
"Katakan!"
"Ada masalah di mansion anda, Tuan"
"Maksudmu?"
"Si penguntit itu berusaha kabur, dan sepertinya ada orang lain yang hendak membantunya keluar, Tuan."
"Shittt!" Delvano begitu geram dengan laporan mengejutkan yang ia terima.
Bagaimana mungkin pria itu berpikir untuk kabur dari ruang bawa tanah mansion? itu tindakan yang terlalu berani. Kecuali ada orang dalam yang bekerjasama dengan penguntit itu.
Blam!
Dengan gerakan kasar Delvano membanting pintu mobilnya. Kemudian bergegas menjalankan kendaraannnya itu menuju mansion yang sebelumnya di tempati Tiara, di mana si penguntit ditahan di sana.
"Aku tau semuanya kak,"
"Dan aku merindukanmu." lirih Tiara yang kini berdiri di balkon kamarnya. Ia menatap sendu pada mobil milik Delvano yang semakin jauh keluar mansion.
Tiara memang terlihat lugu, tapi dia tidak sebodoh itu. Tentu dia mengerti akan situasi yang ada. Bahkan Tiara juga paham saat Elmira dengan sengaja memprofokasinya setelah wanita itu menyadari kehadirannya.
Tiara benar-benar hanya lewat karna memang setiap malam ia akan berjalan-jalan sendirian di mansion, sebelum akhirnya benar-benar mengantuk.
Meski hubungannya dengan sang suami sedang merenggang, namun kini ia tak begitu kesepian berada di sini. Semua pelayan sangat ramah dan baik terhadapnya. Terutama Nyonya Bellena yang akhir-akhir ini semakin intens memberi dukungan.
Nyonya besar itu tak hanya ramah, beliau juga menawarkan banyak hal pada Tiara. Seperti kembali melanjutkan sekolahnya, mengajarinya berias diri, bahkan tak jarang membawanya ke pertemuan-pertemuan para sosialita. Entah apa maksudnya, namun semua itu mampu mengobati rasa sepi yang Tiara rasakan.
Tiara menyeka deraian air mata, kemudian memejamkan mata sejenak. Rasanya ia tak pernah menyangka, hidupnya akan berjalan seperti ini. Ini diluar dugaan, pernikahan yang sebelumnya ia percaya akan baik-baik saja. Meski berbagai kekhawatiran kerap kali meliputi hatinya.
__ADS_1
...*...
...*...
"Selamat datang, Tuan!" seru para bodyguard ketika Delvano telah tiba.
Pria jangkung dengan pakaian serba hitam itu melangkah lebar memasuki mansion bagian belakang. Kemudian turun ke undakan tangga, memasuki lift khusus menuju ruang bawah tanah.
Ia melepas masker yang menutupi separuh wajah tampannya yang kini menampilkan raut dingin dengan sorot mata tajam.
"Dimana bajingaan itu?"
"Sebelah sana, Tuan!"
Salah satu bodyguard mengarahkan Delvano ke sebuah ruangan yang begitu gelap minim pencahayaan. Ruangan itu tampak lembab, menguarkan aroma yang kurang sedap.
"Le-lepaskan aku!" mohonnya setengah sadar.
"Sepertinya aku terlalu bermurah hati padamu!" ucap Delvano dengan suaranya yang datar, namun berhasil membuat siapapun yang mendengar bergidik ketakutan.
Dengan gerakan santai, ia melepas kedua sarung tangannya. Kemudian melangkah mendekati si penguntit. Delvano tersenyum smirk, kala netra elangnya menangkap kegusaran di raut pria yang kini masih kukuh menutup mulutnya. Dan...
Bugh!
Delvano memukul telak, hingga wajah pria tersebut tertoleh ke samping. Dengan daraah segar yang mengucur dari sudut bibirnya, menambah luka yang sebelumnya belum jua kering.
"Katakan semuanya, maka aku akan memberimu imbalan,"
"Imbalan yang kau sendiri tidak pernah sekalipun membayangkanya."
__ADS_1
Pria itu menatap sinis, ia berusaha bertahan dengan sisa keberanian yang ia punya. Mengetahui bahwa Delvano bisa melakukan apapun terhadapnya, membuat perasaannya semakin tak menentu sebab ketakutan kini merayapi hatinya.
"Memancingku dengan cara murahaan seperti itu, kau pikir aku tak mengerti? Cih!" ucap Delvano meremehkan.
Dengan perlahan namun pasti, Delvano semakin mengikis jarak mendekati si penguntit. Sampai akhirnya wajah Delvano berada persis di samping telinga pria itu.
"Aku punya dua pilihan,"
"Mana yang ingin kau temui lebih dulu? sepupumu, atau si pria tua itu?" pancing Delvano menyeringai.
Mata si penguntit itu terbelalak kaget. Bagaimana Delvano bisa mengetahuinya? Ia memang sengaja mengumpankan diri agar bisa menemui salah satunya. Si penguntit itu begitu yakin, bahwa kedua keluarganya sedang di manfaatkan oleh pria licik itu.
Ia jadi berfikir bahwa Ayah dan sepupunya juga sedang di perdaya di mansion ini.
Pria itu berontak. Kalimat bernada pancingan dari Delvano berhasil membuatnya murka.
"Apa yang kau lakukan pada mereka brengsek!?" teriaknya mengeluarkan amarah.
Delvano menarik diri, kemudian menatap tajam pada pria itu. "Kau mengkhawatirkan keluargamu? Setelah sekian lama meninggalkan mereka demi uang yang kau dapatkan dari bajingaan itu. Benarkah?"
"Kau sedang melucu?" sarkas Delvano.
Pria yang kini kesadarannya telah kembali sepenuhnya itu tertegun dengan ucapan yang keluar dari mulut Delvano. Ia semakin yakin bahwa CEO MHW Company itu adalah orang yang mengerikan. Bagaimana bisa Delvano mengetahui segalanya?
Ia memang dengan sengaja meninggalkan kehidupannya di desa karna mengikuti Tuannya, hingga semua orang menganggapnya telah tiada.
...*...
...*...
__ADS_1
Tbc...