Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Istri Bayangan


__ADS_3

"Semua CCTV sudah kami urus Boss."


"Hmm. Telusuri area basement dan bagian rumah sakit lainnya, pastikan tidak ada jejak yang tersisa!"


Pria tersebut mengangguk paham, kemudian pergi melaksanakan tugasnya setelah mendapat kode dari sang Boss.


Otak Delvano kembali berputar, masih ingat dengan jelas mengenai ancaman yang Liam layangkan beberapa waktu lalu.


Delvano tak menyangka pergerakan Liam secepat itu, hanya karna dirinya belum memutuskan untuk menerima kerjasama, atau menolak kemudian menjadi lawan. Dengan Tiara sebagai alasan.


"Huh! Sepertinya kau sudah tidak sabar ingin bertemu lagi denganku." desis Delvano lebih pada dirinya sendiri.


Dering ponsel di saku jas Delvano menyala, dengan segera ia merogoh benda tersebut, dan tertera nama 'Darren' di sana.


"Katakan!"


"Malam ini kita harus berkumpul di tempat biasa Boss, ada yang ingin ku sampaikan."


"Hem, kumpulkan semua anggota!" titah Delvano.


Darren mengiyakan titah sang Boss, sebelum mengakhiri pembicaraan, dan mematikan sambungan.


...*...


...*...


Sementara itu, Tiara sudah berada di jok penumpang, dengan Delvano yang akhirnya menyusul bersiap di jok kemudi.

__ADS_1


Keduanya lama terdiam, diliputi keheningan. Delvano mengerti, bahwa saat ini Tiara sedang dalam mood yang kurang baik. Ia memutuskan untuk menyalakan mesin mobil, dan meninggalkan rumah sakit.


Hampir 3 jam Delvano berkendara, kini ia memberhentikan mobilnya di sebuah tempat yang jauh dari pusat kota.


Semilir angin yang terasa menembus kulit, dipadu dengan debur ombak yang menenangkan rasa.


Tiara menggeliat kecil, matanya mulai mengerjap merasa terganggu dengan helaian rambutnya yang tertempa angin. Ternyata ia sempat terlelap, tak tau kemana kendaraan yang di tumpanginya melaju menentukan arah.


Delvano mengukir senyum, dengan pancaran mata yang penuh kekaguman. Rasanya sudah lama ia tak memandang wajah bangun tidur sang istri yang nampak menggemaskan.


Terkesan polos, namun seksi di waktu yang bersamaan.


"Kita di mana?" tanya Tiara dengan suaranya yang serak khas bangun tidur.


"Di tempat yang pastinya akan mengingatkan kita pada kenangan yang tak akan bisa dilupakan." sahut Delvano menyandarkan kepalanya pada setir mobil, dengan mata yang tetap fokus mengamati wajah Tiara.


Harusnya Tiara merasa tersanjung, namun entah kenapa ia tak merasakan itu. Hatinya masih terluka, meski ia akui semua yang terjadi diluar kendali sang suami.


Ia memalingkan wajahnya keluar jendela, melihat hamparan laut sejauh mata memandang. Membiarkan wajahnya di sapu angin pantai, seraya memejamkan mata. Hingga jatuhlah setetes air bening membasahi pipi mulusnya.


"Apa pertemuan kita adalah kesalahan?"


"Ku rasa hubungan kita terjalin di waktu yang salah, waktu itu kau menikahiku lantaran tak mengingat apapun." ujar Tiara dengan posisi yang sama.


Senyum yang sejak tadi terukir di wajah Delvano seketika memudar, rahangnya mulai mengeras di tandai dengan auranya yang tak bersahabat.


Delvano benci dengan kalimat yang baru saja ia dengar, merasa tak suka sebab keseriusan cintanya kembali di pertanyakan.

__ADS_1


"Berikan kejelasan pada hubungan kita. Aku tak ingin lagi menjadi istri bayanganmu, tempatku passive, ini tidak nyata,"


"Aku ikut denganmu tidak hanya bermodalkan cinta, tapi juga keyakinan akan janji yang pernah kau ucapkan." tutur Tiara mulai terisak lirih.


Dengan posisi yang masih membelakangi Delvano, ia merasa ini waktu yang tepat untuk mengutarakan segala yang mengganjal di dada.


"Hentikan!" ucap Delvano tak sanggup.


"Tidak! Kali ini saja, kumohon kali ini saja biarakan aku bicara." lirih Tiara dengan air mata yang semakin deras.


"Dokter bilang, tidak boleh ada satu orang pun memaksamu untuk mengingat semuanya. Karna itu bisa membahayakan kesehatanmu,"


"Tapi sampai kapan? Sampai kapan aku harus berada di situasi seperti ini? sedang kalian terlihat saling mencintai."


"Kau keliru, semua tidak seper..."


"Tapi kau sendiri menikmati kekeliruan yang kau sebutkan!" sanggah Tiara cepat.


Isakan kecil yang sejak tadi terdengar, kini berubah menjadi raungan yang mampu mengoyak relung terdalam Delvano.


Ia mulai membenci dirinya sendiri. Merasa tidak berguna dan malu pada Tiara yang sering ia gaungkan kata cinta.


Nyatanya Tiara selalu terluka, akibat dari kelemahannya sebagai pria.


Tapi sungguh! Tiara adalah satu-satunya wanita yang kini mengisi seluruh ruang di hatinya, Tiara benar-benar sosok istri yang sesungguhnya. Bukan istri bayangan, seperti yang Tiara sebutkan.


...*...

__ADS_1


...*...


Tbc...


__ADS_2