
Delvano menutup ponselnya, ia kembali bersandar di kursi kebesarannya dengan senyum yang merekah. Hatinya berdegup kencang hanya dengan melihat senyum Tiara yang kembali muncul.
Darren sudah tidak ada di ruangannya, pria yang menduduki jabatan sebagai kepala manager bagian keuangan itu telah kembali dengan tugasnya.
Waktu berlalu.
Dan pertemuan yang telah ditentukan pun telah tiba. Seorang pria berbadan tinggi dengan kulit putih khas blasteran tersebut telah berdiri tegap dihadapan Delvano.
Liam Gilbert, putra dari keluarga Abraham Gilbert yang saat ini menduduki posisi paling tinggi di Gilbert grup. Dia adalah pria blasteran dengan netra biru terang yang khas.
Mereka hanya terhalang meja kerja Delvano, dengan Nako dan asisten pria tersebut berada di samping keduanya.
Pria tersebut hanya diam, tak berniat menduduki kursi sebelum Tuan Rumah mengizinkan.
Delvano berdecih. "Kalau kau datang dengan maksud baik. Duduklah. Jika tidak, maka aku akan beranjak dari kursiku."
Liam tersenyum miring, lalu ia mengambil duduk di hadapan Delvano. Suasana serasa mencekam, sebab beberapa saat keadaan hening tanpa ada yang bersuara. Sesekali Nako menyeka keringat dingin yang entah kenapa mengucur deras tak tertahankan.
"Ku kira keangkuhanmu turut sirna bersamaan dengan sebagian memorimu yang hilang." sarkas Liam membuka pembicaraan.
"Katakan saja apa yang ingin kau samapaikan Tuan Liam." Delvano tak bergeming, ia tetap mempertahankan ekspresinya yang dingin menciptakan kecanggungan yang nyata.
"Jujur saja, aku datang ke sini untuk mengajukan penawaran,"
"Ada dua opsi?,,," ucapnya memberi jeda.
"Bekerja sama denganku dengan syarat kau harus mempercayaiku. Atau..."
"Jadilah lawanku namun kau tidak akan bisa menyelesaikan misimu. Apapun yang kau pilih, tentu itu akan mempengaruhi hidupmu. Termasuk kisah percintaanmu." tutur Liam mantap.
"Well, ku anggap ini sebagai ancaman. Karna kau sudah menyinggung wanitaku." Delvano tentu tau betul kemana arah pembicaraan Liam, dia jadi semakin yakin bahwa pria yang berhadapan dengannya kini memang patut dicurigai.
Sebab dari kalimat Liam saja, seolah menegaskan bahwa ia mengetahui semua tentangnya. Itu tidak boleh terjadi, lantaran bisa saja Tiara di jadikan sasaran empuk oleh lawan.
__ADS_1
Kini Delvano paham, mengapa Nako cukup kesusahan mengorek siapa dalang dari musibah yang menimpanya. Keluarga Gilbert bukan keluarga sembarangan, salah satu keluarga tersohor tak jauh beda dengannya.
"Kau bisa menganggapnya seperti itu Tuan Delvano." sahut Liam tak gentar.
Pembicaraan yang seperti mengadu kekuasaan itu berakhir di jam makan siang. Liam dan asistennya berpamitan secara hormat mempertahankan nama baiknya.
Delvano semakin berpikir ke depan, mengenai permasalahannya. Dia sudah mendapatkan target yang pas sebagai tersangka. Menurut Nako, hubungan perusahaan MHW dan Gilbert memang terbilang tidak baik, lantaran sebelumnya pernah memeperebutkan kekuasaan wilayah bagian timur.
Meski sebelumnya Delvano sempat ragu, namun kedatangan Liam hari ini kembali membuatnya berada di mode waspada.
...*...
...*...
Malam harinya, Delvano kembali ke mansion utama tepat pukul 8. Mansion tampak sepi, ia tak melihat siapapun di ruang keluarga. Hanya ada para pelayan yang masih bertugas di lobby depan serta di ruang makan.
Ia melanjutkan langkah hingga ke ruang kerjanya. Namun, sebelum ia meyentuh gagang pintu. Delvano melihat sosok Elmira di dekat pintu sana yang menghubungkan dengan kolam renang.
Wanita itu nampak seperti tengah berdebat dengan seseorang melalui ponselnya.
"Apa kau tidak bisa bersabar lebih lama? Aku butuh waktu,"
"Jangan menemuiku sebelum aku yang meminta,"
"Sudahlah, aku tak ingin mendengar lagi ocehanmu."
Setelah itu, Elmira memutus panggilannya.
"Siapa?"
Deg!
Elmira tersentak, mendengar suara berat milik Delvano. Ia menelan salivanya kasar, menggenggam erat ponselnya. Susah payah Elmira mengatasi kegugupannya, ia melempar senyum manis saat berbalik badan.
__ADS_1
"Sayang, kau sudah pulang." cicitnya tertahan.
Derap langkah Delvano serasa berlomba dengan detak jantungnya yang berdegup tak beraturan. Pria itu semakin mendekat, mengikis jarak yang terbentang.
"Bukan siapa-siapa, hanya telfon iseng." kilahnya.
"Dan kau mengangkatnya di tempat temaram seperti ini?" tanya Delvano semakin mendekat.
Dari laporan Nako kala itu, Elmira memang tidak membuat ulah yang berlebihan. Hanya saja, beberapa kali ia membuat janji temu dengan seseorang yang identitasnya di samarkan.
Elmira mendekatkan diri, ia kini sudah tak segugup sebelumnya. Bahkan wanita itu melempar senyum nakal dengan gestur yang membuat Delvano mengernyit heran.
"Apa malam ini aku boleh mendominasi permainan?" tanyanya sensual.
Jari telujuk Elmira menyusuri dada bidang Delvano, gerakannya lembut memancing kelelakian pria yang masih berpakaian lengkap itu.
Dengan cekatan Elmira membuka satu persatu kancing kemeja Delvano, berharap ada respon yang begitu ia tunggu-tunggu.
Delvano pria normal, ia mengerang tertahan kala tangan nakal Elmira menyentuh bagian sensitifnya.
"Lanjut di kamar kita saja, di sini ada orang lain." Bisik Elmira di telinga Delvano.
Delvano yang sempat terbuai, berangsur tersadar mendengar peringatan dari Elmira. Orang lain? Siapa?.
Jantung Delvano bergemuruh hebat, kala netra elangnya menangkap siluet seseorang.
"Tiara?" gumanya.
"M-maaf Tuan, Nyonya Muda. Saya hanya kebetulan lewat, sama sekali tidak melihat apapun. Saya permisi."
Delvano mengurut keningnya yang tiba-tiba saja pening. Ia memejamkan matanya sejenak, kemudian mendorong pelan tubuh Elmira yang masih saja menempel dengannya.
...*...
__ADS_1
...*...
Tbc...