
Isak tangis Tiara belum juga reda, ia malah semakin larut dalam kesedihan. Matanya sudah mulai bengkak, akibat air mata yang keluar tak berkesudahan.
Delvano sengaja memberinya ruang, agar Tiara bisa menumpahkan segalanya.
Sejak tadi pria yang kini sudah tak lagi mengenakan jasnya itu hanya diam, menunggu wanitanya hingga tenang.
Penampilannya sudah tak serapi tadi, kini Delvano hanya memakai kemeja putih polos, dengan lengan baju yang ia gulung hingga pangkal siku.
Menyugar rambutnya ke belakang, Delvano mulai menata hatinya kembali untuk memulai pembicaraan.
Entah kenapa ia merasa gugup, lantaran takut kata-katanya akan kembali menyakiti sang istri.
Ia membasahi permukaan bibirnya dengan lidah, menarik napas pelan dan menghembuskannya perlahan. Kemudian berucap...
"Apa yang kau inginkan? pergi dariku, hem?..."
"Kau pikir bisa melakukannya?" sambung Delvano dengan raut wajahnya yang mulai memerah.
"Menurutmu begitu? kau pikir aku begitu tak berdaya? aku bisa, dan aku sanggup!" nada bicara Tiara mulai tak terkontrol, sesak yang bercampur emosi itu seolah ingin meledak melalui teriakan yang seakan tersangkut di tenggorokan.
Posisinya kini sudah menghadap Delvano, tak lagi memunggungi seperti yang ia lakukan tadi.
Delvano mencoba menyentuh tangan Tiara, namun wanita itu menepisnya.
"Kau tidak bisa melakukannya!"
"Kenapa?"
"Karna kau MENCINTAIKU!"
__ADS_1
Tidak ada lagi sanggahan, Tiara malah kembali menangis sebab apa yang dikatakan Delvano memang benar adanya.
"Kau milikku sayang,"
"Ku mohon maafkan aku, kau bukan istri bayanganku. Itu tidak benar."
Tangis Tiara semakin pecah, ia bahkan menutup wajahnya dengan kedua tangan, serta pundak yang semakin bergetar.
Dengan gerakan cepat Delvano menarik tubuh Tiara ke pelukannya. Ia tak sanggup terus menerus disuguhkan pemandangan menyesakan ini.
"Lepass!"
"Tidak akan!"
Delvano terus menahan tangan Tiara yang berontak, merasa tak kuasa menerima perlakuan berbeda yang di lakukan Tiara kini.
"Kau tau kejadian sebelumnya disebabkan oleh apa kan? keberadaanmu dalam bahaya sayang, setengah mati aku menyembunyikan identitasmu karna ingin melindungumi,"
"Bukan karna aku tak ingin mengakuimu." ujar Delvano.
Tiara mulai tenang, seiring Delvano yang kembali terdiam. Ia menatap intens pada wajah lelah Tiara yang berada di pelukannya, terlalu banyak menangis membuat istri kecilnya itu nampak begitu mengkhawatirkan.
Hari mulai gelap, dengan hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Ditambah Suasana mulai tenang, tak lagi terdengar perdebatan di antara sepasang suami istri tersebut.
"Kau bilang keberadaanku dalam bahaya kan kak? berarti kau juga sama,"
"Maka dari itu, aku setuju dengan caramu terus menyembunyikan status kita. Namun aku masih belum mengerti dengan perasaanmu yang sebenarnya terhadap Nyonya Elmira."
"Aku...
__ADS_1
"Biarkan semuanya mengalir apa adanya, aku tidak akan pernah memaksamu dengan memeberikan pilihan yang sulit."
Delvano membuang napas kasar, ia mendengus tak suka dengan kalimat yang keluar dari mulut Tiara.
Perlahan Tiara melepaskan diri dari pelukan Delvano, ia kini tau apa yang harus dilakukan.
Tiara akan mengikuti peran yang dilakoni Delvano, ialah menjadi sosok asing di depan banyak orang.
"Temui aku di jam biasa, agar setidaknya aku tau kau masih menyayangiku Kak." ucap Tiara seraya menatap Delvano.
Nampak Delvano yang berpikir sejenak, dengan kedua alis yang saling bertautan.
"Kau mengetahuinya?" tanyanya.
"Kau pikir setiap malam aku pingsan sayang? aku hanya tidur, dan kau selalu datang menggangguku."
"Jadi kau hanya berpura-pura, hem? Ah, aku merasa tertipu." kekeh Delvano.
Tiara mengulum senyum, kemudian mengangguk mengiyakan.
Delvano begitu gemas dengan respon Tiara saat ini, kekesalan yang tadi ia rasakan menguap begitu saja setelah ia mengetahui bahwa Tiara selalu menyadari kehadirannya setiap malam.
Itu artinya, Tiara kurang lebih mengetahui isi hati Delvano yang sebenarnya. Sebab setiap ia berkunjung, tak jarang ia mengungkapkan kerinduannya yang mendalam.
...*...
...*...
Tbc...
__ADS_1