Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Dia Berhasil Kabur!


__ADS_3

"Kau ingat kejadian sebelum ledakan di kapal pesiar?"


"Ya Tuan, itu jelas bom bunuh diri. Tuan Liam benar-benar orang yang mengerikan, dia memerintahkan anak buahnya untuk mati di tempat hanya karna kalah persaingan bisnis dengan perusahaan Anda,"


"Sampai saat ini, saya masih menyelidiki keterlibatan Nyonya Elmira. Tidak hanya bukti transferan saja, jejak pertemuan Nyonya dan keluarga Gilbert juga jadi tambahan bukti akan hubungan mereka yang cukup dekat." terang Nako menjelaskan.


Delvano merenungi penjelasan asistennya, dan menemukan sedikit kejanggalan dari laporan yang Nako sampaikan.


"Kau bilang keluarga Gilbert? Jadi bukan hanya Liam saja yang Elmira temui."


"Hasil penyelidikan saya seperti itu Tuan."


Delvano merenung sejenak, tidak tertera nama Liam di sana, melainkan 'keluarga Gilbert'. Otaknya berpikir ulang, kalau memang Liam tidak terlibat lalu mengapa pria itu tak menyangkalnya saat pertemuan mereka hari itu.


Liam malah menawarkan perjanjian yang sebenarnya menguntungkan. Kini Delvano mulai sadar, Liam tidak mengancamnya, tapi memberinya sinyal peringatan agar lebih menjaga Tiara dengan baik.


"Bagaimana dengan Abrham Gilbert, kau sudah menyelidikinya?"


Penembakan di basement adalah bukti, bahwa ada tangan lain selain Liam. Dan satu-satunya orang yang mampu menggeser posisi Liam sebagai dalang ialah Abraham Gilbert, ayah kandung dari Liam. Yang kini masih menduduki posisi komisaris di Gilbert group.


Darren cukup tercengang mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Delvano.


"Anda harus secepatnya menemui Tuan Liam, Boss. Sebelum pelaku sebenarnya kembali bergerak!"


"Jika benar Tuan Abraham yang ada dibalik semua kejadian, berarti masalahnya jauh lebih serius Boss. Kemungkinan ada kaitannya dengan masa kepemimpinannya Tuan Gunz." ujar Darren menimpali.

__ADS_1


Hening sesaat, tak lama sebuah suara menginteruksi perhatian semua orang.


"Liam lebih berpotensi menurutku, saat ini perusahaan Gilbert berada di bawah kuasanya. Dia bisa bertindak sesukanya ketika mengalami kekalahan. Bukankah undangan bisnis itu memang datang darinya?"


Louis, yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan tiba-tiba menyela mengungkapkan opininya.


Louis adalah salah satu teman terdekat Delvano, ia adalah bagian dari 4 sekawan dengan tingkat sosial yang berbeda.


Jika ketiga pria lainnya berasal dari kalangan atas dengan karier yang menjanjikan, berbeda dengannya yang berasal dari keluarga biasa dengan hobinya sebagai pembalap liar.


Dia dikenal sebagai raja jalanan. Berbeda dengan yang lainnya sebagai pekerja kantoran dengan jas formal menunjang penampilan.


"Ya, kau benar." sahut Darren.


Padahal sudah jelas, Liam sepertinya hanya dijadikan kambing hitam sebagai tameng dari pelaku sebenarnya. Entah itu Abraham, ataupun Elmira. Kedua orang tersebut sama-sama mencurigakan.


Hanya saja, ia meragukan motif Elmira jika sampai wanita itu dianggap tersangka utama.


Obrolan ke empat pria tampan dengan Nako sebagai pelengkap itupun berakhir di jam 2 dini hari. Para bodyguard mulai bergiliran berjaga di luar mansion, mengawasi keadaan sekitar.


Keadaan diluar begitu tenang, namun sejurus kemudian ketenangan itu terganggu oleh suara seseorang yang berlari dari arah belakang mansion.


Ia terengah, meracau tak jelas dengan sekujur tubuhnya yang berlumuran darah.


Brak!!

__ADS_1


Membuka pintu darurat dengan paksa, kedatangan pria tersebut mengejutkan semua orang.


"To-long, di-a la-ri."


Napasnya mulai memberat dengan suara yang tersendat. Pria tersebut memegangi perutnya yang terdapat luka sayatan, kepalanya pun mengeluarkan darah segar dengan luka gores di beberapa bagian.


Delvano yang hendak meninggalkan ruangan pun terkesiap, dengan apa yang di lihatnya.


Nako, Darren, dan yang lainnya segera menghampiri pria malang tersebut.


"Dia bodyguard kita yang berjaga di ruangan eksekusi bawah tanah, Boss!" seru Nako seraya memeriksa keadaan pria itu yang mulai kehilangan kesadarannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Darren penasaran.


"Shittt! Dia berhasil kabur."


Delvano mulai geram. Ini tak lagi bisa di biarkan, dengan gerakan kasar ia mengambil sebuah pistol dari balik sofa yang ia duduki tadi.


Dokter Tama dan Louis hanya diam, kedua pria tersebut seolah tak terganggu dengan keadaan. Mereka tetap duduk di tempat masing-masing, memancarkan aura yang berbeda.


...*...


...*...


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2