Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Amplop Coklat


__ADS_3

"Kediaman utama." gumam Tiara.


Sedikit banyaknya ia mengerti akan maksud Delvano yang berniat membawanya berkunjung ke kediaman orang tua suaminya.


"Ya, mau?." tanya Delvano memastikan.


Sungguh Delvano tidak bermaksud memberi tekanan pada Tiara, namun mau tidak mau, siap tidak siap pada akhirnya Tiara harus bertemu dengan Tuan Gunz dan Nyonya Bellena. Orangtua Delvano.


Disamping itu, jika nantinya Tiara harus ditahan disana. Itu lebih baik daripada di mansion ini yang mesti Tiara bebas bergerak, tapi Delvano waswas.


Setidaknya, pengawasan di mansion utama jauh lebih bisa di percaya meski nantinya ia harus bersitegang lebih dulu dengan sang Tuan besar, Tuan Gunz.


"Aku mau, tapi apa yang harus aku pakai." ucapnya sendu. Tiara ingat dia tidak punya pakaian yang bagus untuk menemui keluarga dari suaminya, entahlah Tiara masih belum percaya diri untuk menyebutnya 'mertua'.


Tanpa menjawab ucapan Tiara, Delvano berdiri dan mulai melangkah mendekati ruangan lain yang ada di kamar tersebut.


"Apa kau tidak pernah mencoba masuk ke ruangan ini sayang." tanya Delvano masih berdiri di dekat pintu penghubung itu.


Tiara menggeleng.


"Aku tidak berani menyentuh apapun Kak." jawab Tiara polos.


Delvano hanya mengukir senyum gemas di tempatnya.


"Lalu bagaimana jika kau ingin berganti pakaian?." tanya Delvano seraya menyenderkan tubuh jangkungnya ke pintu, ia melipat tangannya, memperhatikan Tiara dengan tatapan penuh arti.


"Para pelayan yang menyiapkannya, mereka semua melarangku melakukan apapun." Tiara menekuk wajahnya, ia tidak terbiasa diperlakukan seperti itu. Yang pada akhirnya ia bosan lantaran tak ada kegiatan.


"Jadi kau memperlihatkan tubuh polosmu pada orang lain selain aku?."


"Itu tidak benar, aku memakai bajuku sendiri. Mereka cukup menyiapkannya saja."


Jawab Tiara yang kini sudah berjalan mendekati suaminya.


"Bagus."


Delvano segera menarik pinggang Tiara, kemudian mengecup ringan bibir ranum itu.


Tiara berdehem, untuk menutupi kegugupannya.

__ADS_1


"Kemarilah, kau harus lihat ini." Delvano menarik tangan Tiara lembut, keduanya memasuki ruangan yang tadi disebutkan Delvano. Walk In closet.


Belum sempat melangkah lebih dalam, Tiara sudah terperangah takjub dengan apa yang dia lihat. Pakain wanita dengan mode kekinian terpampang rapi di dalam lemari yang cukup besar. Belum lagi pernak-pernik perhiasan indah itu juga menambah lebar mata Tiara.


"I-ini.."


"Ini semua milikmu."


"Aku rasa ini semua berlebihan Kak, kau tau aku tidak pernah memakai barang-barang seperti ini." Tiara bicara sembari berjalan perlahan dengan tangannya yang menyentuh apapun yang ada di sana.


Sederet tas dan juga sepatu ikut memenuhi ruangan berukuran cukup luas itu.


"Kau istriku, tentu sudah kewajibanku memenuhi kebutuhanmu." terang Delvano, ia menghampiri Tiara lalu mendekap tubuhnya dari belakang. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang sudah membuatnya candu itu.


"Geli Kak..." rengek Tiara.


"Bagaimana kalau kita mengulanginya lagi di sini."


Blusshhh..


Suara serak milik Delvano mampu membuat darah Tiara berdesir hebat, ia semakin paham dengan kode-kode sang suami saat menginginkannya lebih.


Tapi Tiara kembali mengingatkan Delvano bahwa saat ini mereka harus segera siap-siap untuk pergi.


"Tidak Kak, kan sudah tadi."


"Lagi."


"Tidak, aku tidak mau."


"Berani menolakku?."


"Kak..."


Awalnya Delvano memang hanya berniat menggoda, namun CEO tampan itu merasa sedikit kecewa saat mendengar penolakan. Dengan terpaksa ia melepaskan rengkuhannya.


"Pilihlah, jika tak ada yang kau sukai aku akan membelikannya dengan yang lebih bagus." titahnya.


Delvano mundur beberapa langkah, lalu duduk di sofa kecil yang tersedia di sana.

__ADS_1


"Oh. Ternyata kau sekaya itu Tuan." ledek Tiara sembari tetap mecoba mencari pakaian yang cocok menurutnya.


Delvano tersenyum miring, senyum yang membuat pesonanya semakin terpancar.


"Ya. Maka keruklah hartaku."


"Ish!, aku bukan wanita seperti itu."


"Kau bebas melakukannya."


"Begitukah caramu menggoda setiap wanita Tuan." cebik Tiara.


"Tidak. Khusus untukmu."


Tiara tak menjawab lagi, ia tengah fokus melihat-lihat sepatu, namun tak menemukan yang sesuai dengan keinginannya. Tiara terus mencari, hingga pada akhirnya ia menarik salah satu laci yang letaknya ada di susunan paling bawah.


"Kak..." panggil Tiara.


"Hm, apa sayang." jawab Delvano lembut.


"Ini apa?." Tiara bertanya seraya memegang amplop berwarna coklat dan mengangkatnya.


Delvano menautkan alisnya, ia bangkit dan menghampiri Tiara.


"Amplop coklat." gumamnya kecil.


Delvano segera mengambilnya, ia membolak balik amplop tersebut mecoba mengingat sesuatu. Tak menemukan jawaban, akhirnya Delvano memilih untuk membukanya.


tok..tok..tok..


Pergerakan Delvano terhenti, pintu Walk In Closet yang tak ia tutup membuat suara ketukan itu terdengar jelas oleh keduanya.


"Kak..."


"Tetap di sini. Aku akan segera kembali." Delvano segera keluar dari ruangan tersebut setelah sebelumnya mencium kening Tiara lembut.


...*...


...*...

__ADS_1


...*...


Tbc...


__ADS_2