
Selesai mengunjungi Aryan dan Pak Aris di rumah sakit, Tiara segera kembali ke mansion utama.
Selama mereka bertemu, nampaknya Pak Aris tidak begitu menyambut baik kedatangan Tiara, berbeda dengan Aryan yang terus membela diri akan perbuatannya. Ia juga tak berhenti membujuk Tiara agar menjauh dari keluarga Mahawira, terutama Delvano.
"Aku yakin pria itu hanya memanfaatkan kepolosanmu Tiara, dia hanya memperdaya perasaanmu yang sudah terlanjur jatuh hati padanya,"
"Keluar dari sana dan kembali saja ke desa." usul Aryan meyakinkan.
Pak Aris sama sekali tak berniat menimpali, ia sudah begitu kecewa terhadap Delvano yang sudah dengan tega menyiksa putranya, juga pada Tiara yang seolah berpihak pada pria kejam itu.
Hati Tiara semakin dilema, ia pun sempat menaruh kecewa akan cara Delvano menangani masalah yang dilakukan oleh Aryan, namun tindakan Aryan juga tak bisa dibenarkan sebab pria itu menipu banyak orang. Bahkan membahayakan nyawa suaminya.
Saat ini Tiara hanya akan mengikuti kata hatinya saja, sebab ia tak mungkin bertindak bodoh dengan mengambil keputusan yang akan menyiksa diri sendiri.
Sekedar diabaikan saja Tiara tersiksa, lalu bagaimana ia mampu berpisah?.
"Bagiku, perpisahan adalah sebuah keputusan besar. Meninggalkan orang yang ku cintai tidak semudah itu, aku tak ingin menyakiti hati sendiri, lantas menyesal dikemudian hari." sanggah Tiara dengan tegas.
Jawaban yang diutarakan Tiara tak dihiraukan Aryan, pria keras kepala itu menulikan pendengarannya. Baginya, Tiara telah dibutakan oleh perasaan, hingga tak bisa membuka mata lebar-lebar.
"Hidup dengannya kau jadi semakin bodoh Ra! Kau pikir siapa dirimu, ha!!??"
"Jangan terlalu naif, kau pikir dia benar-benar tulus mencintaimu? Itu hanya sandiwara, dia bahkan bisa meniduri wanita manapun yang dia inginkan!"
Plak!
Tamparan itu mendarat tepat di wajah Aryan.
Dengan napas yang masih tersengal, Tiara menatap nanar pada Aryan. Untaian kalimat menjijikan yang keluar dari mulut Aryan cukup membuktikan bahwa pria yang kini dirawat secara cuma-cuma di ruang VVIP ini memang pantas menerima ganjaran setimpal atas apa yang sudah diperbuatnya.
"Jangan hina suamiku! Harusnya kau bersyukur masih bisa bernapas hingga detik ini, karna jika suamiku benar-benar ingin membunuhmu. Saat itu juga kau sudah tiada!"
Setelah pertengkaran itu, Tiara tak lagi mengunjungi Aryan dan Pak Aris di rumah sakit. Demi kesehatan mentalnya, ia akan menghindari hal-hal yang akan membuatnya semakin merasa rendah.
__ADS_1
Tak masalah, jika ia dihina. Tapi ia tak bisa menerima jika itu ditujukan untuk suaminya.
Mommy Bellena selalu mengajarkan agar Tiara berada di pihak suami apapun yang terjadi. Bila perlu, di saat tertentu sang istri harus berani pasang badan jika itu sudah menyangkut pasangan.
Karna itulah yang harus Nyonya Muda Mahawira lakukan.
...*...
...*...
Di tempat lainnya.
Delvano cukup sibuk di kantornya, banyak pertemuan penting yang dijalaninya hari inu. Ditambah Nako juga membawakannya banyak data penting yang harus di bubuhi tanda tangannya.
Aura Delvano begitu serius, pesonanya pun berkali-kali lipat lebih memikat saat tengah fokus begini.
Memancing debar jantung yang masih saja menggila, meski wanita di hadapannya berusaha mengendalikan diri sekuat hati.
"Sa-satu tahun Tuan." jawabnya gugup mendayu.
Delvano tersenyum remeh, mendengar suara menggelikan dari sekretaris wanitanya. Ia tak suka dengan tatapan penuh puja yang dilayangkan tak sopan untuknya.
Mata dengan kelopak penuh warna itu memandang lapar pada sosok pria gagah yang menguarkan aura dingin.
Tak masalah, justru itu semakin menambah daya tarik CEO muda tersebut.
Dress ketat dengan belahan dada rendah yang menyembul seakan menjerit sesak itu seolah dengan sengaja menawarkan madu di dalamnya.
"Nako, seret dia keluar! Carikan aku sekretaris yang baru.!" ucap Delvano santai. Ia tak peduli dengan reaksi Nako dan wanita seksi itu yang melongo di tempatnya.
"Baik, Tuan." sahut Nako mantap.
Wanita itu panik, ia ketakutan sekaligus menyesal. Tak ada dalam bayangannya bahwa ia akan di pecat dengan cara seperti ini.
__ADS_1
"Ampuni saya Tuan! Saya tidak melakukan kesalahan..." pekiknya meronta.
Nako terpaksa menahan kedua lengan wanita itu, mencegah agar sekretaris tersebut tidak nekad mendekati sang Tuan.
Anak pertama dari keluarga Mahawira itu mengangkat pandangannya, dan tersenyum merendahkan. Melepas kacamata bacanya ke atas meja, lalu melipat tangannya di dada.
"Pengkhianat perusahaan!"
"Kau pikir kebusukanmu tak akan tercium? Melempar tubuhmu pada mereka, kemudian bekerjasama untuk menjatuhaknku. Menjijikan!" beber Delvano menyudutkan wanita bermake-up tebal itu.
Wanita itu menggeleng keras, ia terkejut bagaimana pria itu mengetahui semuanya.
Tanpa menunggu lama, Nako segera menarik paksa wanita itu yang terus saja meronta dan berteriak. Suaranya semakin tertelan angin, semakin menjauh dari ruangan sang CEO.
Delvano mengurut pangkal hidungnya sejenak, ia kelelahan setelah melakukan berbagai kegiatan. Ini sudah di penghujung hari, dan ia ingin segera pulang menemui penawar letihnya.
Namun sebelum itu, ia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
Masih ada satu Map, berbentuk amplop coklat tumpukan terakhir di atas mejanya.
Ia mengingat-ingat, sepertinya pernah melihat benda dengan sedikit sobekan di ujungnya ini sebelumnya. Tapi entah di mana.
Tak ingin dirundung rasa penasaran, Delvano segera memutuskan membuka amplop coklat tersebut.
Deg!
Seketika sakit di bagian kepala yang dulu pernah Delvano alami, kini menyerangnya kembali. Kali ini terasa lebih kuat, menusuk hebat ke bagian memori yang paling dalam.
"Arghh!!" erangnya mengeluarkan kesakitan.
"Brengsek!"
Mencengkeram rambutnya kuat-kuat, Delvano berteriak kerass, menahan sakit seorang diri di ruangannya.
__ADS_1