
Hari berganti, waktu pun berlalu.
Banyak orang mengatakan, setelah badai datang akan ada pelangi yang menghiasi hari. Setelah hujan reda, embun akan menyejukan bumi.
Namun sepertinya hal itu masih tabu bagi pasangan Delvano dan juga Tiara. Setelah berhari-hari sang istri dirawat di rumah sakit, Tiara masih saja bungkam tak ingin bicara dengan siapapun. Termasuk Delvano sendiri.
Hal itu disebabkan oleh trauma yang menghantam kejiwaannya. Tiara sering melamun, kemudian menangis dalam diam. Psikisnya benar-benar terganggu, Tiara masih belum bisa menerima takdir yang sudah merenggut calon buah hatinya.
Hampir sepanjang waktu ia terus bergelut dengan pikirannya, menyalahkan diri sendiri dan merasa tak layak menjadi seorang Ibu. Sebab nyatanya baru berupa janin saja ia sudah pergi meninggalkan segala kepahitan bagi hidup Tiara yang pasang surut.
"Ini semua bukan salahmu sayang, Mommy mohon jangan terlalu lama membiarkan dirimu terus larut dalam kesedihan. Tidak baik untuk kesehatanmu sayang."
Untuk ke sekian kalinya Nyonya Bellena membujuk dengan sabar menantu yang sudah ia anggap putrinya sendiri itu. Wanita baya itu sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada keluarganya.
Kepergiannya menemani sang putra ternyata menimbulkan musibah yang tak pernah ia sangka-sangka.
Bahkan kondisi putri satu-satunya pun tak jauh beda dengan Tiara. Jika Tiara setia dengan keterdiamannya, lain lagi dengan Alana yang sewaktu-waktu menjerit, histeris ketakutan saat ingatannya tiba-tiba tertarik kembali pada malam kelam waktu itu.
Kesengsaraan gadis itu tentu menjadi pukulan terhebat bagi Tuan dan Nyonya Bellena yang sudah terbilang sepuh. Di usia senjanya, Tuan Gunz hanya ingin kedamaian serta ketenangan untuk semua keturunannya.
Tapi ternyata ia masih harus kembali melewati fase menyakitkan seperti ini.
"Sudahlah Dadd, Momm. Kalian istirahat saja, jangan pikirkan apapun. Aku yang akan menangani semuanya." usul Delvano cemas.
Semua orang sudah cukup terluka, ia tak ingin lagi menambah beban luka batin untuk kedua orang tuanya.
"Baiklah, Mommy dan Daddy akan kembali ke mansion. Jaga istrimu, dan kau tak boleh memaksanya untuk bicara." ucap Nyonya Bellena berpesan.
Delvano hanya mengangguk pelan, seraya merapatkan kedua bibirnya.
"Mommy tau kau juga tidak baik-baik saja. Istirahatlah, jangan memaksakan diri." Imbuhnya seraya mengelus pipi kanan Delvano kemudian memeluknya sebentar.
__ADS_1
Sejenak Delvano merasakan ketenangan yang seolah merenggut semua emosi yang ia tahan. Pelukan sang Ibu nyatanya selalu mampu memberikan kedamaian yang nyata dalam setiap situasi.
"Jangan cemas, aku tau apa yang harus kulakukan." sahut Delvano di sela pelukannya.
Sementara Tuan Gunz hanya menepuk pelan bahu sang putra. Ia tau Delvano tak selemah itu, putranya itu akan mampu menghadapi semua ujian hingga menjadikannya seseorang yang lebih kuat.
"Daddy selalu bersamamu."
...*...
...*...
Sebelum pulang, pasangan baya itupun menyempatkan diri untuk menemui sang putri. Namun sepertinya situasi tidak memungkinkan sebab Alana sedang kembali mengamuk dan membanting apapun yang ada di dekatnya.
Untung saja, di sana ada Liam. Pria tampan dengan tubuh proporsional itu sekalipun tak pernah absen mendatangi rumah sakit untuk menjenguk Alana.
Entah kenapa Liam merasa bertanggung jawab atas apa yang menimpa gadis malang itu. Tak jarang tubuh kekarnya akan jadi sasaran pelampiasan Alana, entah itu cakaran ataupun pukulan. Dengan sabar Liam tetap berada di sana dan mendampingi semua rangkaian proses pengobatan Alana.
Hanya saja, sampai detik ini Alana masih enggan untuk melakukan visum serta test selaput dara. Gadis itu seolah menolak kenyataan mengerikan yang harus ia hadapi ke depannya.
"Pergi!!"
"Menjauh dariku!!!"
Prang!
"Kau sialan!!!"
Alana terus berteriak, seraya membanting peralatan makanan yang ada di atas nakas.
"Look at me, ini aku Al..." ucap Liam dengan lembut.
__ADS_1
Pria itu tak segan mendekati Alana, serta menangkup kedua pipi gadis tersebut. Ia mencoba mencari titik kesadaran Alana dengan menatap lurus pada netra indah milik Alana.
Dalam jarak yang begitu dekat ini, Liam bisa merasakan kesakitan serta ketakutan yang begitu besar masih menguasai jiwa Alana. Gadis itu seakan terjebak di sebuah ruang waktu yang membelenggunya.
"It's me... Liam." bisik Liam terus berusaha menarik nalar Alana.
Alana mulai terisak, kemudian meraung dan menjerit mendenyutkan hati Liam. Sungguh, Liam belum lama mengenal gadis ini. Tapi rasanya Liam bisa merasakan semua emosi yang Alana miliki.
Malam itu, tidak ada seorang pun yang tau kepastian yang terjadi pada Alana. Mahkota paling berharga bagi setiap perempuan itu entah sudah berhasil direnggut, atau tidak.
Sebab ketika Liam tiba, Ia tak menemukan badjingan itu ada di antara para pria yang mengelilingi tubuh Alana yang sudah hampir tak berbusana.
Alana belum bisa dimintai keterangan apapun, kondisinya tak memungkinkan untuk kembali membicarakan kejadian yang membuatnya trauma seperti ini.
Minggu berganti, bulan pun berlalu.
Kondisi kedua wanita itu masih tetap sama, belum terlihat adanya perubahan membaik yang signifikan. Sampai akhirnya Nyonya Bellena memutuskan untuk membawa Tiara dan Alana menjalani pengobatan yang lebih intensif di Luar Negeri.
Tentu pada awalnya Delvano menolak mentah-mentah. Sudah cukup ia kehilangan calon buah hatinya, tak sanggup rasanya jika harus kembi berpisah dengan orang yang sangat ia cintai.
"Biar aku yang menanganinya Momm, lagipula aku ada pemiliknya, mudah saja bagiku meninggalkan kantor dan..."
"Dan membebani sahabatmu lagi?" sambar Nyonya Bellena gemas.
"Lama-lama publik akan menyangka perusahaan kita sudah diakusisi. Sudahlah, demi kebaikan kalian semua, kau bisa menjenguk istrimu sebulan sekali ke sana."
"Tidak. Ara istriku Momm... Aku yang akan memutuskan apa yang baik untuknya."
"Jangan egois Vano. Menantuku membutuhkan penanganan khusus, dia juga perlu suasana baru. Mengertilah."
Delvano ingin kembali membantah, namun urung sebab apa yang dikatakan Nyonya Bellena tidak sepenuhnya salah. Ia hanya ingin terus berada di samping Tiara, terutama di titik paling terendahnya.
__ADS_1
Adapun Liam, ia hanya menyimak saja tanpa berani menyela. Meski sejujurnya ia pun merasa keberatan jika Alana harus serta merta dipindahkan pengobatannya ke Luar Negeri.
Entah apa alasannya, Liam pun tak tau. Yang pasti ia merasakan kehilangan, seperti kosong lantaran ia masih merasa belum tuntas bertanggung jawab pada kondisi Alana yang masih gamang.