Mutiara Di Desa Nelayan

Mutiara Di Desa Nelayan
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Deretan mobil mewah milik para petinggi itu berjejer rapi di parkiran yang tersedia di depan gedung megah dengan tinggi menjulang.


Para awak media sudah standby dengan camera menggunakan lensa terbaiknya.


Hari ini, rapat penting mengenai pemegang saham akan segera di umumkan setelah hasil akhir yang mengecewakan beberapa pihak tersebut.


MHW Company tetap tak bisa menggantikan posisi penting itu pada sembarang orang, sebelum adanya kejelasan kabar dari sang Big Boss, mereka tak akan mengambil keputusan tanpa adanya persetujuan langsung dari yang bersangkutan.


"Sampai kapan kita harus menunggu!!! Ha!!, ini perusahaan besar, para pemegang saham tak mungkin terus bergantung tanpa adanya Pimpinan!!." Bentak salah seorang pria baya di ujung kursi sana.


Beberapa orang mengangguk setuju, namun tak sedikit juga yang menggeleng tanda tak suka.


Seperti yang pria itu katakan, ini adalah perusahaan besar. Lalu apa yang di takutkan, kalau hanya ketidak hadiran Big Boss di beberapa rapat besar, mereka masih bisa menghandlenya.


MHW Company tidak akan goyah sedikitpun hanya karna gangguan kecil, beberapa orang kepercayaan sang Big Boss tentu tidak akan tinggal diam dengan ancaman remeh para pesaing bisnis.


"Kau tidak sedang memanfaatkan keadaan kan Tuan?, Big Boss tidak harus muncul di setiap rapat para petinggi, kalau hanya masalah pengambilan keputusan, lalu apa gunanya kami sebagai orang-orang kepercayaan?!." Jawab pria itu santai.


Pria baya itu menghembuskan nafasnya kasar, ia kalah telak. Nafasnya memburu, dadanya naik turun dengan gigi yang gemerutuk.


Brakk!!..


Semua orang yang didalam ruangan terlonjak kaget, lantaran pria baya tersebut melempar map tebal ke atas meja rapat memanjang itu.


"Kalau begitu kau urus sendiri para wartawan diluaran sana!!!." Ia melonggarkan dasinya, kemudian beranjak dan pergi dari ruangan.


...****...


"Ini sudah hampir 5 bulan Gunz, apa kau tidak bisa turun langsung mencari putraku?." lirih wanita itu lemah, di usia senjanya saat ini ia sudah sakit-sakitan ditambah hilangnya sang anak tercinta menambah beban pikirannya.


Berita yang simpang siur di media sana sudah sangat kacau dengan timeline yang tak terbendung, tidak hanya di beritakan hilang saja, berita kematian pun terpampang jelas di sebagian berita sana.


Hati Ibu mana yang tak teriris sembilu melihat pemberitaan yang jauh dari kebenaran, ia masih percaya bahwa sang anak masih hidup, tak mungkin pergi begitu saja meninggalkannya.


Lalu bagaimana mungkin orang- orang bisa mengatakan putranya sudah meninggal sedang hingga saat ini jenazahnya saja tak ia temukan.

__ADS_1


"Aku dan orang-orang suruhanku sudah berusaha semaksimal mungkin Belena, kau pikir selama ini aku diam dan tak melakukan apapun?, huh!." tutur pria tua itu tegas, ia sudah begitu renta. Bahkan berjalan saja sudah harus menggunakan tongkat.


Tidak hanya sang istri, ia pun sama sedihnya. Bagaimana mungkin ia baik-baik saja, sedang diluar sana ia tak tau dimana keberadaan anak tercintanya.


"Kenapa dia harus nekad pergi mendatangi undangan bisnis itu, apa tingkat kepekaan anak kurang ajar itu sudah menipis." pandangan mata pria itu kosong, menerawang jauh. Ia menyenderkan tubuh rentanya ke kursi kemudian menatap sang istri yang juga duduk di sampingnya.


"Kau harus selalu menguatkan hatimu Belena." ucapnya sendu.


Ibu Belena tak menjawab, ia menatap sendu jalanan ibu kota yang ramai dan bising dengan kendaraan yang berlalu lalang, namun hatinya terasa kosong dan dingin.


Kendaraan mewah itu terus melaju, menerobos jalanan ibu kota dibawa oleh sang supir yang selalu setia mengantarkan kemanapun tujuan sang tuan.


...*****...


Gadis cantik dengan sorot mata teduh itu masih setia berdiri menatap luasnya lautan yang ada di hadapannya. Dia melamun, mencoba mencerna satu kalimat yang beberapa waktu lalu terus mengganggu pikirannya.


"Jadilah milikku Mutiara Anandhita."


Tiara ingin meminta penjelasan, ingin meminta jawaban atas rasa penasarannya yang kini membuncah.


Semua masih tergambar jelas dalam ingatan Tiara, tapi.. Apa Aryan juga mengalami hal serupa?, karna setelah kejadian itu Aryan terlihat biasa saja, tidak sepertinya yang selalu gugup setiap mereka berdekatan.


Tiara juga masih memikirkan kejadian dimana Hanna duduk dengan mesra dipangkuan Aryan kala itu. Haruskah ia juga meminta penjelasan mengenai hal itu?. Tapi bagaimana?.


"Kenapa melamun?,hmm?." bisik Aryan di telinga Tiara. Tiba-tiba pria itu memeluk Tiara dari belakang.


Sontak gadis itu terkejut, namun setelah mengetahui bahwa itu adalah Aryan, tubuhnya kembali rileks. Entahlah, Tiara selalu merasa nyaman saat berdekatan dengan pria yang memiliki dada bidang itu, terasa hangat, dan wangi khas tubuh Aryan yang menenangkan.


"Tidak ada, aku hanya sedang merindukan kedua otangtuaku." Jawab Tiara tak sepenuhnya bohong. Ya, terlalu banyak hal yang ia pikirkan, membuatnya merindukan sosok Ibu yang seharusnya bisa memberi kekuatan disaat ia tengah bimbang dan risau.


Tapi, menjadi anak yatim piatu membuatnya terpaksa harus menghadapi segala hal seorang diri.


"Kau bisa bercerita padaku Ara. Jangan pendam apapun seorang diri, Kau adalah milikku, bagian dariku." tutur Aryan lembut, ia mengeratkan belitan tangannya di perut Tiara, mendekap gadis itu dengan penuh perasaan.


"Siapa saja yang sudah mendengar kata-kata manis itu dari mulutmu Kak?." ketus Tiara tanpa sadar.

__ADS_1


Satu alis Aryan terangkat tajam, rahangnya mengeras, ia tak suka.


Berani sekali gadis itu mengatakan hal demikian padanya. Tidak taukah Tiara, dada Aryan bahkan bergemuruh hebat saat mengucapkan kalimat itu.


Aryan menggigit caping telinga Tiara dengan gemas, lantaran tak terima dengan tuduhan yang keluar dari bibir manis gadis itu.


Sontak Tiara menjerit, menoleh cepat pada Aryan. "Aaaa!!. Kak Aryan!, ihh!." rengeknya.


Ia menarik diri, mencoba keluar dari belitan tangan kokoh berurat itu. Namun tentu hal itu sia-sia, sebab tenaganya kalah jauh dari pria bertubuh kekar itu.


"Katakan sekali lagi! Akan ku sumpal mulutmu dengan milikku!." seloroh Aryan. Ia membalikkan tubuh Tiara, agar menghadapnya.


Mata Tiara sontak membulat sempurna, namun pipi merah yang sudah seperti tomat itu tampak menggemaskan bagi Aryan.


Oh!, gadis itu mengerti maksud perkataannya?.


"Kenapa?, kau ingin mencobanya?." ucapnya serak, ia semakin merapatkan tubuhnya, berharap Tiara bisa menemukan bukti dari ucapannya.


Sungguh Aryan tak dapat mengontrol perasaannya, gadis itu selalu berhasil menghancurkan logikanya. Pesona Tiara mampu mengikat hati dan jiwanya, hingga ia tak bisa berpaling sedikitpun.


"Pasti Hanna juga salah satu dari bagianmu kan Kak?!." cicit Tiara tak terduga, gadis itu terlihat tak fokus, pandangan matanya liar mencari aman. Rupanya Tiara tak sanggup jika harus bersitatap dengan iris mata tajam itu.


Aryan menggigit bibir bawahnya dengan gemas. Inilah yang ia tunggu-tunggu, mendengar langsung kalimat bernada cemburu dari gadis itu, sangat menyenangkan.


"Kenapa dengan Hanna?." ucapnya menggoda, ia kembali menggigit bibirnya, seraya tersenyum dan menatap lekat-lekat wajah Tiara yang kini semakin merah.


Hatinya berbunga, ingin rasanya ia teriak! Kemudian mengungkapkan isi hati yang semakin menyeruak di dada.


"Entahlah, tapi aku melihat semuanya. Dia sangat menyukaimu Kak." Dada Tiara terasa sesak saat mengucapkannya, ia takut mendengar hal yang tak bisa ia tangani nantinya, bagaimana kalau ternyata Aryan juga menyukai gadis itu.


"Tapi aku mencintaimu." ucap Aryan tegas. Tak ada keraguan sedikitpun dari ucapannya.


Degg!..


"Aku mencintaimu Ara."

__ADS_1


...Tbc......


__ADS_2