
**Biasakan tekan Like sebelum membaca 🙏
🦋🦋🦋🦋🦋**
"Aku mencintaimu Ara"
"A-apa?!."
"Aku mencintaimu Mutiara Anandhita." ucap Aryan lagi, ia sudah begitu gemas, tak tahan lagi untuk mencium bibir ranum itu dengan keras dan dalam.
Namun ia mengurungkan niatnya, karna ini bukan saatnya.
Semburat cahaya kuning keemasan dari sinar matahari yang memantul pada riak gelombang ombak di pantai sana semakin menambah suasana romantis di antara keduanya.
Hawa yang semakin dingin, disebabkan angin laut yang menghembus kencang serasa menusuk tulang. Namun hal itu tak menyurutkan kehangatan yang keduanya ciptakan.
Magnet cinta itu terlihat begitu nyata, dengan gelora asmara yang tak terbantahkan.
"Benarkah?!." tanya Tiara lembut. Hatinya sudah berdebar dengan detak jantung yang tak beraturan, tapi benarkah pria itu sungguh-sungguh mencintainya?.
Kalaupun benar, lalu bagaimana dengan identitas dan status asli pria itu?.
"Hmm." gumam Aryan, hidungnya sudah ia benamkan di ceruk leher Tiara yang terasa hangat dan wangi khas tubuh Tiara yang mampu menenangkan sekaligus memabukkan.
"Tapi Kak.. bagaimana kalau ternyata..."
"Ssst, aku tau apa yang jadi kekhawatiranmu sayang."
Blushhh..
Ah, bagaimana bisa Tiara menolak pesona kuat yang menguar dari pria tampan itu. Rahangnya yang tegas, dadanya yang bidang, serta otot lengan dengan bisep kokoh itu. Tiara tak mampu menolak segala keindahan yang Tuhan suguhkan di depan matanya.
"Percayalah padaku, Apapun yang terjadi kita akan selalu bersama. Kau sudah berjanji tak akan meninggalkanku apapun yang terjadi, begitupun denganku." Tutur Aryan yang kini sudah kembali menatap manik mata teduh milik Tiara.
Tiara tersenyum lembut, kemudian mengangguk pelan, ia benamkan wajah memerah itu ke belahan dada bidang Aryan.
__ADS_1
Bibir Aryan tertarik ke samping, yang kemudian semakin merekah. Ia bahagia, hatinya menghangat sekaligus lega. Ia dekap tubuh mungil dengan sejuta pesona itu. Pria itu benar-benar jatuh cinta.
"Mari kita menikah!." ucap Aryan sungguh-sungguh.
Tiara mengerjapkan matanya berkali-kali, apa katanya?, ia tak salah dengar bukan?.
Tiara mendongak, mencari kebenaran dari pria itu. Gadis itu bisa melihat kesungguhan yang terpatri jelas dari wajah tampan Aryan.
"Menikahlah denganku Mutiara Anandhita." ucap Aryan sekali lagi.
"Bagaimana kalau aku menolak?!." sahut Tiara dengan senyumnya yang tertahan, oh ayolah..lihat wajah tegang dengan rahang tegas penuh tanya itu. Kenapa pria itu bisa terlihat menakutkan dan menggemaskan diwaktu yang bersamaan.
Tiara tak tahan, gadis itu menyemburkan tawanya dihadapan wajah Aryan yang kembali rileks. Ah, rupanya pria itu telah sadar sudah di kelabuhi oleh Tiara.
"Kau mengerjaiku Ara!." ucapnya lantang. Air mukanya sudah keruh lantaran rasa takut akan kekecewaan itu meliputi hati dan pikirannya.
"Hahaha..lihatlah wajahmu Kak. hahaha." Tiara tertawa lepas, ia meloloskan diri ketika belitan tangan Aryan tadi sempat mengendur.
Gadis itu berlarian dengan tawa renyahnya yang tak sadar semakin menggetarkan relung terdalam Aryan.
Seseorang dibalik bebatuan sana merasa panas akan pemandangan didepan matanya. Kenapa lagi-lagi Tiara merebut pria yang ia sukai, ini tidak adil!. Ia mengusap air matanya yang mengalir, kemudian bergegas pergi dan menghilang dibailik pepohonan.
...*****...
Dan benar saja, selang satu hari setelah sore itu di pinggir pantai. Aryan menyatakan niatnya pada Pak Aris, pria itu meminta restu, yang tak langsung di iyakan oleh Paman Tiara.
"Aku tidak bermaksud menentang hubungan kalian, tapi... bagaimana nanti kedepannya Aryan. Tiara adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki saat ini, bagaimana kalau......"
"Serahkan semuanya padaku. Aku tidak mungkin menyakiti gadis yang kucintai." pungkas Aryan penuh kesungguhan.
Auranya tak main-main, hawa dingin serta perasaan terintimidasi kini pria baya itu rasakan dari sorot mata penuh ketajaman milik Aryan.
Nyali pria tua itu seolah diserap oleh kekuatan pria di hadapannya, padahal sungguh Aryan tak melakukan apapun. Pria itu hanya diam, menanti jawaban.
"Kau menerimanya Nak?, kau bahagia?." tanya Pak Aris pada Keponakannya yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
Tiara mengangguk mantap, tanpa keraguan.
Pak Aris mendesah pelan, ia tak mungkin menghalangi kebahagiaan gadis lugu itu. Meski kekhawatiran masih meliputi sebagian hatinya, tapi ia tak bisa berbuat apapun. Pak Aris hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaan Tiara dan juga Aryan yang sudah ia anggap bagian dari keluarga.
...*****...
Kabar pernikahan itu menyebar luas, ke penjuru desa, yang tak ayal memberi luka dan kecewa pada sebagian para gadis di desa tersebut. Pesona pria itu memang mampu meluluh lantahkan setiap hati yang terlanjur terpaut padanya.
Tak hanya para gadis, beberapa pria disana pun tampak menyimpan kecewa, namun pada akhirya sadar memang Pria asing itu terlihat sangat cocok dan mumpuni untuk dijadikan pendamping Tiara.
"Kak.."
"Hmm.."
"Boleh ya.."
"5 menit."
Tiara tersenyum, kemudian mengecup pipi Aryan singkat. Ia hanya merasa tak enak pada Moreo yang sejak tadi menunggunya di depan rumah, pria itu mengajaknya bicara hanya berdua saja.
Tiara beranjak dari duduknya, dan keluar menemui Moreo. Pria itu tersenyum lembut, menyambut kedatangan Tiara.
"Selamat ya Ra, aku ikut bahagia." ucapnya tulus seraya mengulurkan tangan.
Mereka bersalaman, yang mana membuat pria yang ada di dalam sana mengeraskan rahangnya, menahan ketidak sukaan.
Kalau bukan karna rengekan Tiara yang mampu melembutkan hatinya, sudah pasti ia tak akan rela gadisnya bersentuhan dengan pria lain.
"Terimakasih Moreo, semoga kau juga cepat menemukan gadis yang cocok untukmu." tutur Tiara seraya tersenyum.
"Entahlah, aku tidak yakin. Karna aku sudah menenukannya, tapi dia tak tertarik padaku." ucap Moreo sendu.
Tiara meringis kecil, ia mengetahui semuanya. Tapi sayangnya ia hanya bisa menganggap Moreo sebagai teman saja.
Keputusannya sudah bulat, Aryan pria yang baik dan juga mempunyai cinta yang tulus untuknya. Ia tak mungkin salah bukan?.
__ADS_1
...Tbc......