Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Bab 58 - Kehancuran!


__ADS_3

Kabut ini begitu tebal, menghalangi jarak pandang mata. Belum lagi angin kencang yang mengganggu pergerakan langkah kaki Delvano. Semua nampak gelap, namun pria itu tetap terus memaksa melangkah melawan asap tebal ini.


"ARA! SAYANG KAU DI MANA?"


Entah kenapa Delvano terus merasa gelisah, hingga ia memutuskan untuk mencari istrinya. Sudah sejak tadi ia mencoba berjalan, menyingkab berbagai gangguan yang menghalanginya. Tapi tetap saja perjalanan Delvano seperti tak ada ujungnya.


Ini seperti di padang pasir, Delvano seorang diri tanpa ada sosok lain yang ia temui.


Tak berselang lama, ia menemukan sebuah potongan gerbong bekas yang terlihat kumuh. Delvano mendekatinya, lalu berdiri di dekat salah satu pintu. Hati kecilnya berharap Tiara ada di sana, namun ia malah bertemu dengan sosok anak kecil yang sedang duduk seraya melempar senyum manis padanya.


"Daddy..." sapa anak itu dengan lucunya.


Dahi Delvano merengut tak mengerti. Siapa yang anak itu panggil, dirinya kah?.


"Hei, apa yang sedang kau lakukan di sini. Di mana orang tuamu?" Delvano memberanikan diri mendekati anak kecil itu, lantas berjongkok melihat wajahnya dari dekat.


Sejenak Delvano tertegun, anak kecil itu begitu mirip dengannya ketika masa kanak-kanak dulu. Namun netra coklat terang itu mengingatkan Delvano pada Tiara.


"Tolong Mommy..." ucap anak kecil itu sembari menyentuh kedua pipi Delvano.


Air bening itu mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia terisak, menampilkan wajah kesedihan yang entah mengapa mampu mencubit hati Delvano hingga berdenyut nyeri.


"Kenapa dengan Mommymu, hem?"


"Dia ada di sana." tunjuk bocah kecil itu ke arah luar sana.


"Apa dia sedang kesulitan? Kau ingin menemuinya?"


Anak kecil itu menggeleng lemah. "Tidak Daddy, aku harus pergi dari kalian. Tolong selamatkan Mommy saja," ucap anak kecil itu tersendat.


"Meski aku belum lahir ke dunia, tapi aku sangat menyayangi dan mencintai kalian. Jaga Mommy untukku ya Dadd." imbuhnya.


Delvano semakin tak mengerti, ditambah air matanya tiba-tiba mengalir deras tanpa permisi. Hatinya pun terasa begitu sesak mendengar penuturan anak kecil tersebut.


Ada apa dengannya?.


Delvano segera beranjak berdiri, ia ingin melihat keluar sebab penasaran dengan apa yang terjadi pada Ibunya si anak kecil.


Namun saat ia berbalik, anak kecil itu menyentuh tangan Delvano, dan ia berbalik menatap si anak kecil.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Katakan pada Mommy, jangan terlalu lama menangisiku. Aku tak ingin melihay Mommy bersedih karnaku."


Delvano hanya melempar senyum, mengusap kepalan anak itu sebentar lalu berjalan keluar meninggalkan gerbong kumuh itu.


Mata Delvano terus menelisik, menajamkan penglihatan serta pendengarannya. Samar-samar telinganya menangkap suara seorang wanita yang meminta tolong, mengejutkan dirinya.


Sebab namanya terus dipanggil oleh si wanita yang terdengar sangat familliar di telinganya.


"Kak Delvano!"


Deg!


"Sayang, tolong aku!"


"Kak Delvano, tolong!"


Keterkejutan Delvano begitu tak terbendung, ia melihat istrinya yang kini hampir tertelan pasir kematian. Hanya tinggal segaris dadanya saja, Tiara hampir tenggelam dilahap sekujur badan.


"ARA!"


"ARA!"


"Bertahanlah sayang! Kumohon!" teriak Delvano.


Ia terus berusaha, menghubungkan tangannya dengan Tiara yang mulai lemas.


Sebelumnya akhirnya tubuh itu hilang, tertelan tanpa sisa.


"ARA!"


Alat monitor pendeteksi detak jantung pasien itu seketika kembali berbunyi nyaring, dengan tempo yang cukup kencang. Namun perlahan kembali normal, seiring respon si pasien mulai bisa menguasai diri.


Kini Delvani telah sadar, ia terbangun dari komanya.


"Dokter! Pasien sudah kembali!" teriak salah seorang perawat.


Para dokter ahli dan tim segera berdatangan menghampiri pasien yang kini memaksakan duduk dengan napas yang tersengal.

__ADS_1


"Kita periksa dulu!"


"Ara! Ara istriku..."


"Tenang dulu Tuan, anda harus..."


"Istriku butuh pertolongan! Aku harus segera menemuinya." potong Delvano tak memperdulikan perkataan dokter.


Ia terus menolak dengan kasar, sebab dirundung cemas dan juga kekhawatiran. Dengan gerakan tergesa Delvano turun dari ranjang, ia menarik paksa semua peralatan medis yang ada hampir di sekujur tubuhnya.


"Van! Tenangkan dirimu! Apa yang kau lakukan, ha?" hadang dokter Tama dari arah luar.


Ia begitu terkejut, melihat sahabatnya yang seperti kesetanan. Padahal sebelumnya pria itu hampir meregang nyawa, memicu kepanikan semua orang terutam Tuan dan Nyonya Besar Mahawira. Namun nyatanya keajaiban sedang berpihak padanya.


"Siapkan pesawat! Aku harus kembali sekarang juga!" titahnya memaksa.


Tak perduli dengan wajahnya yang masih pucat pasi. Berjalan pun tak sepenuhnya kuat berdiri. Ia sempoyongan, masih memakai baju pasien serta terlihat masih lemah.


"Anda masih harus istirahat Tuan..." ucap Nako ikut mengingatkan, namun ia malah menerima tatapan sinis Delvano, dan bogem mentah yang tepat bersarang di wajahnya.


Bugh!!


"Kau ingin ku bunuh sekarang?" desis Delvano tajam.


Dengan segera Nako beranjak dari sana, untuk memenuhi permintaan sang Tuan. Ia memegangi pipinya yang terasa nyeri, dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.


Kekuatan pria itu masih tetap sama, meski penampilannya sudah seperti mayat hidup.


...*...


...*...


Di waktu bersamaan, Tiara masih di posisi yang sama. Tangan dan kakinya masih di ikat, dengan tubuh yang sudah bergetar hebat. Tak hanya merasakan sakit, perutnya pun terasa melilit bak dicengkram secara kasar.


Sedang Alana terus berusaha melepaskan diri dari cekalan sesorang yang sejak tadi tampak puas dengan apa yang terjadi sekarang.


"Bagaimana? Kau bisa merasakannya kan Ra?..."


"Sakit, hem? Itulah yang suamimu lakukan padaku sialan!!" bentaknya kencang.

__ADS_1


Tiara menggeleng lemah, di tengah rasa pusing yang melandanya. Ia berusaha agar tetap sadar, sebab masih ada Alana yang saat ini tengah berjuang sendirian.


Jeritan keras Tiara tertahan, saat tubuh Alana tiba-tiba didorong kasar hingga tersungkur na'as ke lantai. Tiara ingin berteriak meminta tolong, tapi suaranya tak keluar sebab kini mulutnya juga tiba-tiba disumpal kain secara kasar oleh salah satu pria berbadan kekar di sana.


__ADS_2