri bukannya tak ingin ikut campur mengenai nasib Aiden. Hanya saja ia merasa cukup memantau Aiden dari kejauhan saja tanpa harus turun tangan secara langsung.
Entah apa yang akan terjadi pada Aiden, hati kecilnya berharap anak kecil yang pernah ia rawat sepenuh hati itu tidak akan membencinya di kemudian hari.
Delvano berharap Aiden akan mengerti seiring berjalannya waktu. Ia ingin Aiden tetap tumbuh dengan baik, meski tak ada dirinya yang mendampingi setiap momen tumbuh kembangnya.
"Kau tetaplah putraku Ay, hanya saja setiap aku melihat wajahmu entah kenapa kilasan masa lalu itu kembali mengganggu pikiranku. Maafkan Daddy."
Tak sadar, hati Delvano serasa mencelos. Ia kembali memutar ingatan ke beberapa tahun silam. Andai waktu bisa diputar ulang, tentu ia akan lebih berhati-hati dan bertindak cepat. Sehingga semua luka ini tak perlu dirasakan semua orang.
__ADS_1
Ia juga sudah sangat merindukan Tiara. Delvano meraskan kehampaan, sepi, seperti ruang yang kosong.