Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Perubahan Delvano


__ADS_3

"Katakan semua itu tidak benar, katakan semua itu hanya salah paham saja, katakan kau tidak berpaling dariku Vano. Katakan!!." tuntut Elmira berang.


Meski sebenarnya ia gugup, tapi sekuat tenaga menahan tatapan tajam Delvano yang selalu berhasil membuatnya tak berdaya.


Wanita cantik itu hampir kehilangan kesabarannya menghadapi pemberitaan yang semakin membuatnya seolah tak lagi dianggap posisinya.


"Apa amnesia juga bisa mengubah perasaan seseorang?, aku mencintaimu begitu juga denganmu!..."


"Pikirkan Aiden!, putramu yang beberapa bulan ini kehilangan senyumnya!..." ucap Elmira dengan suaranya yang mulai melemah.


"Dia merindukanmu sayang, tapi kau berubah."


Elmira terisak lirih, ia memukul kecewa dada bidang Delvano yang sejak tadi hanya diam saja.


Nyonya muda Mahawira itu terus menangis, menumpahkan kepedihannya.


Delvano masih saja diam, namun tak lama ia menahan pergelangan tangan Elmira, lalu menarik tubuh gemetar itu ke pelukannya.


"Tidak ada yang berubah..."


"Pembohong!,kau bahkan tak lagi sudi menyentuhku." pungkas Elmira cepat.


Sejak tadi ia ingin membahas hal ini, namun tertahan lantaran masih ada orang lain. Mau ditaruh dimana harga dirinya.


Ia adalah seorang wanita dengan segudang kelebihan, kulit putih mulus dengan bentuk tubuh sekal menggoda. Sampai ia tak habis pikir mengapa Delvano sedikitpun tak berminat padanya.


"Maafkan aku."

__ADS_1


Ucap Delvano akhirnya.


Keduanya saling memeluk, memberikan kehangatan dari tubuh masing-masing.


Tak lama, dengan perlahan Elmira menjinjitkan kakinya kemudian mencium bibir Delvano sambil memejamkan mata.


Ciuman sepihak itu Elmira nikmati sendiri, sebab Delvano hanya diam dengan pikiran yang berkecamuk.


Keduanya masih saling menempel, di tengah malam saat semua penghuni mansion telah kembali ke kamarnya masing-masing.


Kecuali Tiara.


Ia berdiri di atas tangga sana, menatap nanar pada adegan romantis di hadapannya.


Bahkan Tiara juga sempat mendengar ungkapan kepedihan Elmira. Sebagai sesama wanita, tentu ia mengerti kesakitan yang di alami Nyonya muda tersebut.


Namun lagi-lagi, Tiara kembali terluka dengan harapannya sendiri. Ia merasa sudah diangkat melayang, kemudian dihempaskan sesuka hati.


...*...


...*...


Semenjak malam itu, Tiara merasakan perubahan pada sikap Delvano terhadapnya.


Pria itu juga tidak kembali ke kamar, dan entah tidur dimana.


Bahkan keesokan harinya saat Tiara bertemu langsung dengan Tuan Gunz dan Nyonya Bellena pun, pria itu tak banyak bicara.

__ADS_1


"Dia adalah orang yang selama ini menolongku, namanya Tiara."


Tiara hanya menunduk pasrah, ia hanya mampu menjawab "IYA" saat Nyonya Bellena kembali memastikan.


Bahwa Tiara hanya kebetulan menolong saja, bukan wanita lain Delvano seperti yang selama ini di beritakan media.


Sesekali ia mencuri pandang ke arah suaminya, berharap pria yang kini berwajah datar itu kembali membuka suaranya.


"Sadarlah Tiara, dia sudah kembali pada wanita yang seharusnya. Kehadiranmu sama sekali tidak berarti apapun untuknya." monolog Tiara dalam hati.


Dan perubahan Delvano itupun berlangsung tak hanya satu dua hari.


Ia harus selalu di suguhkan dengan pemandangan keluarga kecil bahagia setiap saat. Lantaran Elmira dan Aiden memutuskan untuk tinggal di mansion utama menambah getir bagi Tiara.


Seperti malam ini.


Tiara kembali menyaksikan adegan romantis seorang istri yang melayani suaminya di meja makan.


Dia seperti tak terlihat, tak di anggap ada di antara orang-orang dengan aura konglomerat itu.


Tiara hanya mampu meremaas ujung bajunya yang ada di bawah meja, untuk menahan rasa sesak di dadanya.


...*...


...*...


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2