Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Ketegangan!


__ADS_3

"Ck!. Kau menggangguku!." decak Delvano setelah ia membuka pintu.


Nako di sana, tetap menunduk hormat meski sang Tuan menggerutu, atau bahkan memaki sekalipun.


"Maaf Tuan, mobil sudah siap."


Hari sudah gelap, dan Tuan Gunz sudah berulang kali meneror Nako melalui telfonnya yang terus berulang. Maka ia terpaksa menyusul Delvano untuk mengingatkan.


"Hm. Tunggu aku di sana." titahnya


Nako tak langsung pergi, ia malah salah fokus pada benda yang di pegang Delvano. Raut mukanya seolah ingin bertanya, namun ia tak berani.


Delvano yang mengikuti kemana arah tatapan asistennya tersebut langsung mengangkat amplop yang ia pegang. Kemudian menyodorkannya pada Nako.


"Apa ini Tuan?."


"Simpan. Aku belum sempat membukanya."


Dan setelah benda tersebut berpindah ke tangan asistennya, Delvano segera menutup pintu dan kembali menghampiri Tiara.


Tiara sudah siap, begitupun dengan Delvano. Kini keduanya turun ke lantai satu untuk berpamitan pada Pak Aris.


"Jaga Tiara dengan baik. Paman akan menjaga rumah ini, pergilah."


Begitulah pesan singkat Pak Aris. Disini, Pak Aris tak bisa ikut campur terlalu jauh sekalipun ia mengetahui semuanya. Ia tau betul dengan siapa mereka berurusan.


Pak Aris hanya bisa menunggu. Menunggu sampai Tiara yang memutuskan sendiri, bertahan, atau kembali pulang.


...*...


...*...


Sepasang suami istri itu kini sudah berada di mobil, dengan Nako yang mengendarainya di depan.


"Kau gugup?."


"Sangat."


Tangan yang saling bertaut itu Delvano tarik dengan lembut, kemudian ia kecup berkali-kali. Berharap hal itu bisa mengalirkan ketenangan dan juga keberanian untuk Tiara.

__ADS_1


"Tatap aku."


Tiara menurut.


"Kau istriku Ara, dan aku suamimu. Tidak peduli seberapa keras orang-orang menghalangi kita. Kau akan selalu menempati ruang di hatiku. Tanamkan itu di benakmu." ucap Delvano. Ia menatap penuh cinta pada Tiara saat mengatakannya.


Dan itu sampai ke relung terdalam Tiara. Bersama Delvano, ia seolah berani menghadapi dunia, selama ia dan suaminya saling menggenggam seperti sekarang. Tiara percaya ia akan baik-baik saja.


Yang artinya, Delvano adalah kekuatan sekaligus kelemahannya. Begitupun sebaliknya.


Mobil mewah itu terus melaju membelah jalanan ibu kota, sampai akhirnya berbelok ke kawasan yang sepi jauh dari kebisingan.


Letak Mansion yang memang sengaja di bangun di sisi perkotaan agar lebih privat dan nyaman. Jauh dari polusi dan keramaian aktifitas penduduk kota.


Meski begitu, lampu jalan tetap menyala, meski temaram.


Namun, sejak tadi Nako menajamkan matanya. Curiga dengan sebuah mobil yang terus mengikutinya dari belakang, ini bukan jalan umun, ini adalah jalan buntu yang hanya tertuju pada mansion utama saja.


Dan tanpa diduga...


Brakk!...


Suara benturan keras itu mengangetkan Tiara, Delvano, serta Nako yang fokus pada kemudi.


"Maaf Tuan. Sepertinya ada yang sengaja mengikuti kita."


"Sial. Itu pasti mereka." batin Delvano.


Sementara Tiara sudah bergetar, takut dan panik bercampur jadi satu. Ia setengah meringkuk, mencari keamanan di pelukan suaminya.


Brakk!!..


Lagi. Benturan itu kembali terjadi.


Tiara semakin ketakutan, mengeratkan pelukannya.


Dengan segera Delvano merangkul Tiara, ia memeluk, mengecup kepala Tiara bertubi-tubi.


Delvano terus mencoba menenangkan, sementar Nako terus berusaha menghindari serangan. Ia meliuk-liukan laju mobilnya, berusaha terlepas dari kejaran kendaraan gila tersebut.

__ADS_1


"Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja." bisik Delvano.


Sebenarnya Delvano pun sempat panik, namun itu tak berlangsung lama. Seperti sudah terbiasa, dengan cepat Delvano mampu menguasai dirinya. Ketegangan seperti ini pernah ia alami, saat di kapal beberapa bulan lalu.


Brakk!!..


"Sial." desis Delvano


"Menyingkirlah!." teriak Delvano pada asistennya.


"Tapi Tuan..."


"Kau ingin Maati!."


"Di sini saja sayang, kumohon." cicit Tiara dengan suara yang bergetar.


"Percaya padaku."


Ia mengecup bibir Tiara sekilas, kemudian melompat mengambil alih kemudi. Nako dan Delvano begitu gesit, saling berpindah tempat.


Tiara yang kini sendirian di belakang, semakin meringkuk merapatkan tubuhnya ke body mobil. Ia bahkan menjerit keras, saat mendengar bunyi tembakan.


Entah apa yang terjadi, Tiara merapatkan matanya tak ingin melihat kejadian yang mungkin tak sanggup ia saksikan.


"Tenang Tiara tenang, tenang Tiara tenang."


Ia terus merapalkan itu, hingga terdengar suara Nako yang mengkoordinasi orang-orang Delvano.


Perjalan yang harusnya ditempuh selama 45 menit, terasa melambat hingga berjamjam lamanya.


"Lakukan." Geram Delvano.


Deruan mobil para pengawal yang tadi dihubungi Nako sudah ada di belakang sana, mereka begitu terlatih mengepung mobil penguntit itu.


Mereka tak kesulitan untuk menyusul, lantaran para pengawal Delvano memang selalu sigap. Hingga bertebaran di manapun.


Raut muka Delvano sudah merah padam, menahan amarah yang membara. Bukan dirinya yang Delvano khawatirkan, tapi wanita cantik yang kini menangis di belakangnya.


...*...

__ADS_1


...*...


Tbc...


__ADS_2