
Waktu berlalu, hari pun berganti.
Mansion Delvano tampak sepi, sebab hanya diisi oleh para pelayan serta para penjaga saja. Berbeda dengan bagian mansion yang berada di ruang bawah tanah, penjagaan di sana diperketat lantaran Nako dan para anggota bodyguardnya tak ingin lagi kecolongan.
Terutama di ruang eksekusi.
Dimana para penyerang yang sebelumnya diringkus paksa, kini dimasukkan ke tempat yang dingin, gelap serta menguarkan bau menyengat.
Pak Aris dengan setia menemani sang putra yang masih berbaring lemah di rumah sakit MHW Hospital, milik keluarga Mahawira.
Sedang di tempat lainnya.
Tiara kembali menjalani aktifitas seperti biasa, ia sangat senang sebab akhir-akhir ini Delvano benar-benar membuktikan ucapannya.
Wanita berparas lugu itu bersikap seperti biasa, seolah ia tak mengalami kejadian mengerikan apapun sebab ketakutan itu teralihkan oleh sikap manis Delvano.
Ia tak lagi di acuhkan seperti sebelumnya, sang suami kembali memperlakukannya seperti biasa meski itu di depan Elmira sekalipun.
Tentu hal tersebut membuat Nyonya Muda Mahawira itu semakin menunjukan kebenciannya secara terang-terangan terhadap Tiara.
Delvano memutuskan untuk tak lagi menutupi rahasia yang sebenarnya sudah diketahui banyak orang. Ia akan dengan bangga menggandeng wanita yang di cintainya itu dihadapan semuanya.
Hanya saja, Delvano belum bisa memperkenalkan Tiara secara resmi pada publik. Sebab status yang disandang Tiara saat ini hanya akan menjadikan wanita itu bahan gunjingan belaka.
"Kau yakin tak ingin ku antar sayang?" tanya Delvano seraya merapikan anak rambut sang istri.
Keduanya tengah berpelukan. Pagi ini Tiara bertingkah manja padanya dengan membelitkan tangan ke pinggang Delvano, Tiara seperti anak kecil yang sedang ketakutan ditinggal sang ibu berbelanja ke pasar. Ia terus menempel, dengan wajah yang menengadah menatap sang suami yang jauh lebih tinggi darinya.
"Hem, tidak. Aku akan berangakt dengan mobilku saja." sahut Tiara mengerlingkan matanya.
Delvano begitu gemas, dengan tingkah sang istri yang seolah sedang menggodanya.
Dua hari lalu, Delvano sengaja membeli mobil MPV mewah jenis Lexus LM yang berkisar 3 Milliar lebih untuk istri tercintanya.
Bukan tanpa alasan CEO tampan itu memberikan kendaraan baru, mobil yang sebelumnya Tiara pakai remuk tak bersisa akibat ulah para penyerang tempo hari.
Delvano juga ingin sang istri bisa lebih nyaman, ketika ingin bepergian seperti sekarang. Namun tentunya tetap memakai jasa supir, serta pengawalan khusus.
__ADS_1
Rencananya, siang ini Tiara akan menjenguk Aryan di rumah sakit. Ini kedua kalinya ia melakukan kunjungan.
Sama seperti Pak Aris, Tiara pun begitu terkejut dengan kenyataan bahwa Aryan masih hidup. Terlebih, alasan dibalik kejadian yang membuat semua orang mengira kematian Aryan adalah nyata.
...*...
...*...
"Sayang, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Tiara manja.
"Katakan, apa yang ingin kau ketahui. Aku akan menjawab sebisaku." jawab Delvano sambil sesekali mencuri ciuman singkat dari bibir ranum Tiara.
"Bagaimanana aku mau bertanya sayang, sedangkan kau terus menggangguku." dumel Tiara disertai mulut yang mengerucut.
Delvano tergelak lucu, sampai ia mencubit gemas pipi sang istri.
"Baiklah. Satu pertanyaan, satu ciuman." ucap Delvano, tersenyum nakal.
Bibir mungil Tiara semakin mengerucut, ia memukul manja dada bidang Delvano, merasa malu lantaran digoda seperti ini.
"Ahh... Sakit sayang." keluh Delvano seraya menahan tangan Tiara.
"Aku seriuuus." rengek Tiara diiringi tawanya renyahnya.
"Oke, aku akan dengarkan." ucap Delvano pada akhirnya.
"Bagaimana kau bisa mengetahui semua mengenai kak Aryan, sayang? Bukankah peristiwa itu sudah lama terjadi?"
Delvano menipiskan bibirnya, lantas menabrakkan hidungnya dan hidung Tiara sekilas.
"Karna koneksiku ada di mana-mana, aku bisa menjangkau informasi apapun yang ku inginkan."
'Termasuk manusia-manusia licik itu' monolog Delvano dalam hati.
Belum puas sampai di situ, Tiara kembali mengajukan pertanyaan.
"Kenapa tidak kau laporkan saja orang-orang jahat itu ke pihak berwajib? Supaya mereka jera, dan tidak mengganggu hidupmu lagi sayang."
__ADS_1
Delvano tak langsung menjawab, ia tersenyum miring mendengar pertanyaan polos sang istri.
"Kau lupa siapa aku, hem?"
"Kau suami tampanku..."
"Dan?" potong Delvano.
"Suami kaya ku. Dan aku dengan senang hati akan menguras hartamu."
Gelak tawa Delvano menggema ke seisi ruang kamar, Tiara selalu mampu membuatnya tertawa lepas begini, menyingkirkan beban berat yang selama ini ia emban.
Bagaiamana perempuan lembut itu akan melakukannya? sedang black card yang selama ini ia serahkan saja tak pernah dipakainya.
Tawa Delvano mereda, setelah ia melihat gelagat kesal dari wajah Tiara. Ia berdehem pelan, menyesuaikan suaranya.
"Aku tak akan melakukan hal konyol itu Ara, karna kekuasaanku jauh lebih bisa ku andalkan, dari pada menyerahkan permasalahanku pada pihak terkait,"
Tiara hanya mengangguk saja, meski ia sama sekali tidak memahami cara hidup para konglomerat seperti keluarga suaminya.
Wanita itu tak tau saja, jika permasalahan internal keluarga tersohor itu mencuat ke muka publik, yang ada hanya akan jadi topik panas utama, menjadi bahan pembicaraan orang-orang tak bertanggung jawab, bahkan jadi bulan-bulanan para pesaing bisnis Delvano.
Tidak akan ada penyelesaian berarti, seperti yang seharusnya dilakukan para petugas negeri tersebut.
"Sudah, aku harus segera pergi. Nako telah menungguku."
Delvano merapatkan pelukan mereka yang sejak tadi terus berlangsung, ia ingin menuntaskan keinginannya yang sejak tadi bersemayam.
Cup!
Ciumaan lembut itu ia berikan pada bibir indah Tiara, yang dengan syahdunya menyambut baik sang pemilik segala rasa.
Keduanya terus hanyut dalam belenggu cinta, serta kerinduan yang selama ini mereka sembunyikan.
Setelahnya, Delvano berpamitan keluar kamar. Meninggalkan Tiara yang menatap sendu punggung kokoh milik sang suami.
Rasa ini sudah begitu dalam, menyebar menyeluruh ke seisi ruang hati. Meski hubungannya dan Delvano sudah kembali ke semula, namun Tiara tak ingin lagi jatuh terlalu dalam pada harapan semu yang seringkali ia alami.
__ADS_1
"Jika suatu saat nanti kau tak lagi bisa menjaga cintaku, maka aku harus melindungi hati, dan juga perasaanku sendiri. Karna aku tak ingin lagi merasa kecewa untuk kedua kali."