
Semua para karyawan dan staff menunduk hormat ketika sang Big Boss berjalan melewati mereka.
Aura kepemimpinan Delvano begitu menguar kuat, menggetarkan hati para wanita dengan pesonanya yang memikat.
Dengan setelan jas formal berwarna navy, Delvano sangat terlihat tampan dan berwibawa, dia berjalan tegap di susul oleh sang asisten yang selalu setia mendampingi.
Sang Big Boss terus berjalan, tak menghiraukan tatapan memuja penuh kekaguman itu. Alih-alih bangga, Delvano lebih merasa risih ditatap sedemikian rupa oleh para wanita dengan make-up tebal itu.
Delvano lebih menyukai wanita dengan riasan tipis namun dapat memancarkan kecantikan yang murni dari dalam hati.
Dan bagi Delvano, hal itu hanya ada pada istrinya seorang, satu nama yang selalu tersemat di hati terdalamnya.
Mutiara Anandhita.
Satu nama yang berhasil memporak-porandakan hati dan jiwanya. Biarlah seperti ini, biarlah hanya ia yang menggenggam erat rasa pedihnya, biarlah hanya ia yang tau kebenarannya.
Ia bertekad secepatnya membuka kebenaran, agar tak lagi terus membuka luka yang sama pada gadis malang itu.
Ya, kemalangan Tiara adalah bertemu dengannya. Gadis lugu itu harus terseret dalam persoalan antara dirinya dan juga Elmira.
"Nako, apa sudah ada kiriman?"
"Belum, Tuan."
Delvano berdecak, ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah yang selalu ia rindukan.
Selama ini, Delvano memerintahkan salah satu pelayan mansion utama untuk diam-diam mengambil gambar Tiara untuk di kirimkan padanya.
Meski mereka berjauhan, Delvano tetap bisa mengetahui semua kegiatan sang istri. Bahkan Delvano menyambungkan CCTV mansion langsung ke ponselnya.
"Bagaimana dengan pertemuannya?"
__ADS_1
"Mereka akan tiba jam 11 siang nanti, Tuan."
Seketika langkah lebar Delvano terhenti, kemudian berbalik badan menatap tajam sang asisten.
Melihat itu, Nako segera menundukan kepala dengan kedua tangan yang saling bertautan di depan.
Pria dengan tinggi 180cm itu segera meminta maaf pada sang Boss lantaran paham bahwa Delvano seharusnya tidak datang sepagi ini, 2 jam lebih awal dari jadwal.
"Kau sepertinya memang lebih cocok mengambang di lautan lepas, dari pada bekerja denganku!" Ucap Delvano asal.
"Maaf, Tuan."
Delvano tak menjawab, ia kembali melanjutkan perjalanannya hingga memasuki lift khusus para petinggi.
Sementara Nako mengikuti dari belakang, kemudian menekan angka lantai tujuan. Yaitu lantai 11, dimana di sana ruangan CEO berada.
Sejujurnya Nako memang sengaja tidak mengatakan waktu yang spesifik pada Bossnya, ia ingin agar Delvano terus menyibukan diri daripada terus larut dalam kekalutan.
Tak lama, ketukan pintu terdengar dari arah luar.
Nako dengan sigap membukakan pintu, setelah sebelumnya ia mendapat izin.
Seorang pria tampan berdiri di sana dengan melempar senyum menyebalkan ke arah Nako. Ia memakai setelan jas khas kantoran berwarna hitam.
Pria itu melewati Nako begitu saja, dan segera membungkuk hormat pada Delvano.
Delvano mengernyit heran, merasa familiar dengan wajah pria di hadapannya kini.
"Ck! apa aku harus kembali memperkenalkan diri?..."
"Sepertinya memang benar, amnesiamu belum sembuh sepenuhnya." Sesal pria itu seraya mengambil duduk di seberang meja Delvano.
__ADS_1
Terlihat Delvano yang berpikir sejenak, kemudian berucap...
"Seperti biasa kau terap brengsek!"
Sontak hal itu mengejutkan Nako dan pria yang kini terperangah di tempatnya. Apa Delvano sudah mengingat semuanya? bukankah menurut Nako ia adalah salah satu yang dilupakan Delvano?.
"Kau mengingatku Van?" Tanyanya penasaran.
Delvano mendengus pelan.
"Tidak. Aku hanya ingat wajahmu, tapi tidak dengan namamu." Ucap Delvano santai.
Kedua pria itu kembali lesu.
"Kau benar-benar melupakan temanmu Van." Icap pria itu kesal.
"Teman?"
Pada akhirnya, Nako memperkenalkan pria itu secara resmi pada sang Tuan.
"Ini Tuan Darren, teman sekaligus orang kepercayaan Anda di kantor. Selama Tuan tidak ada, Tuan Darren lah yang menghandle seleuruh urusan perusahaan." Terang Nako panjang lebar.
Tanpa diduga, Delvano malah tersenyum miring. Lantas ia menjawab dengan merapatkan punggunggnya ke sandaran kursi.
"Aku tau."
Nako dan Darren saling pandang, mereka sama-sama mencerna situasi dari jawaban singkat yang Delvano lontarkan.
...*...
...*...
__ADS_1
Tbc