Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Menyelami Rasa


__ADS_3

Brugg!!..


Delvano membanting pintu mobilnya cukup keras, lantas memukul setir meluapkan amarah yang di iringi umpatan. "Brengsek!!!."


"Bereskan para pengganggu itu!." sentak Delvano keras.


"Saya menegerti Tuan!." Nako hampir kewalahan menangani para awak media yang tiba-tiba muncul di gerbang utama.


"Apa benar Big Boss ada di dalam, Tuan?."


"Benarkah dia kehilangan ingatannya?, lalu bagaimana bisa seseorang yang terkena amnesia dijadikan pimpinan perusahaan?."


"Tolong tanggapannya Tuan."


Alih-alih memberi tanggapan, Nako lebih memilih menatap tajam menguarkan aura permusuhan pada mereka yang memaksa ingin jawaban. Itu sudah lebih baik, daripada Nako tiba-tiba mengamuk lantaran kesabarannya sudah hampir menyurut.


"Segera bawa keluar kedua orangtuaku!. Jangan biarkan satu orangpun tertangkap kamera!." lanjut Delvano, yang tak sadar semakin membuat asistennya sakit kepala.


Tak!!..


Delvano melepas benda kecil itu dari telinganya kasar, kemudian melemparnya asal. Ia semakin yakin dengan keputusannya yang akan menyembunyikan Tiara dari mata publik.


Bangunan yang Delvano miliki bukan hanya sekedar rumah biasa, melainkan jenis mansion mewah dengan penjagaan yang super ketat. Entah siapa yang membocorkan keberadaannya, Delvano kesal karna lagi-lagi ia kecolongan.


Tiiiinn!!!...Tiin Tiiiinn!!.


"B-big Boss!."


"Buka!."


"Baik Tuan!." jawab mereka serempak.


Buru-buru para pengawal yang berjaga di pintu belakang sana membukakan gerbang untuk sang Boss.


Rubicon mewah dengan kesan gagah itu kini meluncur bebas tanpa hambatan, tujuannya sekarang adalah Elmira, Delvano pikir bagaimanapun juga wanita itu masih terikat dengannya.


"Aku tidak mungkin menemuimu dalam keadaan gamang seperti ini Ara. Darimanana aku harus memulai pembicaraan." lirihnya sesak.


Hatinya kembali berdenyut nyeri, mengingat bagaimana ia melihat sendiri sekacau apa Tiara tadi. Mata bulat dengan bulu lentik yang selalu terlihat indah itu kini nampak sembab, dan bengkak. Sudah pasti karna gadis itu terlalu banyak menangis.


"Hmm, katakan." todong Delvano setelah ia mematikan mesinnya.

__ADS_1


"Saya sudah memindahkan Pak Aris ke mansion yang ditempati Nona Tiara Tuan!."


"Hmm, perketat penjagaan. Biarkan mereka di sana sampai aku selesai dengan urusanku.!."


Delvano dan kehidupannya yang gemerlap, terlahir dari bibit unggul dari keluarga tersohor, ia ditakdirkan jadi sosok yang di jadikan panutan serta pusat perhatian. Apapun yang di lakukannya, akan selalu jadi sorotan.


Berbeda dengan Tiara yang terlahir dari keluarga biasa, kehidupan gadis itu sangat jauh dari kata ramai cenderung tenang. Delvano khawatir, kehidupan mereka yang berbanding terbalik akan berdampak pada mental Tiara yang tidak terbiasa.


Delvano merapatkan puggung kokohnya ke sandaran kursi mobil, ia mendesah berat seraya memejamkan matanya erat. Rubicon miliknya sudah terparkir di halaman mansion yang di tempati Elmira, namun Delvano masih enggan untuk keluar.


...*...


...*...


"Bukankah kau masih harus istirahat sayang?, jangan terlalu terburu-buru, aku yakin mereka mengerti dengan kondisimu."


Belitan tangan wanita cantik itu mengerat di perut Delvano yang tengah bersiap mengancingkan jas formalnya.


Sudah hampir satu minggu berlalu sejak kekacauan di mansion kala itu. Selama itu pula, Delvano menghabiskan waktunya dengan Elmira dan putra kecilnya.


Selain untuk meredam pemberitaan diluaran sana, ia juga berusaha meyakinkan perasaannya pada Elmira. Sebisa mungkin Delvano mengembalikan perasaan yang 'katanya' pernah ada.


"Perusahaan membutuhkanku, ini tidak akan lama. Setelah semuanya selesai, aku akan segera pulang." tutur Delvano seraya berjalan keluar kamar.


"Apa kabar dengan gadis desa itu Vano!?."


Deg!!


Sejenak Delvano menghentikan laju langkahnya, hatinya tercubit perih kembali di ingatkan dengan Tiara.


"Dia baik-baik saja." ucap Delvano tanpa membalikkan badannya.


"Oh, syukurlah. Kalau kau mau memberitahu dimana keberadaanya sekarang, aku pasti akan menjenguknya dengan senang hati."


"Tidak perlu." sahut Delvano


"Aku hanya ingin memberikan imbalan yang sudah ku janjikan padanya sayang." tutur Elmira seraya mencekal lengan Delvano yang hendak memutar gagang pintu.


"Imbalan apa?." tanya Delvano menautkan alisnya.


"Apapun."

__ADS_1


"Apapun?!."


"Ya."


Delvano tersenyum menyeringai.


"Kau harus berhati-hati dengan kata ambigu seperti itu Elmira, kau tidak akan pernah tau apa makna lain yang terkandung di dalamnya."


Setelah mengatakan itu, Delvano keluar dari kamar di ikuti Elmira di belakangnya.


"Daddy, ikut."


"No!, tetaplah di rumah."


Makhluk kecil berusia 3 tahun itu menunduk lesu dengan penolakan Delvano. Meski begitu, ia sama sekali tidak berniat untuk melepaskan tangannya yang menggantung di ujung jas Daddynya.


"Come On Aiden, di sana tidak ada tempat untuk bermain." Delvano terpaksa menutup kembali Rolls Royce hitam miliknya.


"Mengertilah, dia masih merindukan Daddynya." Elmira keluar mendekati keduanya dengan pakaian yang sudah rapi.


"Kau tau ini akan mengundang perhatian banyak orang Elmira."


"Why Not!, aku suka di perhatikan." jawabnya tersenyum riang.


Ponsel milik Delvano tiba-tiba berdering, memecah obrolan mereka. Pria itu buru-buru mengangkatnya setelah melihat nama kontak si penelfon muncul.


"Hmm."


"..."


"Tambahkan pengawal!, sampai terjadi sesuatu padanya, nyawamu jadi taruhannya!." desis Delvano gusar.


"Sabar sayang, nanti malam aku akan menemuimu. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Meski dari kejauhan, setidaknya rinduku sedikit terobati."


...*...


...*...


**Tbc...


Like, vote & comment ya.. ❤**

__ADS_1


__ADS_2