
"Makanlah dulu Ra, mereka sudah menyiapkan semuanya untukmu." Pak Aris hampir kehilangan akal, sudah beberapa hari ini Tiara enggan menyentuh apapun yang di sajikan para pelayan.
Pria paruh baya itu ikut merasakan sesak., namun ia tak mungkin melewati batasannya. Ini adalah masalah rumah tangga, dan ia hanya bisa mendukung apapun keputusan yang akan Tiara ambil.
"Bagaimana kalau kita kembali saja ke desa Ra?, daripada di sini, Zalara lebih cocok untuk kita. Kau tidak akan bisa melawan orang-orang kelas atas itu. Lagipula, tidak ada yang bisa paman kerjakan disini. Selain mengurus tanaman dibelakang sana, paman tidak di izinkan mengerjakan yang lainnya."
Pak Aris masih berdiri di dekat Tiara yang sejak tadi duduk melamun di ranjangnya.
Wajah Tiara masih terlihat sendu dengan tatapan kosong menatap ke arah jendela sana.
Tak pernah ia sesakit ini merindukan seseorang. Rumah megah serta fasilitas mewah yang di tinggalinya, tak mampu menutupi luka yang seloah merobek hatinya.
"Aku tidak mengerti kenapa dia tak pernah datang menemuiku, aku hanya ingin bertemu dengannya Paman!."
Terdengar helaan napas frustasi dari Tiara, ia menggigit bibirnya resah sebab menahan isakan yang hampir saja lolos.
Demi Tuhan, Tiara tidak akan menanyakan apapun pada Delvano. Cintanya terlalu besar, wanita itu sungguh takut akan kembali di tinggalkan. Cukup dulu kedua orangtuanya saja yang pergi dan tidak kembali.
"Aku merindukannya, sangat merindukannya." lirih Tiara dengan suara tercekat, di iringi air mata yang meluncur bebas di pipi mulusnya.
Pak Aris mendesah pasrah, ia memilih untuk segera keluar dari kamar ketimbang harus terus menyaksikan kegetiran yang membelenggu keponakannya tersebut.
...*...
...*...
"N-nona."
Para pelayan begitu terkejut akan kehadiran Nona mereka yang tiba-tiba muncul di dapur, ini pertama kalinya wanita cantik dengan bulu mata lentik itu mau keluar dari sangkarnya.
Rambut hitam panjang milik Tiara sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Wanita itu bak boneka hidup yang tak sengaja di beri nyawa.
"A-ada yang bisa saya bantu Nona?." tanya salah satu pelayan yang di tugaskan khusus melayani kebutuhan pribadi Tiara.
__ADS_1
"Aku ingin berkeliling sebentar, kau jangan hiraukan aku. Lanjutkan saja pekerjaanmu." Sahut Tiara menunjukan senyum manisnya.
"Baik Nona."
Pelayan wanita yang di tugaskan khusus untuk melayani kebutuhan Tiara itu merasa takjub pada Nonanya, meski gadis itu berasal dari kalangan bawah, tapi kecantikan serta pembawaannya tidak kalah anggun dengan wanita-wanita kelas atas sana. Sayangnya, Tiara tidak menyadari kelebihan luar biasa yang tersembunyi dalam dirinya.
"Apa itu Nako?, gumam Tiara mengintip di salah satu pilar besar dekat pintu utama sana. Pria itu terlihat tengah mengobrol di telfon.
"Pastikan lagi segalanya selagi Big Boss di perjalanan."
"..."
"Hm. Aku berangkat sekarang!."
"Aku ingin melakukan ini sekali saja, maafkan aku Tuan." batin Tiara.
Ia mengendap perlahan menjaga derap langkahnya agar tidak terdengar, Tiara bisa mengira bahwa Nako akan keluar menggunakan kendaraan itu sebab saat ini Nako tengah berdiri membelakangi Tiara tepat di samping kemudinya.
Saat ini Tiara tengah bersembunyi diantara jok kemudi dan kursi penumpang di belakang.
Sementara di sisi lain sana.
Mobil mewah yang di tumpangi CEO tampan itu di kawal ketat oleh iring-iringan kendaraan mewah lainnya, semua berjejer memanjang berhenti di depan perusahaan MHW Company, salah satu gedung tertinggi di antara gedung-gedung di sekitarnya.
"Sudah kuduga."
Delvano sudah terbiasa dengan pengawalan berlebihan seperti ini, namun ia cukup jengah dengan sambutan luar biasa heboh di depan sana.
Semua orang sudah berjejer rapi, di iringi kilatan flash kamera dari wartawan media.
"Selamat datang kembali Tuan." seru seluruh staff dan karyawan seraya membungkuk hormat.
Delvano hanya bergumam kecil dengan Elmira dan Aiden yang berada disampingnya, ia mengeratkan rangkulannya di pinggang Elmira setelah ia menangkap tatapan aneh dari semua orang.
__ADS_1
"Cih!, jadi kau hanya sudi menyentuhku saat di depan kamera seperti ini!." batin Elmira kesal.
Sepertinya ia butuh usaha lebih hanya untuk kembali menarik perhatian Delvano, pasalnya sejak kembali, pria itu seolah enggan menyentuhnya lebih. Elmira akan mengikuti alur yang terjadi sekarang, sebelum ingatan Delvano benar-benar pulih sepenuhnya.
"Jangan berlebihan, anggap saja aku kembali dari perjalanan bisnis biasa!." Delvano mengedarkan pandangan ke semua orang, ia menatap tajam pada mereka yang mengajukan pertanyaan diluar nalar.
"Benarkah posisi anda terancam di sebabkan kondisi anda saat ini Tuan?."
"Ada rumor mengatakan anda tidak benar-benar mengalami kecelakaan, tapi berselingkuh dengan wanita lain di luar sana tanpa sepengetahuan keluarga besar."
"Tolong jelaskan siapa wanita yang ada didalam video!, benarkah dia wanita simpanan anda Tuan!?."
"Apa yang sebenarnya anda sembunyikan Tuan?."
Kreettt!!!
Delvano menggertakan giginya nyaring, kepalan tangannya menguat mendengar pertanyaan tak masuk akal itu.
"Itu tidak benar, aku adalah satu-satunya wanita yang akan menemani suamiku hingga kami tua nanti. Ia kan sayang?." Elmira merangkul lengan Delvano erat, disertai senyuman pembuktian bahwa hanya dirinya yang pantas untuk seorang Delvano Mahawira.
Delvano terpaksa meng-iyakan sebab ia tak ingin memperpanjang masalah. Ia kembali mengedarkan pandangan pada lautan manusia yang mulai tenang.
Diantara banyaknya kerumunan manusia di hadapannya, Delvano merasa tersentak dengan satu sosok yang selama ini ia rindukan.
Kenapa gadis itu ada disana?.
"S-sayang?."
...*...
...*...
Tbc...
__ADS_1