Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Bab 64 - Pesona Sang Duda?


__ADS_3

Tatapan mata-mata lapar itu seakan mengunci seorang pria yang kini tengah melenggang berjalan dengan penuh wibawa, serta aura kharismatik yang terpancar alami dari penampilannya hari ini yang nampak begitu menawan.


"Hapus air liurmu!"


"Seperti kau yang tidak saja. Lihat kancing bajumu yang tiba-tiba saja terlepas. Kau menakutkan."


"Huss. Jangan keras-keras! Nanti Big Boss dengar."


"Biarlah, siapa tahu tiba-tiba saja ia akan tertatik padaku."


"Huh! Di mimpimu."


Mereka cekikan menahan tawa agar tak menyembur keluar. Pesona sang Boss yang kabarnya sudah menduda itu selalu setia masuk di jajaran berita panas media.


Bahkan hingga ke penjuru perusahaan pun kesendirian Delvano senantiasa jadi topik utama. Namun Delvano tetaplah Delvano, ia tak peduli sama sekali dengan desas desus para wanita yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.


"CEO tampan kita terlihat semakin panas setelah menduda. Aku jadi penasaran, bagaimana kalau suatu saat ini dia menjadi milikku," celetuk salah satu dari perempuan yang bertugas sebagai resepsionis itu.


"Kurasa aku akan gila karna setiap hari harus bersitatap dengan wajahnya yang sempurna." timpal wanita lain yang berada di sampingnya.


"Kalian bukan seleranya, jadi jangan suka berkhayal!" seloroh seorang wanita cantik yang tiba-tiba memecah obrolan kedua wanita itu.


Ia menatap sinis, melipat tangannya di dada mengintimidasi kedua wanita tersebut. Hingga akhirnya mereka berhenti mengobrol dan melanjutkan pekerjaan.


Sedang dirinya kembali melenggang pergi, setelah sebelumnya melempar tatapan tajam pada semua orang yang ditemuinya.


Delvano sama sekali tak bermaksud menutupi status dirinya dan juga keberadaan Tiara. Delvano menunggu waktu yang tepat. Ia ingin memperkenalkan sang istri ke hadapan semua orang dengan kondisi Tiara yang paling memungkinkan.

__ADS_1


Sehingga orang-orang hanya akan melempar pujian, bukan celetukan yang mempertanyakan keanehan yang mereka tangkap dari diri Tiara yang belum siap.


...*...


...*...


Delvano dengan wajah dinginnya. Ia begitu serius berjalan melewati semua bawahannya. Hari ini ia harus menemui seseorang, jadwal temu yang diperkirakan molor hingga 2 jam itu sepertinya tak membuat Delvano merasa terganggu atau bahkan terbebani sedikitpun.


Selama 1 tahun ini, Delvano benar-benar menyibukan dirinya dengan sugunung pekerjaan. Ia ingin melewati hari-harinya dipenuhi banyak kegiatan, sehingga memudahkannya melalui pergantian demi pergantian waktu.


Ini bukan hal mudah untuknya. Tak lagi bisa menatap pujaan hati di waktu pagi ternyata sangat membuat Delvano frustasi. Ia sering terbangun di malam hari, merenung pada saat dini hari.


Tak jarang ia menghabiskan penghujung malamnya dengan duduk sendiri di balkon kamarnya, seraya mengepulkan asap berbahan nikotin hingga fajar kembali muncul tanpa disadarinya.


Untung saja, Nako senantiasa berada di sampingnya. Pria yang usianya tak jauh beda dari sang Big Boss itu selalu setia mengekori kemana pun Tuannya pergi.


"Kurasa saat ini kura-kura sedang menertawakanmu Nako!" seru Delvano tanpa menoleh sedikitpun.


"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, Tuan."


"Cepat!"


"Baik, Tuan."


Nako mempercepat langkahnya, lalu dengan segera membukakan pintu dan mempersilakan Tuannya. Ia segera menutup pintu, setelah memastikan sang Big Boss sudah duduk dengan nyaman.


"Apa Liam ada menghubungimu?" tanya Delvano seraya menggulir layar pipih di tangannya.

__ADS_1


Sesekali ia akan tersenyum sendiri, seperti melihat hal yang lucu. Bahkan jawaban Nako atas pertanyaannya pun bak angin lalu, tak ia simak sama sekali.


Nako hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, ia bisa menebak apa yang tengah diperhatikan Delvano saat ini. Apa lagi kalau bukan paras cantik Tiara.


Berbicara tentang Tiara. Saat ini kondisi wanita lemah lembut itu sudah lebih baik. Meski Tiara masih irit bicara, namun semua orang tetap senang. Setidaknya ada kemajuan dari teraphy yang selama ini di jalaninya.


Berbeda dengan Alana yang masih dirundung trauma. Sifat Alana yang semula pemberani, angkuh, dan kuat itu seolah lenyap begitu saja. Alana menjadi pribadi yang pendiam, sering mengurung diri di kamar dan tak lagi bergaul dengan teman-temannya.


Kecuali jika ada pawangnya. Yang tak lain ialah Liam. Semenjak peristiwa kala itu, Liam acap kali mengunjungi tempat tinggal Alana meski harus bolak-balik menggunakan pesawat.


Pria itu akan berkunjung setiap kali ada kesempatan, menanggalkan semua pekerjaannya tanpa ragu.


Tapi tidak dengan hari ini. Sejak tadi ia menggerutu kesal, sebab ia tak suka dengan orang yang mengabaikan janji temu. Orang tersebut seolah tak menghargai waktu. Bertindak sesukanya setiap kali berurusan dengannya begini.


"Delvano sialan! Dia pikir dia siapa, selalu saja seenaknya."


"Sebentar lagi mereka sampai, Tuan." ucap asisten Liam menenangkan.


Hubungan Delvano dan Liam memang semakin membaik, setelah sebelumnya seringakali bersitegang bahkan hingga salah paham.


Namun setelah Tuan dan Nyonya Mahawira selalu menyambut baik setiap kali Liam bertandang, mau tak mau Delvano jadi ikut terseret dengan kedektan antara orang tuanya dan juga Liam.


Belum lagi sikap Alana yang seolah hanya bisa menerima Liam saja sebagai teman. Alana akan bertindak seperti tak pernah terjadi apapun ketika sedang bersama Liam.


Dan akan kembali murung, saat Liam sudah kembali lagi ke tanah air.


Entah apa yang Alana rasakan. Yang pasti Delvano akan melakukan cara apapun, agar Alana sembuh dari traumanya dan kembali seperti semula.

__ADS_1


__ADS_2