
"Sialan! Kau berani mendorongku!" sungut Alana kesal.
Ia segera berdiri, menatap nyalang pada pria yang baru saja dengan kurang ajarnya mendorong tubuh moleknya.
Berusaha menyembunyikan ketakutan, Alana menepis semua kekhawatiran yang menjalari otaknya yang mulai waspada.
"Minggir! Lepaskan kak Tiara!" bentak Alana tajam.
Kerongkongan Tiara tercekat, saat tiba-tiba di sentak menjauh. Jari-jarinya gemetar memegangi perut bagian bawahnya, ia mulai merasakan kewaspadaan yang berubah jadi ketakutan besar.
Alana semakin geram, ia menarik kasar lengan salah satu pria yang baru saja melempar Tiara, kemudian mendorong sekuat tenaga meski nyatanya hal itu hanya sia-sia. Tak kehabisan akal, Alana menerjang tepat di perut pria gempal itu saat lengah. Hingga menjauh beberapa langkah.
"Wohhooo, aku suka dengan keberanianmu Nona," sarkas Aryan seraya bertepuk tangan.
"Kakak dan adik sama saja, sama-sama sok kuat dan sok berkuasa. Tapi semua itu tidak akan lama, karna Tuanku akan menghancurkan hidup kalian hingga rata." lanjutnya menggertak.
Aryan nampak sangat puas, seolah ini adalah moment yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. Menghancurkan CEO sombong itu berikut dengan orang-orang terkasihnya.
Setelah sembuh kala itu, Aryan dan Pak Aris tak kembali ke mansion. Mereka menempati sebuah kediaman mewah yang Aryan dapatkan dari pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran.
Siapa lagi kalo bukan dari pria kaya yang selama ini mampu mengendalikan hidupnya.
Pria itu juga ada di sini, mengamati dari tempatnya berdiri tak jauh darinya. Ia menyeringai, merasa yakin semua rencananya akan sangat lancar tanpa adanya penghalang.
Di samping itu, ia mulai merasa tertantang dengan seorang gadis yang saat ini tengah menunjukan keberaniannya. Ia tak menyangka, bahwa adik dari Delvano kini sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang sangat menarik.
Wanita itu bahkan tak segan melawan, membalas semua tatapan lapar semua pria di sana dengan netra indahnya yang tajam, khas keturunan Mahawira.
__ADS_1
Ia mulai berjalan mendekat, membelah kerumunan anak buahnya.
Sedang mata sembab Tiara sejak tadi tak lepas melihat ke arah seorang pria yang ia kenal sebagai sahabat baik dari suaminya. Saat pertama kali Tiara menangkap keberadaan pria itu, ia sempat berharap akan adanya pertolongan. Namun hingga 5 menit yang lalu, Tiara sadar bahwa pria itu ialah salah satu dari para pria yang dengan keji menyiksa dirinya.
"L-louis?" gumam Tiara seraya merangsek mundur.
Bibir yang biasanya terlihat indah menggoda itu kini nampak mulai pucat membiru. Pandangan Tiara mulai kabur, ia kehabisan banyak tenaga setelah tadi berusaha menahan bobot tubuhnya saat diikat di pilar.
"Ja-jangan mendekat." ucap Tiara tanpa suara.
Hari sudah gelap, suasana mansion tampak semakin mengerikan lantaran tak adanya pencahayaan. Tiara tak tau kemana perginya para pekerja dan pelayan.
"Apa kau sedang mengandung Nyonya?" tanya Louis dingin. Ia meliaht ada begitu banyak darah di anatara pahanya yang masih mengalir, bahkan sebagian sudah mengering.
Nyonya Muda Mahawira yang identitasnya masih tersembunyi itu terlihat menyedihkan, tak berdaya dengan penampilan memprihatinkan.
Alana memberontak, namun cekalan para di keduan sisinya otomatis mengencang menahan pergerakannya yang ingin mengahambur pada Tiara.
Ia sudah menduganya sejak awal, bahwa apa yang terjadi pada Tiara adalah sebuah kontraksi dari janin yang wanita itu kandung. Entah sudah berapa lama janin malang itu tumbuh di rahim ibunya, Alana tidak tau.
"Lepaskan Alana! Jangan sentuh adikku!" ucap Tiara lemah, ia semakin memberingsut mundur sebab Aryan mulai mendekatinya dengan derap langkah yang terdengar menakutkan.
"Dengan pisau ini, aku ingin membuat ukiran yang sama seperti yang suamimu lakukan terhadapku!"
Aryan berjongkok, menedaktkan ujung pisau runcing itu ke atas paha Tiara , kemudian tanpa aba-aba ia menusuk paha mulus itu cukup dalam. Sontak membuat Tiara menjerit keras.
"Aaaaa!!!!!!"
__ADS_1
Semua orang di sana melepaskan tawa iblisnya. Menertawakan kesakitan yang diterima wanita menyedihkan itu.
Kecuali Alana yang sejak tadi menjerit, mengumpat, bahkan terus memberontak berusaha melepaskan diri.
"Kalian semua biadaabp, kurang ajar!!!"
Plak!
Tamparan keras itu melayang tepat di wajah cantik Alana, Louis dengan mudah menarik kasar tubuh Alana hingga limbung ke dekapannya.
"Kau bagianku Nona Muda." bisik Louis penuh makna.
Tiara menggeleng lemah, samar-samar ia melihat semua orang mulai menjauh darinya dan mulai fokus pada Alana.
Kemudian dengan teganya menyeret Alana ke atas meja yang ada di ujung sana, kedua tangannya di rentangkan, kemudian diikat kencang.
"Diam cantik, kau terlalu sayang untuk dilewatkan," ucap salah satu pria yang berada di samping Alana.
Sementara Louis sudah berada di antara kedua paha Alana yang ia lebarkan dengan paksa. Bahkan jeritan Alana tak mereka hirauhkan, para iblis itu dengan teganya berbuat keji pada gadis malang itu.
"Kurasa dirimu lebih menjanjikan, daripada wanita yang sudah sekarat di sana. Wanita tak berdaya sepertinya tak seru untuk ku jadikan lawan." sarka Louis.
Tiara hanya bisa menjerit pilu, ia tergeletak di atas marmer dingin dengan kondisi yang mengenaskan.
Di ambang batas kesadarannya, Tiara masih tetap berharap akan adanya keajaiban. Ia sudah tak punya siapapun yang bisa menolongnya saat ini.
Tiara hanya berharap Delvano ada di sini, berharap pria itu akan mendobarak pintu di ujung sana kapan saja. Atau menerobos masuk dan membuat orang-orang keji ini menjauh dan pergi.
__ADS_1
Tapi itu tidak mungkin, itu tidak akan pernah terjadi. Tiara tau itu mustahil.