
Sungguh Nako tak mengerti pada sikap Delvano saat ini. Sebenarnya, mereka di jadwalkan untuk menemui Liam 2 hari lagi. Namun entah kenapa sang Tuan tiba-tiba seperti sedang kesetanan, sebab memaksa ingin segera menemui Liam saat ini juga.
Masalahnya, Liam sedang tidak di dalam Negeri. Pria nomor satu di Gilbert Group itu tengah berada di Luar Negeri dalam urusan bisnis.
"Aku tak mau tau, gunakan pesawat pribadiku. Tidak perlu lagi memesan tiket bisnis!" putus Delvano tak ingin dibantah.
Dengan segera Nako mengkoordinasikan keinginan Tuannya tersebut ke bagian penerbangan. Ada pilot khusus keluarga Mahawira yang akan mengantarkan kemanapun tujuan sang Tuan.
"Tapi Anda terlihat kurang sehat, apa perlu kita menghubungi dokter Tama dulu?"
"Tidak perlu. Jangan pedulikan aku!" sanggah Delvano cepat.
Pria itu masih berdiri di tempat yang sama, dengan penampilan yang cukup berantakan. Yang ada di pikirannya saat ini ialah Elmira, Elmira dan Elmira.
Delvano ingin segera menemuinya, namun ia harus lebih dulu memastikan segalanya dengan Liam. Ia sama sekali tak memperdulikan kondisinya saat ini yang terlihat pucat.
"Semua sudah siap Tuan."
"Hem, kita berangkat sekarang!"
"Bagaimana dengan Nnyonya Muda? Maksud saya Nona Tiara. Anda belum meberitahukan keberangkatan Anda."
Mengingat hal ini tidak dijadwalkan sebelumnya, maka perjalanan mereka membutuhkan banyak watu. Sebab kedatangan Delvano tidak di waktu senggang Liam.
Delvano memutuskan untuk memberitahu Tiara melalui pesan singkat saja, sebab saat ini ia sedang terburu-buru.
Selama di perjalanan, Nako tak henti-hentinya mencemaskan sang Tuan. Lantaran tak jarang Delvano tertangkap tengah menahan sakit di kepala, sambil memegang sebuah amplop coklat di tangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Tuan?" ucap Delvano lebih pada dirinya sendiri.
...*...
__ADS_1
...*...
Sekali lagi, Delvano kembali membuka lembar demi lembar data yang berisi surat perceraian serta test DNA antara dirinya dan juga Aiden.
Dadanya terasa semakin terhimpit sesak. Puzzle yang sebelumnya hilang itu kini kembali sudah. Bayangan di mana dirinya bertengkar hebat dengan Elmira, juga saat ia sebelum pergi meninggalkan kota, yang kemudian mengantarkannya ke peristiwa ledakan kapal pesiar kala itu.
"Ku mohon tarik kata-katamu! Aku bisa jelaskan semuanya sayang!" teriak Elmira yang tak terima dengan keputusan sepihak suaminya.
Surat test DNA itu dilempar begitu saja ke hadapan sang Nyonya Muda yang ternyata telah berkhianat di belakang sang Tuan Muda Mahawira.
Bahkan perselingkuhan Elmira telah lama terjalin beberapa tahun ke belakang, terbukti dengan hasil test yang menunjukan bahwa Aiden bukanlah darah daging Delvano.
"Aku sudah muak melihat wajah kepura-puraanmu El! Kau sungguh menjijikan!"
"Keluar dari sini! Atau aku akan melemparmu ke jalanan!" berang Delvano pada wanita yang kini tengah memohon pengampunan darinya.
Elmira berteriak histeris, ia menolak perpisahan yang Delvano tawarkan. Ah tidak, pria itu sudah memutuskan.
Melihat sepertinya Elmira yang tak akan mendengar ucapannya, akhirnya ia menarik diri dengan paksa, meninggalkan wanita itu yang terus menjerit luruh ke lantai dingin sana.
Elmira semakin tak terkendali, ia berdiri kemudian melempar apapun yang ada di hadapannya.
Crak!
"Kau akan menyesal sudah memperlakukanku dengan kasar seperti ini!" teriaknya seraya melempar guci mahal itu dengan kencang.
Bocah kecil yang menjadi saksi pertengkaran hebat orang dewasa itu begitu ketakutan. Ia terus memanggil kedua orangtuanya seraya menangis kencang.
"Mommy... Daddy...!!!"
Delvano yang kini sudah di mobilnya, terus merutuki kebodohannya. Segala yang terjadi pada rumah tangganya kemungkinan juga adalah kesalahannya, ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan dunianya.
__ADS_1
Meski begitu, Delvano sungguh kecewa atas apa yang dilakukan wanita yang ia cintai itu. Tapi semua rasa yang ia pupuk menggunung di dada itu seketika sirna tergantikan dengan rasa benci dan kekecewaan mendalam.
Semua berawal ketika ia menaruh curiga pada sikap sang istri yang semakin berbeda, Elmira sering bepergian keluar tanpa sepengathuan Delvano, bahkan tak lagi bersikap manis seperti biasanya.
Puncaknya, ketika Elmira tak jarang menolak sentuhan sang suami ketika tengah menginginkannya.
"Aku sedang lelah, lain kali saja." tolaknya halus.
Penolakan demi penolakan itu jadi pemicu kecurigaan Delvano yang semakin menguat.
Di tambah celetukan Darren yang selalu membahas perbedaan wajah Aiden dengan dirinya.
"Ku pikir Aiden tak ada mirip-miripnya sama sekali denganmu Van, coba kau lihat, kulitnya yang putih pucat, warna rambut bahkan garis wajahnya saja tak ada yang mengikutimu. Apa dia bukan putramu?" tutur Darren dengan nada bercanda.
Bahkan saat itu Delvano hanya tertawa, mendengar candaan Darren yang tak ia sangka ialah kebenaran.
Semua hal itu mendorong Delvano untuk melakukan test DNA antara dirknya dengan putra kebanggaannya.
Aiden adalah sosok Putra Mahkota dari keluarga ternama, sudah pasti ia akan dijadikan tumpuan harapan banyak orang. Terutama Delvano sebagai ayah.
"Aku sangat menyayangimu, kau adalah kesayanganku, harapan terbesarku, dan pewaris tunggalku." ujar Delvano ketika Aiden lahir ke dunia.
CEO muda itu begitu bahagia, saat nenyambut kelahiran putra pertamanya.
Namun ternyata semua itu palsu, Delvano kecewa sekaligus terluka. Ia bahkan segera mengurus perceraiannya dengan Elmira tanpa sepengetahuan siapapun, tak lama setelah kebohongan yang selama ini disembunyikan Elmira terbongkar.
Ditengah kegundahan hatinya yang tengah menghadapi permasalahan rumah tangganya, Delvano menerima sebuah undangan bisnis dari pesaingnya.
Tanpa pikir panjang, ia lantas bergegas melakukan perjalanan yang hanya di dampingi beberapa bawahan saja, termasuk Nako yang saat itu kualahan lantaran harus ikut membantu Darren menghandle urusan perusahaan kala Delvano tiba-tiba saja berubah tanpa alasan.
Satu hal yang mungkin Delvano sesali hingga saat ini. Ia tak langsung mencari tau siapa pria yang menjadi selingkuhan Elmira.
__ADS_1
Akibat emosi yang menguasai, Delvano tak bisa berpikr rasional. Ia hanya ingin segera pergi, dan melupakan sejenak permasalahannya yang rumit.