
Delvano segera beranjak dari duduknya, saat ia melihat Nako yang datang dengan tergesa membuka pintu ruangannya.
"Ada apa?" todongnya tanpa peduli keadaan Nako yang hampir kehabisan napas.
"Nyonya Besar dan Nona Tiara dalam bahaya Tuan." ucap Nako mengejutkan Delvano.
Tanpa banyak kata, Delvano segera bergegas keluar kantornya. Ia tak mempedulikan apapun lagi, pikirannya sudah dipenuhi dengan kekhawatiran pada dua wanita yang begitu ia cintai.
Delvano kembali menyalahkan dirinya sendiri, merasa kecolongan akan kecerobohannya.
Padahal ia tau rencana Mommynya yang dengan sengaja membawa Tiara bertemu langsung dokter Tama, agar istrinya itu dapat mendengar penjelasan sang dokter.
Sungguh ia tak menyangka, pria sialan itu benar-benar tidak menyerah mengganggu kehidupannya.
Ia juga amat menyayangkan keputusan sang Mommy yang tidak mengikut sertakan para bodyguard yang biasa menjaga kemanapun pergerakan sang Nyonya Besar.
"Cepat kepung area rumah sakit!" titah Delvano pada orang-orang suruhannya.
Ia langsung mematikan sambungan telfon, kemudian menginjak pedal gass guna menambah kecepatan.
"Kumohon, bertahanlah sayang." gumam Delvano mengusap kasar wajahnya.
Setibanya di sana, Delvano segera mengarahkan Rubicon miliknya ke area parkiran bawah tanah, setelah sebelumnya ia mendapat laporan mendetail dari orang-orang suruhannya.
Jantung Delvano bergemuruh hebat, saat melihat keramaian di basement rumah sakit. Ia sekuat tenaga menahan sesak di dada, berharap keajaiban berpihak padanya.
__ADS_1
Berjalan menerobos kerumunan, Delvano beruntung sebab semua orang menyingkir dengan hormat.
Mereka tau betul, siapa pria tampan yang kini hadir di antara orang-orang. CEO MHW Company itu tampak begitu mencolok, dengan setelan jas formal yang menambah kesempurnaan penampilannya.
Namun hal itu tak digubris Delvano, saat ini fokusnya hanya pada perempuan yang tengah menangis di pelukan Mommynya.
Tungkainya terasa lemas, kemudian membuang napas dalam dengan detak jantung yang masih tak beraturan.
"Apa yang terjadi?"
"Orang itu gagal melancarkan aksinya Tuan, ketika dia mengacungkan pistol, di saat yang bersamaan orang-orang kita telah tiba, dan terpaksa melepaskan tembakan padanya." terang Nako yang kini sudah berada di samping Delvano.
"Dimana pria brengsek itu sekarang?" tanya Delvano geram.
"Kau urus sisanya!"
"Baik, Tuan" sahut Nako menyanggupi.
Nako segera pergi dari sana, meninggalkan Delvano yang mulai bernapas lega. Orang-orang yang tadi berkerumun sudah tidak ada di sana, sebab para bodyguard Delvano sudah mengusirnya.
"Ra..."
"Sayang."
Tiara segera menghambur ke pelukan suaminya, ia mencari rasa aman dari rengkuhan pria yang selalu ia rindukan.
__ADS_1
Delvano tentu menyambut dengan perasaan yang membuncah, kekhawatiran yang sejak tadi menyelimuti berangsur hilang, digantikan rasa bahagia dan lega. Sebab Tiara dan Mommynya baik-baik saja.
Kecupan beruntun pun ia labuhkan ke pucuk kepaala sang istri. Ia ingin agar Tiara tau bahwa ia sangat menecemaskannya.
Mereka seolah lupa, bahwa saat ini posisi mereka berada di tempat terbuka, dengan Nyonya Bellena, Pak sopir, dan para bodyguard yang saat ini sengaja berbalik badan, memunggungi pasangan yang tengah menyalurkan kerinduan.
"Kau tak apa kan sayang? tidak ada yang luka?" tanya Delvano memeriksa tubuh Tiara.
"Aku tak apa, hanya kaget saja." sahut Tiara menenangkan Delvano.
"Mom?..."
"kami baik-baik saja sayang." Nyonya Bellena melempar senyum teduhnya. Kini ia bisa menyaksikan betapa besar cinta keduanya.
Tak ingin mengganggu, Nyonya Bellena pamit lebih dulu, di antar sopir dan beberapa bodyguard yang mengawalnya.
"Maafkan aku sayang, karna kau harus mengalami hal ini." sesal Delvano kembali memeluk Tiara.
Tiara mengangguk pelan, ia kini merasa aman dan semakin menelusupkan wajahnya ke dada bidang sang suami.
...*...
...*...
Tbc...
__ADS_1