Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Extra Part 4


__ADS_3

"Kurang ajar! Aku harus membuat perhitungan pada perempuan sialan itu!" Dengus Kaira menghentakkan kakinya ke lantai. Hatinya begitu panas menyaksikan perlakuan istimewa yang diberikan Delvano pada perempuan itu.


Kaira segera berlalu dari sana dengan perasaan jengkel dan marah. Hampir sepanjang perjalanan menuju ruangannya perempua yang memakai sepatu setinggi 7cm itu terus saja mendumel, mengoceh tidak jelas.


Sementara Delvano dan Tiara menertawakan kelakuan wanita pengganggu yang sesaat lalu memasuki ruangan.


"Kau bahagia sekali, sayang." Goda Delvano pada istrinya.


"Apa dia tidak sadar sedang diusili bossnya sendiri." Ucap Tiara di ujung kekehannya. Namun sesaat kemudian ia menyadari akan sesuatu, hingga gurat tawa itu hilang dari wajahnya.


Mereka masih di posisi yang sama, namun sedikit ada jarak tidak seperti tadi yang seakan ada perekat di antara tubuh keduanya.


Tiara memasang wajah cemberut yang nampak lucu di mata Delvano.


"Apa perempuan itu sering keluar masuk ke ruangan suamiku seperti tadi?" tanya Tiara dengan nada yang sedikit ketus.


Delvano tak langsung menjawab, pria itu mengerutkan kening seraya menatap lekat wajah Tiara yang sedikit ditekuk.


"Hemmm, sepertinya begitu. Wanita tadi sering menemuiku ke ruangan ini. Namanya Kaira." Jawab Delvano santai. Ia sengaja menekan kata 'sering' dengan niat terus menggoda istrinya.


Tiara menundukkan wajahnya, ia juga melepas rangkulan tangannya dari bahu Delvano.


"Begitu kah? Jadi ternyata kalian sering menghabiskan waktu bersama di ruangan ini." Lirih Tiara sendu.


Perasaannya mulai tak nyaman, ada denyut lain yang ia rasakan di hatinya. Seketika pertanyaan-pertanyaan aneh banyak bermunculan di kepala Tiara. Prasangkanya bahkan sudah jauh entah kemana, ia tidak terima.


Dan Tiara kembali teringat akan peringatan Nyonya Bellena siang tadi. Apa Kaira masuk List wanita penggoda yang harus ia waspadai? lagipula jika dilihat-lihat, perempuan tadi nampak begitu cantik dan juga menarik.


Tiara yakin banyak pria yang menginginkan sosok seperti Kaira. Pertanyaannya, apakah Delvano termasuk pada pria-pria tersebut? Ah, Tiara semakin menunduk dalam-dalam dengan pikiran buruk akan suaminya sendiri.


Apalagi saat ia kembali mendengar jawaban suaminya yang terdengar meyakinkan.


"Hem, sering. Sangat sering." Kata Delvano seraya menikmati ekspresi menggemaskan dari wajah cantik Tiara. Ah, haruskah ia mengulang kembali kegiatan mereka barusan?.


"Sesering apa?" Tanya Tiara dengan nada suara yang mulai terdengar tak bersahabat.

__ADS_1


"Sesering aku memasukimu." Bisik Delvano serak, terdengar berat.


Blushh!


Kedua pipi Tiara seketika memerah, tangannya memukul manja dada bidang sang suami sebagai bentuk protesnya. Ah, rupanya ia sadar telah dikerjai oleh Delvano.


"Kau menyebalkan." Ucap Tiara yang kini sudah kembali dengan senyumnya yang malu-malu. Entahlah, meski usia pernikahan mereka hampir menginjak 3 tahun namun Delvano selalu sukses membuatnya tersipu.


Delvano sendiri terkekeh dibuatnya. Ia menarik pinggang Tiara agar semakin menempel dengannya, pria itu mengikis jarak lalu menatap wajah kemerahan istrinya dari jarak sedekat ini.


"Jangan berpikiran buruk tentangku, apalagi harus kau kaitkan dengan perempuan tadi, atau perempuan manapun. Kau tahu betul bagaimana gilanya aku karena terlalu mencintaimu,"Tutur Delvano seraya memperbaiki anak rambut Tiara.


Pria itu agak mendongak, lantaran posisi Tiara sedikit lebih tinggi darinya. Ia menyentuh kedua lengan sang istri lalu dilingkarkan ke belakang lehernya.


"Kau mengerti?" Tanya Delvano lembut.


Tiara hendak menjawab, namu suara dering dari ponsel Delvano menghentikannya.


"Sebentar, sayang." Kata Delvano. Ia mengambil benda pipih itu yang berada di atas meja. Delvano mengerutkan kening, setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.


Liam. Ada apa pria kurang ajar itu meneleponnya? apakah ini tentang Alana? sebab 2 hari yang lalu Liam diketahui bertolak ke Negeri seberang, memang sudah jadi rutinitas pria itu untuk menemui Alana hampir satu kali, dalam 2 minggu.


"...."


"Apa maksudmu?" Tanya Delvano dengan nada terkejut.


Tiara ikut penasaran dengan kabar apa yang suaminya terima, terlebih ia tadi mencuri lihat nama kontak si penelepon.


Kini wanita yang mengenakan gaun selutut bermotif bunga sakura dengan aksen berlian di bagian neck itu beranjak dari pangkuan Delvano. Ia mulai khawatir sebab wajah Delvano nampak menegang seperti menahan amarah.


"Tahan dia di sana! Jika tidak aku akan memblokir semua aksesnya sekarang juga!" Seru Delvano dengan tegas. Pria itu mendesaah frustasi, ia mengurut kening yang mendadak terasa pening.


"Apa yang terjadi?" Tanya Tiara cemas.


Pria yang kini sudah berdiri dari duduknya itu hanya mengukir senyum samar, kemudian memeluk Tiara perlahan.

__ADS_1


"Kita harus pergi sekarang."


...*...


...*...


Delvano dan Tiara sudah tiba di kediaman yang ditempati Alana selama satuh tahun ini. Keduanya sedikit tergesa turun dari kendaraan yang dikemudikan Delvano sendiri. Sementara Nako dan para bodyguard lainnya membuntuti dari arah belakang.


"Kau benar-benar tidak bisa kupercaya!" Pekik Alana dari dalam kamarnya. Ia melempar bantal tidurnya sekuat tenaga ke arah Liam yang beridi tak jauh darinya.


Gadis yang kini mulai kembali seperti semula itu terlihat semakin galak dengan karakternya yang semakin kuat. Bahkan sifat keras kepalanyapun sepertinya bertambah parah.


Terbukti, dengan kedatangan Delvano yang tanpa pikir panjang ini hanya untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah sang adik perbuat.


Bayangkan saja, tiba-tiba Alana memesan salah satu unit kendaraan mewah berjenis Roll Royce seharga 25 milyar lebih. Ini tidak hanya masalah nominal saja yang jadi permasalahan. Jika saja Alana membeli untuk dirinya sendiri mungkin Delvano masih bisa memahami meskipun akan ada perdebatan dulu sebelumnya.


Alana sengaja memesan kendaraan tersebut tak lain ialah untuk diberikan kepada pacarnya yang tengah berulang tahun.


Terlebih, ini bukan kali pertama gadis cantik itu merogoh kocek hingga membuat Delvano dan orangtuanya geleng-geleng kepala. Sebelumnya, Alana juga pernah membelikan sahabatnya sebuah tas ternama dengan harga fantastis.


"Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan Alana?!" Geram Delvano mendorong paksa pintu kamar adiknya yang tidak tertutup rapat.


Seketika Alana membeku ditempat. Ia tak menyangka bahwa kedatangan kakaknya akan secepat ini. Semua ini gara-gara Liam si biang kerok. Pria itu bak gayung bocor yang tidak bisa menjaga rahasia.


Apapun yang dilakukan Alana akan selalu ada dalam pantauan Liam. Dan jika pria itu sudah menemukan kejanggalan atau hal-hak berbau negatif lainnya. Maka secara otomatis segera Liam sampaikan pada Delvano.


Ya, katanlah Liam bodyguard sekaligus asisten kedua Delvano. Sebab semenjak kejadian di masa lalu, hanya Liam lah yang Delvano percaya untuk menjaga sang adik. Begitupun dengan Tuan dan Nyonya Bellena keduanya benar-benar percaya dan berharap Liam bisa selalu mengontrol pergerakan sang princess Mahawira.


Liam tak lagi dianggap partner bisnis ataupun musuh. Pria itu sudah dianggap seperti bagian dari keluarga tersohor tersebut. Dan Liam, ia sangat senang bisa melakukan hal yang berguna bagi orang yang hidupnya hampir terrenggut oleh saudaranya sendiri.


"Kak?" Sapa Alana setengah berbisik. Ia menghentikan aksinya yang seakan ingin menghabisi Liam saat itu juga. Duduk di atas ranjang, dengan wajah yang ditekuk. Alana terlihat tidak suka dengan kedatangan kakaknya.


"Haishhh! Kenapa kau cepat sekali sampainya. Apa teleportasi sudah menjadi salah satu kekuatanmu? Huhh! Menyebalkan!" Dumel Alana cemberut.


"Jaga sikapmu Al, dia kakakmu." Peringat Liam.

__ADS_1


Selama ini Delvano tidak pernah mempermasalahkan berapapun uang yang sang adik habiskan. Namun sepertinya ia lupa akan mengingatkan Alana agar lebih bisa menghargai setiap nominal yang digunakan.


Sebab di luaran sana banyak orang-orang yang tidak seberuntung Alana. Jangankan untuk memebeli kendaran ataupun barang-barang mahal lainnya. Untuk sekedar makan sehari-hari saja mereka harus banting tulang, bekerja keras dengan upah yang tidak seberapa.


__ADS_2