Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Aku tak tahan!


__ADS_3

Biasakan tekan Like sebelum membaca 🙏


🦋🦋🦋🦋🦋


Pasangan yang baru Sah menikah beberapa jam lalu itu masih saling menempel seraya bercanda gurau, mereka sama sekali tak menghiraukan orang-orang yang masih berada disana menyaksikan kemesraan keduanya.


"Kak!, tolong lepas dulu tangannya!." rengek Tiara pada suaminya.


"Hmm." Aryan seolah tak peduli, ia larut dalam kehangatan yang gadis itu miliki. Ia mengeratkan pelukannya ke tubuh sang istri yang kini duduk di pangkuannya.


"Lepas dulu kak." pinta Tiara lagi.


"Memangnya kenapa, hmm?!." tanya Aryan lembut, ia memainkan jemari sang istri, dengan tangannya yang lain berada di pinggang gadis itu.


"Malu kak.. di sini masih ramai" cicitnya pelan, ia mencoba untuk tenang meski semburat merah itu tak kuasa ia tutupi.


"Kau ingin ke tempat yang lebih sepi..?!." Bisiknya menggoda, pria itu melempar senyum nakal yang membuat wajah Tiara semakin memerah padam.


Aryan tau Tiara tidak bermaksud kesana. Tapi ia sangat suka melihat pipi merah bak tomat masak itu.


Gadis itu memukul pelan dada keras Aryan, yang malah terasa seperti usapan. Pria itu semakin menyeringai, ia menahan tangan Tiara tepat di dadanya.


"Kau bisa merasakannya?." tanya Aryan serak, ia masih menggenggam tangan Tiara lembut, memberitahu detak jantungnya yang sedang berdebar hebat.


Tiara mencoba menarik tangannya, namun Aryan menahannya. Sungguh Tiara tak sanggup ditatap sedemikian rupa oleh mata sayu itu.


Pesona Aryan semakin kuat jika dilihat dari jarak sedekat ini, darah Tiara berdesir, tubuhnya pun panas dingin.


"Kak.." cicitnya, ia mengeratkan tautan tangannya yang masih digenggam Aryan.

__ADS_1


"Apa,hmm?!." Jawab Aryan semakin serak dan berat. 'Sial!, kenapa ia sangat kesusahan mengontrol diri setiap berdekatan dengan gadis ini.


"Diamlah Ara!, jangan banyak bergerak." desisnya pelan, wajah Aryan memerah seperti menahan sesuatu.


Tiara kebingungan, ia menggeser tubuhnya karna tak nyaman sejak tadi duduk menempel seperti ini.


"Kau kenapa Kak?, Apa kau demam?!." Panik Tiara memeriksa dahi pria itu."


"Ahmmpp!! ****!!!." pekik Aryan menahan desa-hannya yang hampir saja lolos. Ia sudah tak sanggup lagi menahan pembengkakan di bawah sana.


Aryan semakin merasa tersiksa dengan Tiara yang semakin tak bisa diam, bahkan wajahnya saat ini berada lurus dengan aset sintal milik Tiara.


Gadis itu benar-benar mampu membuatnya kalang kabut. Dengan segera Aryan menahan tangan Tiara yang masih saja memeriksa suhu tubunya.


"Sayang, aku tak tahan." bisiknya parau. Ia segera berdiri dengan membawa serta Tiara di pangkuannya. Memutar tubuhnya kemudian masuk kedalam rumah, meninggalkan semua orang yang masih membereskan sisa-sisa sajian makanan.


Beberapa orang yang ada disana menggeleng melihat kelakuan keduanya, mereka mengerti bahwa pasangan baru memang butuh privasi.


Acara pernikahan mereka terbilang singkat, tidak ada undangan, tidak ada dekorasi mewah seperti di gedung-gedung pernikahan kelas atas. Tidak ada gaun mewah, bahkan riasan indah.


Namun semua itu memang sudah jadi tradisi di sana, mereka hanya akan menyediakan jamuan khusus untuk para warga yang hadir, ikut memeriahkan acara.


...*****...


"Daddy, Mommy... Daddy.. Hiks!." lirih balita itu pada wanita cantik yang kini menghampirinya.


Ia menatap nanar pada putra kesayangannya yang sejak tadi tak lepas memandangi foto sang ayah, yang di bingkai khusus di atas nakas kecil dekat ranjang sana.


"Jangan nangis baby.." ucapnya menenangkan, ia mengusap lembut surai milik sang putra, yang berbeda warna dengan ayahnya.

__ADS_1


Jika sang ayah memiliki warna rambut berwarna kecokelatan, berbeda dengan sang anak yang memiliki warna rambut lebih gelap, yakni hitam legam.


Namun mata bulat bersih itu, sangat mirip dengan mata sang Ibu yang memiliki mata belo seperti boneka hidup.


"Kau merindukannya?, hmm?." tanyanya lembut, ia memangku balita itu kemudian di dudukan ke pangkuannya yang kini berada di bibir ranjang.


Balita yang usianya 3 tahun itu mengangguk dengan begitu lucunya. Ia memanyunkan bibir bawahnya dengan sudut bibir yang sudah melengkung ke bawah.


Oh tidak, sepertinya dia akan kembali menangis.


"Why sayang?, kemarilah, ayo kita jalan-jalan." seru pria berbadan tinggi itu di ambang pintu sana.


Ia merentangkan tangannya, namun si kecil tetap bergeming diam di tempatnya, ia hanya melirik sekilas kemudian kembali menatap pada foto yang masih ia genggam erat.


Wanita cantik itu mendesah berat, ia menurunkan bocah kecil itu ke atas ranjang.


"Dia masih butuh waktu, tolong mengerti." ucapnya seraya berjalan menghampiri pria itu.


"Aku mengerti, tapi aku tak akan diam saja, kau tau aku tak suka di acuhkan." jawab pria itu tegas, ia menyentuh lengan wanita itu kemudian menariknya agar masuk ke pelukannya.


Dia adalah pria keras kepala yang ambisius serta haus kekuasaan, ia sudah lelah berpura-pura seperti ini.


Pria itu yakin rencananya tak pernah gagal, namun pertemuannya dengan seorang pria beberapa waktu lalu membuatnya gelisah seolah memberi alarm pertanda bahaya.


Tidak!, ia tak mungkin gagal, bahkan ia sudah memastikan segalanya, namun tetap ia harus segera menghubungi Ano-asistennya.


'Menghilanglah selamanya, tenggelam, atau bahkan hancur sekalipun'.


...Tbc......

__ADS_1


__ADS_2