
Delvano menarik napas berat, ia mendudukan dirinya di sofa ruang kerja mansion.
Mengusap wajahnya kasar, kemudian menutup mata sejenak seraya bersandar.
"Apa Tuan yakin dia adalah orang yang sama?"
"Aku sangat yakin, Nako."
"Tapi bagaimana bisa Tuan? Bukankah dia sudah dinyatakan meninggal satu tahun lalu?"
"Itu hanya rekayasa,"
"Liam benar-benar memanfaatkan kebodohan si bajingaan itu dengan baik!" desis Delvano.
"Apa Nona Tiara tau?" tanya Nako yang dengan setia berdiri di seberang meja Delvano.
Delvano menggeleng, saat ini ia masih belum ingin memeberitahukan apapun. Ia tak ingin menambah beban pikiran untuk sang istri, dan berencana menyelesaikan segalanya seorang diri.
Selesai dengan urusannya, Delvano kini kembali ke mansion utama hampir di penghujung malam. Ia ingin kembali menemui Tiara melalui balkon kamar, namun tak bisa lantaran akses masuk sudah di tutup rapat.
Delvano jadi berpikir bahwa Tiara sempat bangun dan kembali memeriksa keadaan kamar, ia bersyukur tidak tertangkap basah kala tadi tengah menerobos masuk tanpa permisi.
Akhirnya ia kembali ke kamar Elmira, setelah sebelumnya sempat menghampiri si kecil Aiden di kamarnya.
Delvano menatap lekat-lekat wajah damai Aiden yang begitu dominan mirip dengan wajah sang ibu. Warna kulit yang tergolong putih, serta memiliki warna rambut yang berbeda baik dari Delvano maupun Elmira.
__ADS_1
Delvano juga sempat bertemu dengan nyonya Bellena di lantai satu, Nyonya Besar keluarga Mahawira tersebut begitu prihatin dengan keadaan sang putra.
"Jangan khawatirkan istrimu, Mommy yang akan menjaganya untukmu."
"Iya, terimakasih Mom."
"Kalian bisa bertemu kapanpun."
"Iya Mom."
"Tidak perlu mengendap-endap bak maling seperti itu."
"Iya Mom, aku hany...
"Thankyou Mom." lirih Delvano dipelukan Ibunya.
Delvano sosok yang kuat, dia bisa mengahadapi apapun seorang diri. Mengahadapi segala bentuk permasalahan dalam hidupnya tanpa bergantung pada siapapun.
Namun dia tetaplah manusia biasa, punya titik lelah dan lemah. Rengkuhan sang Ibu selalu jadi tempat ternyamannya sebelum akhirnya ia menemukan sosok Tiara sebagai tujuan hidupnya.
"Aku bahkan sudah menduganya sejak awal. Karna setelah malam itu kau semakin bisa ku andalkan Mom." ujar Delvano tersenyum lega.
"Kau lupa, mata dan telingaku ada di mana-mana." ucapnya seraya terkekeh. Nyonya Bellena menepuk pelan bahu kokoh sang putra yang masih bersandar menunduk di pelukannya.
"Aku sangat mencintainya Mom,"
__ADS_1
Delvano menarik diri, mengenggam kedua tangan Nyonya Bellena dan menatap intens.
"Tapi aku merasa sangat bersalah pada Aiden."
"Tidak ada yang salah sayang, Aiden masih kecil dan belum tau apapun. Hubunganmu dan Elmira memang sudah bermasalah sebelum kau mengalami kecelekaan itu,"
"Dan memang sebaiknya kau selesaikan dulu persoalanmu dengannya, jangan terus menerus membuat Tiara kebingungan dan sedih,"
"Pelan-pelan saja, dokter melarang siapapun untuk memaksamu mengingat kejadian yang hilang dari memorymu. Kau harus mengingatnya sendiri sayang." ujar Nyonya Bellena sambil mengusap lembut pipi kiri Delvano.
Delvano tau itu, ia memang masih check-up berkala dengan dokter Tama yang menanganinya sejak pertama kali kembali ke kota.
Terkadang ia menahan sakit di kepalanya, ketika ia mencoba memaksakan diri untuk mengingat sisa memory yang entah apa.
"Ternyata kau juga seorang penguntit Mom, penguntit yang handal." ucap Delvano seraya menyunggingkan senyum.
Ia merasa lega, sebab kini ada orang lain yang bisa ia ajak diskusi selain Nako. Delvano juga tidak perlu lagi berpura-pura di depan Nyonya Bellena ketika sedang berhadapan dengan Tiara.
Delvano segera merebahkan diri, ia kini sudah memakai baju santai dan bersiap untuk tidur. Rasanya sudah tidak sabar menyambut pagi, ingin segera bertemu dengan pujaan hati.
...*...
...*...
Tbc...
__ADS_1